Wisata Halal Sumbar (4)

Berwisata Religi ke Masjid Raya Tahan Gempa di Kota Padang

gomuslim.co.id- Selain wisata alam dan wisata kulinernya, tanah minang juga terkenal dengan wisata religinya. Sebuah Masjid Raya di Kota Padang menjadi salah satu ikon di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Apalagi, Sumbar saat ini juga adalah wakil Indonesia di ajang World Halal Tourism Award (WHTA) 2016 yang membuatnya semakin berpotensi untuk mendunia.

Adalah Masjid Raya Sumatera Barat, sebuah masjid yang memiliki arsitektur yang unik kebanggaan warga minang. Peletakan batu pertama masjid ini dilakukan pada 21 Desember 2007. Mulai dibangun pada tahun 2008 sampai sekarang ini. Pertama kalinya, Masjid Raya Sumatera Barat digunakan untuk ibadah pada 7 Februari 2014, ketika itu untuk shalat Jumat. Pada tahun yang sama juga, untuk pertama kalinya, digunakan untuk shalat tarawih. Sampai akhirnya, pada awal Ramadan 1436 H ini Masjid Raya Sumatera Barat telah dipercantik dengan pagar dan papan nama.

Kompleks Masjid Raya Sumatera Barat menempati area seluas 40.343 meter persegi di perempatan Jalan Khatib Sulaiman dan Jalan Ahmad Dahlan. Bangunan utama yakni masjid terdiri dari tiga lantai dengan denah seluas 4.430 meter persegi. Peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan dilakukan pada 21 Desember 2007 oleh Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi.

Pada awalnya, panitia pembangunan yang diketuai oleh Marlis Rahman sempat menghimpun sumbangan masyarakat untuk membantu pembangunan masjid, selain melakukan kerja sama dengan pihak swasta dan negara Timur Tengah. Bantuan dari masyarakat dan perantau, termasuk donasi via nada sambung hanya berjalan untuk tahap pertama pembangunan.

Adapun bantuan dari luar negeri, Pemerintah Arab Saudi telah berencana mengirimkan bantuan untuk mendukung pembangunan masjid pada tahun 2009. Namun, bantuan dari Arab Saudi bernilai 50 juta dolar Amerika Serikat datang bersamaan dengan gempa bumi Sumatera Barat 2009 sehingga pemerintah melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional mengalihkan peruntukan bantuan untuk keperluan rehabilitasi dan rekonstruksi di Sumatera Barat.

Selanjutnya, pada awal tahun 2014, Pemerintah Turki mengirimkan bantuan karpet permadani untuk mendukung penyelenggaran ibadah seiring kerja sama yang dibangun oleh pemerintah provinsi. Salat Jumat perdana menandai pembukaan Masjid Raya Sumatera Barat untuk shalat rutin pada 7 Februari 2014. Masjid dibuka untuk umum dengan frekuensi terbatas, karena belum rampungnya fasilitas listrik dan air bersih. Masjid Raya Sumatera Barat untuk kali petama digunakan sepanjang malam bulan Ramadhan.

Pada tahun 2014, pemerintah provinsi kembali menganggarkan dana Rp17,19 miliar untuk pembangunan tahap kelima, meliputi pengerjaan interior kubah. Selama pengerjaan, kegiatan ibadah diselenggarakan di lantai dasar. Penyelesaian ramp yang diguanakan sebagai jalur evakuasi dikerjakan dengan memanfaatkan anggaran sebesar Rp15 miliar dari APBD provinsi pada tahun 2015. Memasuki pertengahan 2016, penyelesaian fasad dan lantai dua dilanjutkan dengan menggunakan alokasi dana Rp37,2 miliar dari pemerintah provinsi. Dari Kementerian Pekerjaan Umum RI, pemerintah mendapat bantuan sebesar Rp11 miliar yang digunakan untuk penataan ruang terbuka hijau.

Arsitektur Unik dan Tahan Gempa

Tempat ibadah ini dirancang dengan arsitektur yang tahan gempa, namun tetap sangat megah.  Konstruksi masjid terdiri dari tiga lantai. Ruang utama yang dipergunakan sebagai ruang shalat terletak di lantai dua, terhubung dengan teras terbuka yang melandai ke jalan.

Selain itu, denah masjid berbentuk persegi yang melancip di keempat penjurunya, menampilkan bentuk bentangan kain ketika empat kabilah suku Quraisy di Mekkah berbagi kehormatan memindahkan batu Hajar Aswad dengan memegang masing-masing sudut kain. Bentuk sudut lancip sekaligus mewakili atap bergonjong pada rumah adat Minangkabau rumah gadang. Interior ruang utama sebelum pengerjaan (atas) dan selama pengerjaan. Pembangunan selama 2015 melanjutkan pengerjaan interior dan mezanin.

