Wisata Halal Sumbar (5)

Berkunjung ke Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka di Tepian Danau Maninjau

gomuslim.co.id- Sumatera Barat (Sumbar) menjadi satu dari tiga daerah di Indonesia selain Aceh dan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang sedang dipromosikan Kementrian Pariwisata terkait program pariwisata halal. Karena itu, kini Sumbar terus berbenah dan gencar melakukan promosi demi menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke daerah yang terkenal dengan makanan khas rendang ini.

Selain Masjid Raya Padang, Jam Gadang, dan danau Maninjau, wisatawan juga bisa mencoba wisata sejarah ke Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Jika Anda berkunjung ke tempat wisata Maninjau untuk menikmati kemilaunya yang memukau, tidak ada salahnya menyempatkan diri ke Museum Buya Hamka Maninjau, yang merupakan rumah kelahiran Hamka dan terletak di sekitar tepian Danau Maninjau.

Posisinya yang lebih tinggi sekitar 5 meter dari jalan raya menghadirkan view  indah yang langsung menghadap ke Danau Maninjau. Selain itu juga terdapat tulisan besar di tebing rumah berhiaskan tatanan bebatuan sehingga rumah ini terlihat menyatu dengan keindahan alam di sekitar danau.

Arsitektur Khas Sumbar dan Jadwal Operasional Museum

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka adalah museum yang terletak di sekitar tepian Danau Maninjau, tepatnya di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Museum ini mulai dibangun pada tahun 2000 dan diresmikan pada tahun 2001 oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu, Zainal Bakar.

Sesuai dengan namanya, museum ini mengkhususkan diri pada koleksi benda-benda peninggalan Buya Hamka, yang bangunannya merupakan rumah yang ditempati Hamka sejak lahir hingga sebelum pindah ke Padang Panjang.

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka terletak pada ketinggian yang lebih tinggi 5 meter dari jalan raya di sekitarnya. Museum ini menghadap ke arah barat atau Danau Maninjau dan membelakang ke arah timur dan memiliki bentuk arsitektur layaknya Rumah Gadang dengan atap bergonjong dan hiasan ukiran Minang.

Museum ini mulai dibuka pukul 8.00 hingga pukul 15.00 waktu setempat. Namun biasanya akan tetap dibuka untuk sementara waktu meski pengunjung melewati batas waktu kunjungan. Dari sekian orang yang mengunjungi museum ini, kebanyakan mereka bukan orang Indonesia, tapi  dari Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Koleksi Lengkap  Gambaran Pribadi Sang Tokoh

Di museum ini terdapat banyak sekali barang milik Buya Hamka, mulai dari pakaian, buku-buku koleksi kesukaan beliau semasa hidup, furniture, karya beliau, dan foto-foto. Ada juga koleksi foto-foto beliau bersama Presiden Soekarno, Bung Hatta, dan tokoh-tokoh penting nasional lainnya yang berpengaruh di kala itu. Layaknya anak-anak lain yang hidup di sekitar danau, Hamka kecil juga senang sekali menangkap ikan, dan alat penangkap ikan serta jarring yang sering beliau gunakan masih tersimpan rapi di museum ini.

Bangunan museum ini sebelumnya merupakan rumah yang ditempati Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau akrab dipanggil Hamka sejak lahir hingga sebelum pindah ke Padang Panjang. Rumah milik nenek Hamka tersebut hampir diluluhlantakan pada masa pendudukan Jepang di Indonesia.

Setelah sekian lama, pada tahun 2000 muncul gagasan dari Gubernur Sumatera Barat, Zainal Bakar untuk membangun kembali rumah tersebut dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya lalu menjadikannya sebagai museum.  Dengan bantuan dana dari berbagai pihak baik yang ada di Sumatera Barat maupun di luar Sumatera Barat terutama Malaysia, dalam waktu 11 bulan pembangunan museum ini dapat diselesaikan dan diresmikan oleh Zainal Bakar pada tanggal 11 November 2001. Hamka merupakan sastrawan sekaligus ulama yang baru dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2011.

Terdapat berbagai koleksi benda peninggalan Hamka di dalam museum. Ratusan buku, majalah, dan arsip-arsip tentang Hamka tersimpan di dalam lemari kaca, sementara puluhan foto terpajang di dinding-dinding hampir setiap sudut ruangan. Namun banyak keterangan foto yang tidak akurat, seperti foto Hamka bersama mantan Ketua MPR/DPR Amir Machmud misalnya yang ditulis "Hamka bersama Hamir Marmut".

Selain foto bersama Bung Karno, Bung Hatta, dan sejumlah tokoh lain, juga terdapat foto Hamka semenjak kanak-kanak, remaja, hingga foto lautan manusia mengantar jenazah Hamka ketika meninggal pada tahun 1981. Terpajang pula foto yang menggambarkan kedekatan Hamka ketika masih remaja dengan Muhammad Natsir, mantan Perdana Menteri Indonesia dan ketua partai Masyumi kelahiran Alahan Panjang, Solok yang aslinya juga berasal dari Maninjau.

Di ruang tamu museum, terdapat sebuah meja tempat pengunjung mengisi buku tamu. Di sebelah ruang tamu, tersusun 5 rak buku kaca tempat menyimpan buku-buku koleksi museum yang jumlahnya sekitar 200 judul. Namun dari sekitar 118 judul karya Hamka, yang tersimpan di museum ini hanya 28 judul.

Sedangkan, di ruang kamar, terdapat tempat tidur dengan kain kelambu berwarna putih yang dahulu menjadi tempat tidur Hamka. Selain itu, juga terdapat ruang khusus yang dilengapi kursi-kursi peninggalan orang tua Hamka, lampu gantung kuno, 1 koper ketika Hamka pertama kali berangkat haji, 8 tongkat, dan baju wisuda lengkap dengan toga ketika Hamka dikukuhkan menjadi Doktor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir. Sebagian besar benda-benda peninggalan tersebut merupakan sumbangan dari berbagai pihak, terutama dari keluarga Hamka dan Universitas Kebangsaan Malaysia.

Akses mudah

Akses yang mudah dan jaraknya yang dekat dari pusat kunjungan tempat wisata di sekitar Danau Maninjau membuat Museum Buya Hamka Maninjau selalu ramai oleh pengunjung. Selain memperoleh tambahan pengetahuan tentang kehidupan Buya Hamka dari koleksi-koleksi yang tersimpan apik di dalamnya, taman yang tertata rapi berpadu dengan indahnya Danau Maninjau di depan museum ini.

Untuk mencapai daerah ini, dari Bukittinggi pengunjung harus melewati kawasan Kelok 44 (Kelok Ampek Puluh Ampek). Setelah melewati kawasan tersebut, wisatawan  akan bertemu sebuah persimpangan, di mana arah ke kiri adalah menuju museum sedangkan ke kanan adalah ke Lubuk Basung, ibukota Kabupaten Agam.

Jarak dari persimpangan menuju ke museum kurang lebih sekitar 7 kilometer melalui jalur yang berkelok-kelok. Sepanjang perjalanan, wisatawan dapat menikmati keindahan Danau Maninjau yang tepat tersaji di sebelah kanan mereka. (fau/indonesiakaya/dbs)

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top