Jelajah Mekah-Madinah

Destinasi Menarik Yang Tak Dilirik

Ketika berada di Mekah dan Madinah di sela melaksanakan umrah atau haji, jamaah bisa menyelipkan acara jalan-jalan ke sejumlah destinasi menarik yang selama ini kurang dilirik jamaah. Jadikan itu pilihan lain di luar tempat-tempat favorit dalam daftar tujuan citytour.  

Jelajahi lebih banyak lagi tempat menarik di Mekah dan Madinah. Anda yang sedang berumrah atau melaksanakan haji silakan mengagendakan kunjungan ke destinasi “baru” yang selama ini luput dari perhatian kebanyakan jamaah.

Tujuan citytour favorit kota Madinah, untuk kategori “ziarah luar” menurut istilah beberapa travel, tentu saja adalah Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Jabal Uhud, kebun kurma, dan percetakan Mushaf Al Qur’an. Jika grup jamaah hanya punya waktu terbatas, biasanya bus rombongan cukup melintas saja di Jabal Uhud atau Masjid Qiblatain. Jadi jamaah tidak turun dari kendaraan, cukup mengintip dari balik jendela bus, sembari mendengar cerita dari sang muthawif.

Salah satu destinasi favorit adalah 

Mushaf Al Qur’an di kompleks Malik Fahd, Madinah.

Aturan yang berlaku, hanya kaum pria yang dibolehkan masuk, sedangkan perempuan dilarang.  Setelah membuntuti antrean pengunjung yang lumayan panjang—terlebih lagi pada musim haji—kita akan  diarahkan menuju balkon. Dari sini kita bisa mengamati proses pencetakan AlQur’an, dengan terjemahan beragam bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Selesai tur setiap peserta diberi gratis satu kitab AlQur’an.

Jika masih menyisakan waktu luang di Kota Rasulullah, tentunya setelah  memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi, Anda bisa bertandang ke Jabal (Gunung) Magnet, perkebunan kurma skala besar di daerah Mantiqah Baidha sebelum batas tanah haram, atau mengunjungi Museum Madinah.

Mengunjungi Jabal Magnet yang terletak 30 km ke arah Tabuk dari kota Madinah dapat menjadi pengalaman baru guna membuktikan benar tidaknya kawasan ini adalah medan magnet. Laju bus atau kendaraan yang melewati areal ini dapat tertahan, juga terdorong hingga kecepatan 130 km/jam dalam posisi gigi persneling netral. Kawasan ini dikelilingi gunung-gunung batu cadas.

Pemerintah Saudi membangun jalan raya yang sangat lebar agar setiap mobil dan pengunjungnya bisa leluasa “berselancar” di medan magnet. Sementara di bagian ujung dibuat jalan melingkar untuk putaran ketika pengaruh medan magnet sudah lemah. Di kedua sisi jalan sudah dibangun tenda-tenda untuk pengunjung.  

Tak jauh dari Jabal Magnet terdapat peternakan domba, unta, dan  kebun kurma berskala luas yang sedikit menghijaukan Mantiqah Baidha. Tapi, jika ingin menyaksikan bazar kurma terbesar di Saudi, datanglah ke festival tahunan kurma di Buraidah Qasim, berlangsung hingga dua bulan. Festival biasanya dimulai pada bulan Ramadan setiap tahun.

Masih di Madinah, ada  Museum Madinah Al-Munawwarah yang menempati bangunan stasiun kereta api, yaitu di lapangan gerbang Anbariya, tepatnya jalan keluar kota menuju Mekah lewat Dzulkhulaifah (Bir Ali). Tujuan museum yang berdiri tahun 1999 ini untuk melestarikan warisan dan benda-benda purbakala di kawasan Madinah. Terdapat artefak dan benda-benda seni dari berbagai era berbeda, seperti tembikar, peralatan rumah tangga, perhiasan, dan foto.

