Wisata Halal Kota Surabaya (5)

Menilik Jejak Dakwah Sunan Ampel di Surabaya

gomuslim.co.id- Satu lagi destinasi wsiata religi yang sayang jika kamu lewatkan saat berkunjung ke kota Surabaya. Destinasi ini adalah masjid yang dinobatkan sebagai Masjid tertua ke-3 di Indonesia. Karena itu,  Masjid ini pun dijadikan cagar budaya yang mengandung sejarah dakwah Islam di Kota Surabaya.

Adalah  Masjid Sunan Ampel yang dibangun oleh Raden Achmad Rachmatullah di tahun 1421, di dalam wilayah kerajaan Majapahit. Masjid ini dibangun dengan arsitektur Jawa kuno dan dengan nuansa Arab yang sangat kental. Raden Achmad Rachmatullah atau yang lebih dikenal dengan Sunan Ampel, wafat pada tahun 1481. Makamnya terletak di sebelah barat masjid. Hingga tahun 1905, Masjid Ampel adalah masjid terbesar ke-2 di Surabaya.

Dulunya,  masjid ini menjadi tempat berkumpulnya para ulama dan Wali Allah untuk membahas tentang penyebaran isalam di tanah Jawa. Lokasi Masjid Sunan Ampel terletak di Jalan KH Mas Mansyur, Kelurahan Ampel, Surabaya Utara. Lokasi ini sangat mudah dicapai, karena dilewati oleh berbagai moda angkutan.

Sejarah mencatat, Sunan Ampel adalah keturunan dari Ibrahim Asmarakandi. Salah satu Raja Champa yang yang kemudian menetap di Tuban, Jawa Timur. Saat berusia 20 tahun, Raden Rachmat memutuskan untuk pindah ke Tanah Jawa, tepatnya di Surabaya yang ketika itu merupakan daerah kekuasaan Majapahit di bawah Raja Brawijaya yang dipercaya sudah beragama Islam ketika berusia lanjut itu. Di usianya 20 tahun, Sunan Ampel sudah dikenal pandai dalam ilmu agama, bahkan dipercaya Raja Brawijaya untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam di Surabaya.

Tugas khususnya adalah untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula Majapahit. Untuk itu Raden Rachmat dipinjami oleh Raja Majapahit berupa tanah seluas 12 hektar di daerah Ampel Denta atau Surabaya untuk syiar agama Islam. Karena tempatnya itulah, Raden Rachmat kemudian akrab dipanggil Sunan Ampel. Sunan Ampel memimpin dakwah di Surabaya dan bersama masyarakat sekitar membangun masjid untuk media dakwahnya yang kini dikenal sebagai Masjid Ampel. Di tempat inilah Sunan Ampel menghabiskan masa hidupnya hingga wafat tahun 1481 dan makamnya terletak di sebelah kanan depan masjid Ampel.

Komplek Makan Sunan Ampel dan Arsitektur Masjid yang Khas

Di komplek pemakaman Masjid Sunan Ampel terdapat makam Mbah Sonhaji atau Mbah Bolong dan juga makam Mbah Soleh, pembantu Sunan Ampel yang bertugas membersihkan masjid. Keberadaan Kedua Makam tersebut tidak lepas dari cerita tutur dari masyarakat setempat. Di dekat makam Mbah Bolong (Mbah Sonhaji) terdapat 182 makam syuhada haji yang tewas dalam musibah jemaah haji Indonesia di Maskalea-Colombo, Sri Lanka pada 4 Desember 1974.

Komplek Makam Sunan Ampel dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Disini Makam Sunan Ampel bersama istri dan lima kerabatnya dipagari baja tahan karat setinggi 1,5 meter, melingkar selluas 64 meter persegi. Khusus Makam Sunan Ampel dikelilingi pasir putih.

Di sekeliling masjid terdapat lima gapuro (pintu gerbang) yang merupakan simbol dari Rukun Islam. Dari arah selatan, tepatnya di Jalan Sasak terdapat pintu gerbang pertama yang bernama Gapuro Munggah. Gapuro Munggah merupakan simbol dari Rukun Islam yang kelima, yaitu Haji. Di sebelah selatan masjid terdapat Gapuro Poso (puasa). Gapuro Poso memberikan suasana pada bulan Ramadhan.