Arsitektur Masjid Raya Sumatera Barat memakai rancangan yanng dikerjakan oleh arsitek Rizal Muslimin, pemenang sayembara desain yang diikuti oleh 323 arsitek dari berbagai negara pada 2007. Dari ratusan peserta, 71 desain masuk sebagai nominasi dan diseleksi oleh tim juri yang diketuai oleh sastrawan Wisran Hadi. Konstruksi bangunan dirancang menyikapi kondisi geografis Sumatera Barat yang beberapa kali diguncang gempa berkekuatan besar. Menurut rancangan, kompleks bangunan akan dilengkapi pelataran, taman, menara, ruang serbaguna, fasilitas komersial, dan bangunan pendukung untuk kegiatan pendidikan.

Masjid Raya Sumatera Barat menampilkan arsitektur modern yang tak identik dengan kubah. Atap bangunan menggambarkan bentuk bentangan kain yang digunakan untuk mengusung batu Hajar Aswad. Ketika empat kabilah suku Quraisy di Mekkah berselisih pendapat mengenai siapa yang berhak memindahkan batu Hajar Aswad ke tempat semula setelah renovasi Kakbah, Nabi Muhammad memutuskan meletakkan batu Hajar Aswad di atas selembar kain sehingga dapat diusung bersama oleh perwakilan dari setiap kabilah dengan memegang masing-masing sudut kain.

Ruang utama yang dipergunakan sebagai tempat salat di lantai dua adalah ruang lepas. Lantai dua dengan elevasi tujuh meter dapat diakses langsung melalui ramp, teras terbuka yang melandai ke jalan. Dengan luas 4.430 meter persegi, lantai dua diperkirakan dapat menampung 5.000-6.000 jemaah. Lantai dua ditopang oleh 631 tiang pancang dengan pondasi poer berdiameter 1,7 meter pada kedalaman 7,7 meter.

Dengan kondisi topografi yang masih dalam keadaan rawa, kedalaman setiap pondasi tidak dipatok karena menyesuaikan titik jenuh tanah tanah. Adapun lantai tiga berupa berupa mezanin berbentuk leter U memiliki luas 1.832 meter persegi.

Konstruksi rangka atap menggunakan pipa baja. Gaya vertikal beban atap didistribusikan oleh empat kolom beton miring setinggi 47 meter dan dua balok beton lengkung yang mempertemukan kolom beton miring secara diagonal. Setiap kolom miring ditancapkan ke dalam tanah dengan kedalaman 21 meter, memiliki pondasi tiang bor sebanyak 24 titik dengan diameter 80 centimeter. Pekerjaan kolom miring melewati 13 tahap pengecoran selama 108 hari dengan memperhatikan titik koordinat yang tepat.

Masjid Raya Sumatera Barat memiliki kepengurusan resmi dengan dikeluarkannya SK Gubernur tentang pengangkatan pengurus. Pengurus terdiri dari pejabat pemerintah provinsi diketuai oleh Sekretaris Daerah Ali Asmar.

Ikon Wisata Religi Tanah Minang

Meski tidak rutin, Masjid Raya Sumatera Barat telah dipusatkan sebagai tuan rumah kegiatan keagamaan skala regional seperti tablig akbar, pertemuan jemaah, penyelenggaraan Shalat Ied hingga Shalat Jumat setiap minggunya. Sejak awal tahun 2012, pemerintah provinsi memusatkan kegiatan wirid rutin jajaran pegawai negeri sipil untuk memperkenalkan masjid. Namun, frekuensi pemakaian masjid untuk aktivitas ibadah masih terbatas karena belum rampungnya fasilitas listrik dan ketiadaan air bersih.

Lokasi Strategis

Masjid ini berada di tempat paling stategis, yaitu persis di jantung ibu kota. Tepatnya, di persimpangan antara Jalan Khatib Sulaiman dan Jalan KH Ahmad Dahlan, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. Karena itu, para wisatawan pun dapat dnegan mudah mengakses destinasi wisata religi di Sumatera Barat ini via bandara atau angkutan umum.

Jika Anda berencana menghabiskan libur akhir tahun ini ke tanah minang, maka mengunjungi Masjid Raya Sumatera Barat bisa menjadi pilihan yang tepat. (fau/dbs/foto:gosumbar)

 

 

 

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top