Facing Ramadhan (3)

Ribuan Tahun 'Wong Kito' Sambut Bulan Suci dengan Ziarah Besar

 

Palembang, (gomuslim). Jika di Aceh dan Sumatera Barat menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan dengan ‘makan sitimewa’, maka umat Islam di Palembang Sumatera Selatan justru melakukan ‘targhib’ Ramadhan dengan ‘ziarah besar’ ke makam sejumlah ulama dan habaib yang berjasa dalam syiar Islam di Bumi Sriwijaya itu.

Kegiatan ziarah orang tua dan guru-guru serta ulama itu dilakukan masyarakat Palembang sejak sepuluh hari sebelum Ramadhan dan akan diakhiri dengan sebuah perayaan besar atau ‘ziarah kubra’ 'wong kito' pada hari terakhir bulan Sya’ban atau sehari sebelum Ramadhan datang. Di Palembang memang berkumpul bermacam etnis besar yang terlingkupi dalam tradisi Islam yang kuat. Ada Melayu, Jawa, Arab, India dan Cina. Kata Wong yang berarti 'orang' jelas sebuah kata berasal dari bahasa Jawa. Adapun kata Palembang yang langsung merujuk nama tempat memiliki sejarah yang diambil berdasarkan kronik Tiongkok, yakni kata Pa-lin-fong yang terdapat pada buku Chu-fan-chi yang ditulis pada tahun 1178 oleh Chou-Ju-Kua yang merujuk pada Palembang.

 

 

Dalam penelusuran muasal terjadinya tradisi menyambut Ramadhan dengan 'ziarah kubra' ini dilakukan oleh para ‘alawiyyin’ atau ‘habaib’ (pendakwah keturunan Arab dari garis keturunan Sayyidina Hasan dan Hussein) yang bermukim di Palembang. Jumlah mereka memang banyak dan beranak pinak di kota Palembang sejak ratusan tahun lalu, ketika Kerajaan Sriwijaya membuka kontak dagang dengan India dan Arab. Ketika Majapahit runtuh, lalu berdiri kerajaan Islam Demak Bintoro, raja pertamanya adalah Raden Fattah, keturunan Brawijaya V dari Ibu yang seorang muslimah dari Palembang.

Sejak ratusan tahun dari masa sejak sebelum kemerdekaan hingga 15 tahun terakhir kegiatan ini kemudian lebih semarak karena keterlibatan masyarakat semakin massif. Pemerintah setempat juga memfasilitasi kegiatan penyambutan Ramadhan ini sebagai bagian dari kekayaan lokal di Sumatera Selatan. Bahkan belakangan dikemas dalam paket wisata budaya-religi.

Perkembangan zaman dari tahun ke tahun ‘ziarah kubra’ makin menarik perhatian publik karena dihadiri ulama, habaib dan keturunan mereka yang sudah menyebar dan menjadi tokoh-tokoh di berbagai daerah di Indonesia, terutama dari Pulau Sumatera, Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan, NTB dan Sulawesi. Tradisi ziarah sebelum Ramadhan ini juga melibatkan keluarga Kesultanan Palembang Darussalam mengingat jalinan hubungan kekeluargaan kaum alawiyyin dengan para sultan di Kesultanan Palembang Darussalam.

Banyak yang menilai, ini merupakan tradisi untuk meneladani pendahulu dari ‘salafunasshaleh’ yang unik dan patut untuk disebarluaskan keberadaannya demi menambah khazanah pengetahuan dan Kebudayaan Islam di Nusantara dan dunia.

Dalam mengawali ‘ziarah kubra’, ribuan jemaah berzikir dan melafadzkan asma Allah, kemudian dilanjutkan ziarah ke makam Al-Habib Ahmad bin Syeikh Shahab, salah seorang pendakwah yang dianggap ‘sesepuh’ bagi kalangan da’i di Bumi Sriwijaya. Perjalanan ziarah dilakukan dengan berjalan kaki dengan disemarakkan tetabuan marawis dan untaian qasidah. Bendera dan umbul-umbul bertuliskan kalimat tauhid, asmaul husna dan asmaun nabi juga dikibar-kibarkan.

Di pemakaman Al-Habib Ahmad bin Syeikh Shahab inilah sebagian besar ulama dan habaib Palembang dimakamkan. Khususnya yang berdomisili di Seberang Ilir. Selain itu, makam ulama dan waliyullah diantaranya Al-Habib Abdullah bin Idrus Shahab (ayah Al-Habib Alwi Qolbu Tarim, Hadhramaut), Al-Habib Umar bin Hud As-Seggaf, Al-Habib Ali bin Alwi Shahab, Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Al-Bin Hamid, Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Al-Musawa.

Ziarah lanjutan ke kepemakaman Auliya dan Habaib Seberang Ulu Telaga Sewidak dan Babus Salam As Seggaf. Kemudian ke al-Faqihil Muqaddam Tsani Al Imam Abdurraan As Seggaf 10 Ilir Sei Bayas Palembang. Berikutnya ke  menempuh rute dari kediaman Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Habsyi yang terletak di Kampung Karang Panjang (BBC) 12 Ulu Palembang. Melintasi situs perkampungan Alawiyyin Al Munawwar, nama perkampungan Al-Munawwar dinisbahkan kepada Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Munawwar, seorang ulama yang berjasa besar dalam perkembangan dakwah di Kota Palembang. Salah seorang keturunannya pernah menjadi menteri agama pada masa Presiden Megawati.

 

 

Adapun untuk puncak acara dilakukan di pemakaman Al-Habib Pangeran Syarif Ali Bsa pemakaman Kesultanan dan Auliyah kawah tengkurep dan Auliya dan Habaib Kambang Koci. Di pemakaman Al-Habib Ali Bsa dilakukan acara yasinan dan tahlilan lalu diisi taushiyah atau pesan singkat tentang pentingnya mengingat kematian dengan cara meningkatkan iman dan amal shaleh selagi masih hidup. Bahkan manusia yang sudah wafat, jika diberi kesempatan hidup lagi, maka yang dilakukan adalah meluruskan iman dan amal.

Acara ditutup dengan makan bersama. Biasanya hingga seratusan kambing disembelih untuk acara menyambut Ramadhan ini. Ziarah Kubra, mengingat kematian dengan meningkatkan iman dan amal shaleh sangat tepat karena bertemu bulan suci sehari berikutnya. Peringatan bertemu momentum tepat untuk usaha perbaikan iman dan amal. Demikianlah kearifan lokal itu dilaksanakan turun temurun dari generasi ke generasi. (mm)

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top