Wisata Halal Kota Kudus (4)

Berwisata Alam ke Gunung Muria Kudus

gomuslim.co.id- Bagi kamu yang suka dengan wisata alam, khususnya pegunungan, destinasi wisata di Kudus ini bisa menjadi pilihan. Uniknya, selain menikmati alam nan hijau, destinasi ini juga menyimpan wisata religi berupa komplek Masjid bersejarah yang di dalamnya ada makan seorang ulama terkenal di Kudus. Berikut gomuslim rekomendasikan destiansi wisata alam pengunungan di Kudus:

Adalah Gunung Muria,  sebuah gunung di wilayah utara Jawa Tengah bagian timur, yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Kudus di sisi selatan, di sisi barat laut berbatasan dengan Kabupaten Jepara, dan di sisi timur berbatasan dengan Kabupaten Pati. Di kawasan ini terdapat tempat yang sangat legendaris peninggalan Wali Songo, yaitu pesanggrahan di kawasan puncak Gunung Muria yang dalam sejarah negeri ini merupakan basis pesanggrahan di mana Kanjeng Sunan Muria menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Di sini pulalah Sunan Muria dimakamkan. Nama Gunung Muria dan daerah Kudus dinamakan berdasarkan nama Bukit Moria dan kota Al-Qudus atau Baitul Maqdis atau Yerusalem. Demikian pula nama Masjid Al Aqsa Menara Kudus berdasarkan nama Masjid di Yerusalem.

Makam Sunan Muria Syeh R.Umar Sa'id yang berada di lereng Gunung Muria. Untuk mencapai makam yang berada satu kompleks dengan Masjid Sunan Muria ini, anda harus melalui ratusan anak tangga dari pintu gerbang. Di sepanjang anak tangga tersebut banyak dijual beragam cinderamata, jajanan, dan sebagainya.

Sejumlah peninggalan Sunan Muria masih dapat dijumpai, seperti bangunan masjid beratap Joglo bertingkat tiga dan beratap kayu sirap. Selain itu, anda juga dapat menikmati bahan bangunan lama seperti tempat salat imam, fondasi empat soko masjid atau 'umpak', juga sebuah bedug yang dibuat tahun 1834. Lokasi wisata religi ini berjarak sekitar 18 kilometer dari pusat kota Kudus.

Beragam Puncak dan Incaran Para Pendaki

Gunung Muria mempunyai ketinggian 1.601 meter dari permukaan laut. Puncak-puncaknya yang tertinggi antara lain: Puncak Songolikur; merupakan puncak tertinggi di Gunung Muria. Sering juga disebut sebagai puncak Saptorenggo, Puncak Argowiloso; Argowilogo, Puncak Argojembangan, dan Puncak Abiyoso.

Banyak jalur yang bisa ditempuh guna mencapai puncak, sebut saja Puncak Songolikur, untuk mencapainya ada 2 rute yang bisa dijadikan pilihan. Bisa melewati pos pendakian di Dukuh Semliro, Desa rahtawu, Gebog, Kudus atau bisa juga melewati pos di Desa Tempur, Keling, Jepara. Bagi para pendaki bisa mengambil angkutan dari Terminal Kudus menuju ke Desa Rahtawu.

Setelah itu, para pendaki bisa langsung saja menuju basecamp dan langsung bisa menuju puncak, medan cukup landai diawal. Nantinya pendaki akan melewati Pos Buton dilanjutkan ke Pos Eyang Pandu, lalu baru sampai puncak, di area ini trek cukup berat jadi harus tetap berhati-hati. Untuk melakukan pendakian Gunung Muria puncak 29 ini perlu waktu kurang lebih 3 jam pendakian.

Sedangkan untuk menuju ke Puncak Natas Angin, jalur yang biasa digunakan adalah jalur dari Desa Rahtawu. Langsung saja, dari tugu selamat datang Desa Rahtawu lurus mengikuti petunjuk arah kurang lebih 15 menit menuju tempat parkir Abiyasa. Ditempat ini sekaligus sebagai pintu gerbang menuju puncak atau bisa dikatakan basecamp. Dari parkir hingga Puncak Abiyasa diperlukan waktu 2 jam dengan trekking yang cukup berat sehingga pasti akan menguras tenaga pendaki yang datang.

Treknya yang berupa tanjakan dengan jalan dari tanah bebatuan yang makin lama makin terjal dan zig zag akan menjadi pengalaman tersendiri bagi pendaki yang datang. Tapi tidak usah kahwatir, pemandangan yang indah dan hijau akan membuat lelah menjadi sedikit berkurang. Di sini terdapat bangunan yang berupa makam yang disertai dengan mushola dan warung makan. Jadi jika tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan, bisa beristirahat dan berhenti di tempat ini.

Untuk yang ingin melanjutkan sampai Puncak Natas Angin, diperlukan waktu sekitar 30 menit dari Puncak Abiyasa ini. Dimulai dengan jalan setapak akan sedikit mengurangi beban, tapi setelahnya, jalan yang dilewati juga terjal seperti sedia kala. Sebut saja Jalur Naga, di sini jalan menanjak dengan kemiringan hampir 80 derajat dengan lebar jalan yang hanya 1,5 meter dan sebelahnya langsung berbatasan dengan jurang. Lebih baik untuk mendaki saat musim kemarau, karena saat hujan tiba, jalan akan licin dan pastinya menghambat perjalanan.  (fau/wisatakudus/dbs/foto: seputarkudus)

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top