Exploring Jordania (2)

Petra, Kota yang Dibangun dari Pahatan Batu

Batu cadas yang keras menggunung tinggi, rasanya sulit untuk dijadikan bangunan. Namun hal itu terbantahkan dengan adanya kota yang dibangun dengan cara memahat batu sehingga menjadi bangunan yang megah. Bangunan kota yang luar biasa itu menjadi bagian sejarah peradaban dan kebudayaan manusia. Kota yang luar biasa menakjubkan tersebut dikenal dengan sebutan Petra yang diambil dari bahasa Yunani yang artinya adalah batu. Petra juga merupakan situs arkeologi yang sangat menakjubkan.

Situs arkeologi ini terletak di kawasan lembah Wadi Musa  Propinsi Ma’an, sekitar 200 kilometer di bagian Selatan Amman, Yordania. Kota Petra merupakan ibukota kerajaan Nabatean pada era sebelum Masehi. Hal yang menonjol dari tempat ini adalah bangunan yang berasal dari batuan keras yang dipahat serta sistem pengarian yang sudah menggunakan teknologi hidrolik yang saat itu terbilang sangat canggih. Pada area Petra terdapat gunung setinggi 1.350 meter dari permukaan laut. Gunung tersebut dinamai  Gunung Harun (Jabal Harun) yang disinyalir bahwa Nabi Musa a.s. telah memakamkan sahabatnya Nabi Harun a.s. di gunung ini.

Situs bersejarah yang menakjubkan itu pernah dinyatakan hilang, itulah sebabnya Petra disebut sebagai The Lost City (kota yang hilang). Ketika Romawi menguasai Petra pada 106 M, kota ini perlahan menghilang. Setelah sekian lama tidak diketahui, pada 22 Agustus 1812, Johann Ludwig Burckhardt, pria asal Basel, Swiss, melakukan penjelajahan dari Aleppo dengan menyusuri lorong sempit hendak menuju Damaskus dan Kairo. Ketika itulah ia menemukan Petra yang tersembunyi diantara tebing-tebing batu, saat itu usianya masih 27 tahun.

Suku Nabatean disinyalir sebagai suku yang membangun Petra, dapat pula dikatakan sebagai suku yang maju dalam bidang arsitektur dan konstruksi. Hal ini dibuktikan dengan adanya sistem pengairan yang luar biasa maju pada masa itu. Mereka membangun terowongan air dan bilik air yang menyalurkan air bersih ke kota, selain itu terowongan air yang dibangun itu berfungsi mencegah banjir yang datang secara tiba-tiba. Mereka juga telah menerapkan teknologi hidrolik untuk mengangkat air.

Jika Anda dapat memasuki kawasan Petra, Anda akan dibuat takjub dengan jejeran batu yang terpahat menjadi bangunan. Boleh jadi Anda akan berpikir bagaimana proses pembangunannya, karena kota ini didirikan dengan menggali dan mengukir cadas setinggi 40 meter. Ternyata peristiwa pemahatan batu yang bertujuan untuk dijadikan bangunan, telah tertulis di dalam Al-Quran, “Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin.” (Q.S. Asy-syuaraa: 149).

petra

Saat Anda berkunjung ke Petra, jangan melewatkan setiap sudut dari bangunan itu, karena di sana tidak hanya terdapat bangunan megah yang menjualang melainkan ada pula makam para raja, reruntuhan gedung teater yang diperkirakan mampu menampung hingga 4.000 penonton, taman-taman dan fasilitas publik lainnya.

Jika Anda hendak berkunjung ke situs ini, setelah tiba di Bandara Internasional Queen Alia, Yordania. Anda dapat menuju Terminal Bus Aman dan di sana telah tersedia kendaraan khusus menuju Petra.  Setibanya di Petra Anda diharuskan membeli tiket seharga 50 JD (Dolar Yordania)  atau sekitar Rp 942,000,-. Setelah membayar tiket, Anda diperbolehkan menuju gerbang utama Petra dengan mengendarai kuda menuju salah satu bangunan utama di kawasan Petra. Kemudian anda dapat berjalan menyusuri bongkahan batu-batu besar yang berada di sisi kiri dan kanan bangunan utama, Petra Treasury. Saat itulah mata Anda akan dimanjakan dengan indahnya bangunan klasik yang megah dan kokoh itu.

Petra merupakan destinasi wisata yang tak pernah sepi dari pengunjung. Sejak 6 Desember 1985, Petra dipilih oleh majalah Smithsonian sebagai salah satu dari 28 tempat yang harus dikunjungi sebelum meninggal dunia, kemudian pada tahun 2007 Petra ditetapkan sebagai salah satu keajaiban dunia. (FH)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top