Wisata Halal Aceh (2)

Masjid Raya Baiturrahman, Rumah Ibadah yang Tak Dapat Dirobohkan Terjangan Tsunami

(gomuslim). Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam banyak menyimpan destinasi menarik, tidak hanya keindahan alamnya saja, bangunan tua khususnya masjid bersejarah terdapat di provinsi yang dijuluki serambi Mekkah ini. Di antara masjid-masjid yang banyak menyimpan sejarah adalah Masjid Raya Baiturrahman yang makin dikenal dunia pasca peristiwa tsunami.

Peristiwa pilu belasan tahun yang silam itu terjadi pada 26 Desember 2004. Ratusan ribu manusia meninggal diterjang hempasan tsunami. Bangunan yang berdiri kokoh pun luluh lantak akibat terjangan luapan air laut yang dahsyat pada saat itu. Namun pasca tsunami, hampir seluruh mata tertuju pada satu bangunan yang tetap berdiri di tengah reruntuhan puing-puing yang telah rata dengan tanah. Bangunan itu adalah sebuah masjid yang telah berumur ratusan tahun, bahkan tekanan air yang berkecapatan ratusan mil per jam tersebut tak dapat merubuhkan dinding rumah ibadah yang kerap dijadikan tempat sujud umat Islam.

jhbkjh

Masjid besar yang tak mampu ditaklukkan tsunami di Aceh dikenal dengan sebutan Masjid Raya Baiturrahman. Dari segi bahasa kata “Baiturrahman” terdiri dari dua kata Bait (rumah) dan Ar Rahman (Yang Maha Pengasih). Sehingga jika digabungkan dua kata tersebut maka dapat diartikan sebagai rumah (Allah) Yang Maha Pengasih. Sungguh di luar nalar manusia, tekanan air yang dahsyat seolah menghindar ketika berhadapan dengan masjid, terlebih masjid tersebut disematkan pada arti dari salah satu Asmaul Husna yang sarat akan makna kasih sayang Allah. Sehingga orang yang berada di dalam masjid tersebut selamat dari amukan air bah atas perlindungan dan pertolongan Allah.

Dari peristiwa besar tersebut, Masjid Baiturrahman jadi sorotan dunia seolah rumah ibadah ini menyimpan sebuah keajaiban yang tersirat. Namun secara kontsruksi, pada dasarnya masjid ini sama dengan bangunan lainnya, adapun mengenai selamatnya masjid ini dari terjangan tsunami tidak terlepas dari kuasa Allah yang melindungi tempat sujud orang beriman dan umat Muslim pun dapat meyakini hal tersebut sejalan dengan sifat Allah yang menunjukkan bahwa Dia Maha Kuasa atas segala hal.

Jika ditelisik dari aspek konstruksi, Masjid Raya Baiturrahman adalah sebuah masjid yang telah berumur sekitar 4 abad. Masjid ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam pada tahun 1022 H atau bertepatan dengan 1612 M. Meski telah dibangun oleh Sultan Iskandar Muda, namun Masjid Baiturrahman sempat mengalami kerusahan serius pada masa kolonial Belanda di abad ke-19.

Pada 10 April 1873 M, Baiturrahman dibakar oleh tentara Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Van Swieten. Ulah tentara belanda ini memicu kemarahan rakyat Aceh, bahkan putri terbaik Aceh Cut Nyak Dien membakar semangat berjuang rakyat Aceh untuk mengusir penjajah lewat orasinya yang berapi-api. Kemarahan rakyat Aceh ini pun ditakuti oleh Pemerintah Belanda kala itu, khawatir kemarahan semakin meluas di tanah rencong maka Delegasi Belanda yag berada di Aceh akhirnya Belanda pun menyadari bahwa perusakan Masjid di Aceh adalah suatu kesalahan besar yang dapat memicu amukan massa.

yuuy

Setelah rakyat Aceh mengamuk, akhirnya pada 1877, Gubernur Jenderal Van Lansberge berjanji akan membangun kembali Masjid Baiturrahman. Kemudian pada 9 Oktober 1879 pembangunan pun dimulai dan Masjid Baiturrahman baru dinyatakan selesai pada 1882. Saat itu Masjid Baiturrahman hanya memiliki 1 kubah, kemudian pada 1935 masjid ini diperluas lagi dengan menambahkan dua kubah di sisi kanan dan kirinya, proyek perluasan ini memakan biaya 35.000 gulden ketika itu.

Kini Masjid Raya Baiturrahman menjadi saksi bisu peristiwa besar di Aceh, dari peristiwa kekejaman kolonial Belanda hingga bencana alam hebat pada 2004 bahkan hingga kini masjid tersebut tetap berdiri kokoh. Pasca tsunami, masjid yang merupakan ikon kota Aceh ini menjadi destinasi wisata umat Muslim dari dalam negeri maupun mancanegara.

Untuk diketahui bahwa luas ruangan dalam masjid adalah 4.760 meter persegi. Adapun lantainya berupa marmer dari Italia dengan ukuran 60 × 120 cm dengan luas tersebut maka masjid ini  dapat menampug 9.000 jamaah. Tidak hanya dijadikan sebagai tempat ibadah, Masjid Raya Baiturrahman pun kerap dipakai untuk penyelenggaraan acara bernuansa Islami seperti ajang MTQ pada 1981.

Saat ini Masjid Raya Baiturrahman tengah mengalami renovasi dan rencananya di pelataran masjid akan dibuat payung raksasa sebagaimana yang ada di Masjid Nabawi Madinah. Payung raksana tersebut merupakan payung yang digerakkan secara elektronik dan berfungsi memayungi jemaah secara otomatis. Dengan demikian seolah sensasi di Masjid Nabawi dapat dirasakan Masjid Raya Baiturrahman.

Tentunya hampir semua masyarakat yang tinggal di Banda Aceh mengatahui letak Masjid Raya Baiturrahman ini karena posisinya tepat berada di Jalan Baiturrahman, Banda Aceh. Maka bagi anda yang hendak berkunjung untuk melihat lebih dekat masjid yang tak mempan terpaan tsunami ini, maka anda dapat mengunjungi Kota Banda Aceh yang merupakan Ibu Kota Nanggroe Aceh Darussalam. (fh)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top