Wisata Halal Sulawesi Selatan (5)

Menilik Sejarah Islam Sulawesi di Pusat Kerajinan Perahu Pinisi Tanah Beru Kota Bulukumba

gomuslim.co.id- Sulawesi Selatan (Sulsel) memiliki banyak destinasi wisata yang beragam, mulai dari wisata alam, wisata religi, sampai wisata sejarah. Setelah pekan lalu gomuslim membahas tentang destinasi wisata sejarah di Sulsel, yaitu Museum yang menyimpan peninggalan sejarah Kerajaan Gowa, kini adalah waktunya berwisata sejarah ke tempat kerajian Kapal Pinisi yang juga menyimpan kisah tentang perkembangan Islam di Sulawesi Selatan.

Adalah Pusat Kerajinan Perahu Pinis yang banyak tersebar di Sulsel, tapi tempat  yang paling terkenal adalah Tanah Beru di Kabupaten Bulukumba, yang terletak di Kecamatan Bontobahari, 23 kilometer dari Kota Bulukumba. Pusat kerajinan ini membuat para turis dapat melihat kapal-kapal pinisi yang sedang dalam proses pembuatan dan pembuatan kapal dengan metode dan alat-alat tradisional.

Selain cara dan alat pembuatannya secara tradisional, pembuatan kapal pinisi di Tanah Beru juga mengikuti ritual-ritual yang sudah dilakukan sejak zaman dahulu. Pembuatan kapal dimulai dengan ritual menentukan hari baik untuk mencari bahan baku, menebang dan mengolah batang pohon menjadi bahan baku, merakit bahan baku tersebut menjadi perahu dan kemudian meluncurkan perahu ke laut. Untuk setiap tahap dilakukan upacara adat tertentu.

Adapun, pembuatan kapal pinisi memakan waktu 3 sampai 6 bulan. Hal tersebut bergantung pada kesiapan bahan dan musim. Karena itu, sangat dianjurkan bagi anda yang akan mengunjungi Tanjung Bira untuk singgah sejenak ke Tanah Beru ini, terutama karena Kabupaten Bulukumba memiliki julukan "Butta Panrita Lopi" yang berarti tanah para ahli pembuat perahu pinisi.

Pembuatan yang Unik dan Penuh Makna

Pusat Kerajinan Perahu Pinisi terletak di Kelurahan Tana Beru, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. wisatawan bisa menyaksikan cara pengrajin membuat perahu berbagai ukuran, ukuran sedang 10 ton hingga yang berbobot besar, termasuk belasan perahu pesanan dari luar negeri

Pembuatan Perahu Pinisi cukup unik, karena proses pembuatannya memadukan keterampilan  teknis dengan--masyarakat sekitar menyebutnya; kekuatan magis. Publikasi VisitSulsel menyebutkan tahap pertama dimulai dengan penentuan hari baik  untuk mencari kayu (bahan baku).  Hari baik untuk mencari kayu biasanya jatuh pada hari ke-5 dan ke-7 pada bulan  yang sedang berjalan.

Angka 5 menyimbolkan naparilimai dalle‘na, yang berarti rezeki sudah di tangan, sedangkan angka 7 menyimbolkan natujuangngi dalle‘na, yang berarti selalu mendapat rezeki. Tahap selanjutnya adalah menebang, mengeringkan dan memotong kayu. Kemudian kayu atau bahan baku tersebut dirakit menjadi sebuah perahu dengan  memasang lunas, papan, mendempulnya, dan memasang tiang layar. Tahap terakhir  adalah peluncuran perahu ke laut.

Tiap-tiap  tahap tersebut selalu diadakan upacara-upacara adat tertentu. Sebelum perahu  Pinisi diluncurkan ke laut, terlebih dahulu dilaksanakan upacara maccera lopi (mensucikan perahu) yang ditandai dengan pemyembelihan binatang. Jika Perahu Pinisi itu  berbobot kurang dari 100 ton, maka binatang yang disembelih adalah seekor kambing, dan jika bobotnya lebih dari 100 ton, maka binatang yang disembelih adalah  seekor sapi.

