Wisata Halal Kota Semarang (4)

Menilik Jejak Sang Laksamana Muslim di Klenteng Sam Po Kong Semarang

gomuslim.co.id- Jika anda berkesempatan untuk berkunjung ke kota Lumpia, Semarang, jangan sampai lupa singgah ke Klenteng Sam Po Kong. Destinasi ini menjadi wajib bagi mereka yang plesiran ke kota ini untuk sekadar berfoto di bangunan antik khas tiongkok atau juga belajar tentang sejarah, bahwa klenteng ini adalah jejak dari sang laksamana muslim yang pernah singgah di kota ini.

Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong adalah sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He atau  Cheng Ho. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislamanan dengan ditemukannya tulisan berbunyi Marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Alquran.

Disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu, orang Indonesia keturunan cina menganggap bangunan itu adalah sebuah kelenteng - mengingat bentuknya memiliki arsitektur bangunan cina sehingga mirip sebuah kelenteng. Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah.

Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien. Padahal laksamana cheng ho adalah seorang muslim, tetapi oleh mereka di anggap dewa. Hal ini dapat dimaklumi mengingat agama Kong Hu Cu atau Tau menganggap orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan kepada mereka.

Menurut cerita, Laksamana Zheng He sedang berlayar melewati laut jawa, namun saat melintasi laut Jawa, banyak awak kapalnya yang jatuh sakit, kemudian ia memerintahkan untuk membuang sauh. Kemudian merapat ke pantai utara Semarang untuk berlindung di sebuah Goa dan mendirikan sebuah masjid di tepi pantai yang sekarang telah berubah fungsi menjadi kelenteng.

Bangunan itu sekarang telah berada di tengah kota Semarang di akibatkan pantai utara jawa selalu mengalami proses pendangkalan yang di akibatkan adanya proses sedimentasi sehingga lambat-laun daratan akan semakin bertambah luas ke arah utara.

Konon, setelah Zheng He meninggalkan tempat tersebut karena ia harus melanjutkan pelayarannya, banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan dan menikah dengan penduduk setempat. Mereka bersawah dan berladang di tempat itu. Zheng He memberikan pelajaran bercocok-tanam serta menyebarkan ajaran-ajaran Islam, di Klenteng ini juga terdapat Makam Seorang Juru Mudi dari Kapal Laksamana Cheng Ho.

Jejak Islam oleh Laksamana Cheng Ho

Lebih dari 600 tahun yang lalu, tepatnya 11 Juli 1405, 317 kapal yang diawaki oleh lebih dari 28 ribu awak memulai perjalanan mereka yang bernama "Ekspedisi Harta Karun" yang ditujukan untuk menunjukkan kebesaran Kekaisaran Kaisar Zhu sebagai "The Son of Heaven" (anak surga) kepada dunia.

Nama Laksamana Cheng Ho, penjelajah dunia yang beragama Muslim asal Tiongkok, ini cukup melegenda. Tokoh yang memiliki nama Islam Mahmud Shams ini menjelajah samudra luas selama 30 tahun lebih, dari 1405 hingga 1433 M.

Pelayaran pertama ini mampu mencapai Caliut, barat daya India dan sampai di wilayah Asia Tenggara meliputi Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, Vietnam, Srilangka. Untuk wilayah Jawa, Cheng pernah singgah di Pantai Maron atau Pantai Marina Semarang Jawa Tengah.

Kuil Sam Poo Kong terletak di Simongan, Semarang, Jawa Tengah, ini dipercaya sebagai markas armada Cheng Ho saat sedang berlayar melewati Laut Jawa dan terpaksa berhenti karena salah satu orang kepercayaannya jatuh sakit. Semula bangunan kuil yang berfungsi sebagai masjid ini modelnya sederhana, berupa gua batu.  

Cheng Ho pun menggunakan gua batu itu untuk shalat, lalu sebelum meninggalkan Jawa, ia membangun masjid di gua itu. Seiring perjalanan, masjid ini beralih fungsi menjadi Kuil Sam Poo Kong. Selama berada di kuil ini, Cheng Ho mendakwahkan Islam dan mengajarkan cara bercocok tanam. 

Bangunan dan Lokasi Sam Po Kong

Komplek Klenteng Sam po Kong terdiri dari sejumlah anjungan yaitu Klenteng Besar dan gua Sam Po Kong, Klenteng Tho Tee Kong, dan empat tempat pemujaan (Kyai Juru Mudi, Kayai Jangkar, Kyai Cundrik Bumi dan mbah Kyai Tumpeng). Klenteng Besar dan gua merupakan bangunan yang paling penting dan merupakan pusat seluruh kegiatan pemujaan. Gua yang memiliki mata air yang tak pernah kering ini dipercaya sebagai petilasan yang pernah ditinggali Sam Po Tay Djien (Zheng He)

Bentuk bangunan klenteng merupakan bangunan tunggal beratap susun. Berbeda dengan tipe klenteng yang lain, klenteng ini tidak memiliki serambi yang terpisah. Pada bagian tengah terdapat ruang pemujaan Sam Po.

Klenteng ini berlokasi di area kompleks kelenteng bersejarah dengan arsitektur khas penduduk Tionghoa dan  Jawa yang tradisional. Lengkapnya adalah Jalan Simongan No.129, Bongsari, Semarang Barat, Bongsari, Semarang Bar., Kota Semarang, Jawa Tengah 50148. (fau/visitsemarang/dbs/foto: kabarwisata)

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top