Setalah melewati Gapuro Poso, pengunjung  akan masuk ke halaman masjid. Di halaman ini tampak bangunan masjid yang megah dengan menara yang menjulang tinggi. Bangunan menara masjid ini masih berupa asli-nya sebagaimana saat didirikan oleh Sunan Ampel di abad ke 14.

Gapuro selanjutnya adalah Gapuro Ngamal (beramal). Gapuro Ngamal menyimbolkan rukun islam yang ketiga yaitu zakat. Disini orang dapat bersodaqoh, dan hasil sodaqoh dipergunakan untuk perawatan dan biaya kebersihan masjid dan makam. Bangunan berikutnya adalah Gapuro Madep. Gapuro Madep ini letaknya tepat di sebelah barat bangunan induk masjid. Gapuro madep menyimbolkan rukun islam yang kedua yaitu sholat, dengan menghadap ke arah kiblat.

Bangunan Gapuro yang kelima adalah Gapuro Paneksen, yang merupakan simbol dari rukun islam yang pertama yaitu Syahadat. Paneksen berarti ‘kesaksian‘, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Gapuro Paneksen adalah pintu gerbang masuk ke makam.

Papan peringatan yang terpampang di kawasan ini menjadi panduan bagi pengunjung supaya berlaku sopan, tidak shalat di area pemakaman, dan berdoa hanya kepada Allah. Di area pemakaman juga sangat dianjurkan untuk melepas sepatu ataupun sandal, serta dilarangnya pengunjung berada di area pemakaman pada setiap waktu shalat berjamaah.

Cagar Budaya di Surabaya

Demi untuk melestarikan lokasi bersejarah ini, Pemkot Surabaya telah menjadikan kawasan Masjid Sunan Ampel sebagai bangunan cagar budaya. Dan membangun kawasan ini sebagai wisata religi. Peninggalan bersejarah Masjid Ampel yang sampai sekarang masih tampak terawat terdapat pada 16 tiang utama masjid yang terbuat dari kayu jati. Ke-16 tiang tersebut, masing-masing memiliki panjang Tujuh Belas meter dan diameter selebar Enam Puluh centimeter serta 48 pintu yang saat ini masih terpelihara dengan baik. Tiang tersebut juga memiliki makna tujuh belas jumlah raka’at shalat dalam sehari yang merupakan tiang agama Islam.

Selain itu, Masjid Sunan Ampel telah mengalami perluasan sebanyak tiga kali yakni tahun 1926, 1954, dan 1972. Kini, luas salah satu masjid tua di Indonesia itu mencapai 1.320 meter persegi dengan panjang 120 meter dan lebar 11 meter.

Sekarang Seperti lazimnya masjid-masjid besar, Masjid Ampel selalu dijaga dan dirawat kebersihannya. Apalagi, keberadaan Masjid Ampel ini terbilang merupakan peninggalan sejarah. Bukti-bukti peninggalan bersejarah Masjid Ampel yang sekarang masih tampak terawat adalah, terdapat pada 16 tiang utama masjid yang terbuat dari kayu jati. Ke-16 tiang tersebut, masing-masing panjangnya 17 meter dengan diameter 60 centimeter.

 Pembangunan pertamakali masjid yang terletak di Desa Ampel (sekarang Kelurahan Ampel) ini seluas 120 x 180 meter persegi. Berikutnya, dilakukan beberapakali renovasi hingga adanya sekarang ini. Namun, meski renovasi terus dilakukan, keaslian bangunan masjid yang ditandai dengan ke-16 tiang utamanya itu tetap dipelihara dan dirawat, agar jangan sampai turut direnovasi. Sebab, untuk ukuran teknolgi dizaman awal abad 15 itu, bahwa pengangkatan ke-16 tiang utama masjid dengan panjang 17 meter dan berdiameter 60 centimeter tersebut, kini masih dalam tahap penelitian.

Kini, sehari-hari Masjid Ampel hampir tak pernah sepi pengunjung dari dalam dan luar kota, bahkan luar propinsi dan luar pulau. Kegiatan yang ada, selain shalat jama’ah 5 waktu secara rutin dan pengajian, juga diramaikan dengan kegiatan belajar mendalami bahasa arab di Lembaga Bahasa Arab program non-gelar yang berlokasi di gedung samping timur masjid. (fau/kabarsurabaya/dbs/foto: eastjava)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top