Pada saat peletakan lunas, juga harus disertai prosesi khusus. Saat dilakukan pemotongan, lunas diletakkan menghadap Timur Laut. Balok lunas bagian depan merupakan simbol lelaki. Sedang balok lunas bagian belakang diartikan sebagai simbol wanita. Usai dimantrai, bagian yang akan dipotong ditandai dengan pahat. Pemotongan yang dilakukan dengan gergaji harus dilakukan sekaligus tanpa boleh berhenti. Itu sebabnya untuk melakukan pemotongan harus dikerjakan oleh orang yang bertenaga kuat. Demikian selanjutnya setiap tahapan selalu melalui ritual tertentu.

Kilas Sejarah Kapal Pinisi dan Keterikatannya dengan Islam

Sejarah membuktikan bahwa Perahu Phinisi Nusantara telah berhasil berlayar ke Vancouver Kanada, amerika Serikat pada tahun 1986. Oleh karena itu, Bulukumba dijuluki sebagai Butta Panritta Lopi, yang artinya bumi ate tanah para ahli pembuat Perahu Phinisi. Pusat kerajinan Perahu Phinisi ini terletak di pesisir pantai kelurahan Tana Beru, Kecamatan Bontobahari, sekitar 24 Km dari kota Bulukumba.

Pinisi adalah kapal layar tradisional khas asal Indonesia, yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan tepatnya dari desa Bira kecamatan Bonto Bahari Kabupaten Bulukumba. Pinisi sebenarnya merupakan nama layar. Kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang; umumnya digunakan untuk pengangkutan barang antar pulau.

 Dua tiang layar utama tersebut berdasarkan 2 kalimat syahadat dan tujuah buah layar merupakan jumlah dari surah Al-Fatihah. Pinisi adalah sebuah kapal layar yang menggunakan jenis layar sekunar dengan dua tiang dengan tujuh helai layar yang dan juga mempunyai makna bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengharungi tujuh samudera besar di dunia.

Kapal kayu Pinisi telah digunakan di Indonesia sejak beberapa abad yang lalu, diperkirakan kapal pinisi sudah ada sebelum tahun 1500an. Menurut  naskah Lontarak I Babad La Lagaligo pada abad ke 14, Pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading, Putera Mahkota Kerajaan Luwu untuk berlayar menuju negeri Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai.

Sawerigading berhasil ke negeri Tiongkok dan memperisteri Puteri We Cudai. Setelah beberapa lama tinggal di negeri Tiongkok, Sawerigading kembali kekampung halamannya dengan menggunakan Pinisinya ke Luwu. Menjelang masuk perairan Luwu kapal diterjang gelombang besar dan Pinisi terbelah tiga yang terdampar di desa Ara, Tanah Lemo dan Bira.

Selanjutnya, Masyarakat ketiga desa tersebut kemudian merakit pecahan kapal tersebut menjadi perahu yang kemudian dinamakan Pinisi. Orang Ara adalah pembuat badan kapal, di Tana Lemo kapal tersebut dirakit dan orang Bira yang merancang kapal tersebut menjadi Pinisi dan ketujuh layar tersebut lahir dari pemikiran orang-orang Bira.

Konon, nama Pinisi ini diambil dari nama seseorang yang bernama Pinisi itu sendiri. Suatu ketika dia berlayar melewati pesisir pantai Bira. Dia melihat rentetan kapal sekitar laut sana, dia kemudian menegur salah seorang nahkoda kapal tersebut bahwasanya layar yang digunakannya masih perlu diperbaiki. Sejak saat itu orang Bira berfikir dan mendesain layar sedemikian rupa dan akhirnya berbentuk layar Pinisi yang seperti sekarang ini. Atas teguran orang tersebut maka orang-orang Bira memberi layar itu dengan nama Pinisi. (fau/visitsulsel/dbs/foto: lovebangetwisata)

 

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top