Wisata Halal Kota Semarang (5)

Berkunjung ke Museum Perkembangan Islam di Masjid Agung Jawa Tengah

gomuslim.co.id- Satu lagi destinasi wisata yang sayang jika anda lewatkan saat berkunjung ke Kota Semarang. Destinasi yang satu ini berlokasi di dalam komplek Masjid Agung Jawa Tengah yang menyimpan banyak koleksi kuno terkiat dngan perkembangan Islam di Indonesia.

Adalah Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah, sebuah museum yang mencatat perkembangan agama Islam di Jawa Tengah serta menyimpan barang-barang peninggalan sejarah selama penyebaran agama Islam di Jawa Tengah.

Beragam Koleksi untuk Belajar Sejarah

Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah mencatat sejarah perkembangan agama Islam di Jawa Tengah. Museum ini berada di lantai 2 dan 3 dari Tower Asmaul Husna di kompleks Masjid Agung Jawa Tengah yang berada di Jalan Gajah Semarang. Artefak artefak seperti Iluminasi Alquran, Wayang golek Menak, Wayang Sadat, Gayor Masjid Sunan Muria, Gamelan, Ornamen Dua Sisi, Ornamen Masjid Mantingan, Keramik, Koleksi peninggalan Islam Awal, Artefak Kapal dagang, Miniatur menara Kudus ada di Musuem Perkembangan Islam Jawa Tengah ini.

Jam layanan Museum Perkembangan Islam Masjid Agung Jawa Tengah Ini pada hari Selasa sampai minggu pukul 08.00 sampai  15.00 dan hari Senin libur.

Pada museum di lantai 3, akan ada keterangan terkait hubungan pesantren yang berkaitan dengan nasionalisme warga Indoenesia pada masa kolonial Belanda dan di ujung sebelah kiri terdapat sejumlah keris buatan Semarang.

Kemudian, ada koleksi busana santri yang dikenakan pada zaman perjuangan kala Indonesia dijajah. Bahkan ada pedang besar yang konon digunakan untuk melawan Belanda oleh seorang santri. Koleksi lainnya yaitu Alquran kuno dari tahun 1800-an, ada juga Al Quran yang sudah disadur dalam aksara jawa oleh Agus Ngarpah seorang abdi dalem Kraton Surakarta pada tahun 1835.

Selain itu, ada juga surat kuno yang ditulis tangan oleh KH Ahmad Rifai dengan huruf Arab gundul. Surat 2 halaman tersebut ditulis ketika KH Ahmad Rifai ditahan penjajah di Ambon. Pengunjung juga bisa melihat koleksi-koleksi Al Quran kuno yang ditulis oleh tokoh-tokoh agama dalam perkembangan Islam di Jawa.

Beberapa foto tokoh agama juga dipajang di museum lantai 3. Pengetahuan di lantai ini juga dilengkapi dengan sejarah pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) berupa miniatur dan foto.

Sedangkan pada lantai 2, di bagian ini terdapat koleksi yang memperlihatkan tentang masa penyebaran agama Islam di Jawa melalui perdagangan. Koleksi keramik dan sutera menunjukkan interaksi pertama pedagang Muslim dari Gujarat, Persia, dan China di pelabuhan pesisir Utara Jawa Tengah yang menyebarkan ajaran Islam sambil berdagang.

Salah satu koleksi yaitu bongkahan kayu tua yang merupakan bagian kapal dagang yang terdampar pada abad 16 dan ditemukan di Tambak Lorok, Semarang. Islam semakin berkembang di Jawa Tengah dan mulai berdiri tempat ibadah.

Ornamen masjid sesuai perkembangan zaman pun ditampilkan. Contohnya ornamen Masjid Mantingan yang berupa lingkaran dengan pahatan indah dan unik berbentuk sulur dan tumbuhan.

Ada juga Tatal, yaitu bagian dari tiang utama yang bersejarah Masjid Agung Demak (Saka Sunan Kalijaga). Selain itu dipasang juga replika pintu Bledheg Masjid Agung Demak. Pintu aslinya merupakan buatan Ki Ageng Selo yang dipercaya bisa menangkap petir dan memanfaatkannya untuk mengukir di kayu.

Dalam penyebaran Agama Islam di Jawa, berbagai metode dilakukan menggunakan alat. Museum ini juga memiliki koleksi benda-benda yang digunakan untuk penyebaran agama Islam yaitu mulai dari wayang, gamelan, dan mimbar. Benda-benda lainnya juga cukup menarik untuk dilihat, seperti mustaka Masjid, jadwal Salat kuno yang ditulis menantu KH Soleh Darat tahun 1900, dan lain sebagainya.

Tentang Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)

Masjid Agung Semarang ini berdiri diatas lahan seluas 10 hektar. Tepatnya bangunan utama masjid memiliki luas 7.669 meter persegi, sementara luas halaman berukuran 7.500 meter persegi. Pembangunan masjid ini memakan waktu kurang lebih 5 tahun. Mulai tahun 2001 dan selesai tahun November 2006. Masjid Agung Semarang kemudian diresmikan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tanggal 14 November 2006 yang saat itu masih menjabat. Sedangkan, museumnya diresmikan Gubernur Jawa Tengah kala itu, Mardiyanto pada 28 September 2007.

MAJT ini tidak hanya difungsikan untuk sembahyang 5 waktu saja. Pada awal Ramadhan 1427 H lalu, teropong di masjid ini untuk pertama kalinya digunakan untuk melihat Rukyatul Hilal oleh Tim Rukyah Jawa Tengah dengan menggunakan teropong canggih dari Boscha. (fau/visitsemarang/dbs/foto: seputarsemarang)

Baca juga :

Masjid Agung Semarang Jawa Tengah, Kemegahan Perpaduan Arsitektur Tiga Budaya

 

 

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top