Stasiun KA Madinah menjadi saksi bisu megaproyek jaringan kereta api    Hejaz Railway yang menghubungkan Damaskus (Suriah)-Amman (Yordania)-Madinah (Saudi) yang dibangun semasa pemerintahan Usmaniyah Turki (era Sultan Abdul Hamid II).  Jalur KA yang kali pertama dioperasikan tahun 1912 ini untuk mempermudah pelayanan jamaah haji. Sayangnya, semasa revolusi Arab jaringan rel KA ini rusak dan tidak terbangun kembali hingga sekarang. Era transportasi udara sejak dekade 1970-an turut menamatkan riwayat Hejaz Railway.

 

Museum Kabah

Giliran di Mekah, ada sejumlah tujuan favorit jamaah, seperti Jabal Tsur, Jabal Nur, Jabal Rahmah, Arafah-Musdhalifah-Mina (Armina), dan peternakan unta di kawasan Hudaibiyah, jalan raya Mekah-Jeddah. Biasanya waktu  kunjungan terlama di Jabal Rahmah dan peternakan unta.  Adapun di tempat-tempat lain, bus rombongan jamaah hanya melintas.

 

GoMuslim/dns

PABRIK KISWAH: proses produksi kain kiswah di Pabrik Kiswah di pinggiran kota Mekah.

 

Tentu Anda ingin menyimpan lebih banyak memori di Kota Suci, dan saatnya Anda bertandang ke beberapa destinasi wisata berikut. Sebut saja pabrik Kiswah, Museum Ka’bah, dan Masjid Hudaibiyah. Di belakang masjid Hudaibiyah—tempat patokan (miqat) untuk niat melaksanakan haji/umrah—terdapat reruntuhan masjid kuno yang jadi saksi Perjanjian Hudaibiyah antara Rasulullah dan Quraisy tahun 6 Hijriah.

Ada satu destinasi wisata di Mekah yang kurang dikenal oleh jamaah haji-umrah dari Indonesia, yakni Museum Ka’bah. Letaknya berdampingan dengan pabrik kiswah, kain selubung Ka’bah berwarna hitam dikelilingi hiasan kaligrafi ayat-ayat suci Al Qur’an yang terbuat dari sulaman benang emas.  

Maklum, kendati terbuka bagi umum tapi untuk masuk ke pabrik kiswah dan Museum Ka’bah mesti mengantongi surat izin kunjungan yang diterbitkan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi di Jeddah. Pabrik kiswah di kawasan Jiyad, Mekah ini kali pertama memproduksi kiswah tahun 1931  hingga sekarang. Sebelumnya, Saudi mendapat pasokan kain kiswah dari Raja Farouq I Mesir yang dikirim lewat perjalanan darat pakai mahmal, tandu berhiaskan indah. 

Praktis dalam setahun pabrik hanya mengerjakan satu buah kiswah, yang digarap oleh para pekerja pria yang begitu terampil merajut benang emas hingga sangat rapi. Proses perajutan butuh waktu empat bulan, namun untuk penyelesaian satu kiswah perlu waktu satu tahun. Pabrik ini bekerja dengan teknologi komputer, dari proses pemintalan benang hingga menjadi kain kiswah. Setiap tanggal 9 Dzulhijjah, ketika jamaah haji sedang wukuf di Arafah, kiswah lama Ka’bah harus diganti dengan kiswah yang baru. Adapun kiswah yang bekas dipakai akan dipotong-potong, lalu dibagikan kepada para pemimpin negara, yakni raja-raja atau presiden.

Di Museum Ka’bah terdapat benda-benda historis tentang Ka’bah, yakni  komponen Ka’bah zaman dahulu, seperti tangga, pintu-pintu, kunci, tiang penyangga, kiswah (kain penutup) yang terdiri atas kain luar berwarna hitam dan dalam berwarna hijau, juga benda logam pelindung Hajar Aswad berupa lempengan berbentuk oval.

Ada pula pemintal kain kiswah, sumur zamzam tempo dulu, kantong air yang terbuat dari kulit, beberapa batu dengan pahatan tulisan arab, manuskrip, serta Al-quran tulisan tangan dari zaman ke zaman. Juga dipamerkan tiang bekas penyangga ruang dalam Ka’bah setinggi kurang lebih 14 meter, dan tangga Ka’bah terbuat dari kayu berusia lebih dari 400 tahun. Saatnya menjelajah sudut-sudut Mekah guna memperkaya khazanah wisata religi di Kota Suci. (dns)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top