Bukan Tentang Kemampuan, Tapi Tentang Kemauan

“Tidak peduli sebarapa hebatnya kita, tidak peduli sebarapa kayanya kita, tidak peduli seberapa berpengaruhnya kita, jika hari ini kita tidak bahagia, pasti ada yang salah.”

(dr. Gamal Albinsaid)

 

Bismillahirrahmanirrahim.

Albert Enstein, siapa yang tidak mengenal sosoknya dengan rumus e = mc2. Wajahnya menjadi lambang kejeniusan, 100 tahun setelah teorinya lahir diperingati sebagai tahun fisika, namanya digunakan menjadi nama unsur kimia, Enstenium, termasuk nama sebuah asteroid. Namun, Michael Hert dalam penelitiannya meletakkan ia dalam jajaran orang paling berpengaruh di nomor 10. Kalau kita lihat, kebanyakan orang yang berada di jajaran atas Enstein adalah orang. Lain hal orang yang meletakkan spiritualitas sebagai dasar kehidupannya, yaitu Nabi Muhammad SAW, Nabi Isa AS, Budha, Confucius. Artinya orang yang mendasarkan hidupnya pada nilai-nilai spiritual punya pengaruh lebih besar dibandingkan orang-orang yang mendasarkan hidupnya pada nilai-nilai intelektual.

Ketika Pak BJ. Habibie berpidato di Kairo, beliau berpesan “Saya diberikan kenikmatan oleh Allah ilmu teknologi sehingga saya bisa membuat pesawat terbang, tapi sekarang saya tahu bahwa ilmu agama lebih manfaat untuk umat Islam. Kalau saya disuruh milih antara keduanya maka saya akan memilih ilmu agama.”

Warren Buffet terkenal di tahun 2010 yang lalu karena berhasil mengalahkan Bill Gates yang sudah 10 tahun menjadi orang terkaya di dunia. Tidak banyak orang yang tahu, 2 tahun sebelum Warren Buffet menjadi orang terkaya, ia menyumbangkan 80 persen kekayaannya untuk sosial, sekitar 300 triliun atau setengah APBN kita pada saat itu. Ada sosok yang lebih hebat lagi, yaitu Abu Bakar As-Shidiq di mana ia menyerahkan 100 persen hartanya untuk agamanya.

Apa yang bisa dipelajari dari orang-orang ini? Bahwasanya orang yang mendasarkan hidupnya pada nilai-nilai kebaikan bukan hanya punya pengaruh lebih besar, tapi juga rela berkorban lebih besar.

Pada tahun 29 Mei 1993, Edmund Hillary berhasil menjadi orang pertama yang menaklukkan gunung Everest, gunung tertinggi di dunia, 29.000 kaki diatas permukaan laut. Tidak banyak yang tahu dia bersama seorang pemandu bernama Tenzing Norgay, pemandu yang namanya tidak dikenal sejarah, padahal pemandu selalu di depan, ketika ditanya, Anda kan seorang pemandu, tentunya Anda berada di depan, bukankah seharusnya Anda menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Mount Everest? Apa jawabannya, “Ya benar, pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilahkan Edmund Hillary untuk menjejakkan kakinya dan menjadi orang pertama di dunia yang menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia”. Lalu kembali ia ditanya, “Mengapa anda lakukan itu?” “Karena itulah impian Edmund Hillary, bukan impian saya, impian saya  hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih impiannya”. Bagi saya, Tenzing Norgay telah mengajarkan kita hakikat dari sebuah ketulusan, pengorbanan, dan kebaikan.

Selama 2 tahun terakhir, setiap saya bertemu orang-orang besar, saya selalu minta nasihat kepada mereka, saya tarik satu benang merah dari nasihat-nasihat mereka, “Di balik orang-orang besar, senantiasa ada amal ibadah yang memesona”. Orang yang membuat mata kita basah, kok ada orang sebaik ini, kok ada orang sehebat ini, adalah orang-orang yang melakukan sesuatu yang kita bisa lakukan, ini bukan tentang kemampuan, melainkan tentang kemauan, ini tentang kesediaan.

“Periksa diri jika cita belum tertuai, jangan-jangan badan kita belum pantas disinggahi kemuliaan”

(dr. Gamal Albinsaid)

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top