Kesuksesan di Tengah Keterpurukan

“Ketika sebuah pintu tertutup, pada saat yang sama Allah telah membuka pintu yang lain, tapi sebagian manusia lebih memilih meratapi pintu yang tertutup dibandingkan pintu lain yang telah terbuka.”

(dr. Gamal Albinsaid)

 

Bismillahirrahmanirrahim.

Ketika Rasulullah SAW diusir dari Makkah, beliau memutuskan untuk menetap di Madinah dan kemudian berhasil membangunnya menjadi sebuah negara yang besar dan dikenang oleh sejarah.

Ahmad ibn Hambal pernah dipenjara dan dihukum dera, tetapi karena itu ia kemudian menjadi imam salah satu madzhab. As-Sarakhsi pernah dikurung di dasar sumur selama bertahun-tahun, tetapi di tempat itulah  ia berhasil mengarang buku sebanyak dua puluh jilid. Ibnu Taimiyyah pernah dipenjara, tetapi justru dipenjara itulah ia banyak melahirkan karya.  Buya Hamka menyelesaikan Tafsir Al-Azhar ketika dipenjara. Dr. Aidh Adullah Al Qarni menyelesaikan 100 halaman pertama La Tahzan ketika di penjara.

Ketika Ibnul Atsir dipecat dari jabatannya, namun ia berhasil menyelesaikan karya besarnya yang berjudul Jami’ul Ushul dan an-Nihayah, salah satu buku paling terkenal dalam hadist, dan tetap berkarya meskipun lumpuh tangan dan kakinya.

 Ibnul Jawzy, ia pernah diasingkan dari Baghdad, dan karena itu ia menguasai qiraah sab’ah. Malik ibn ar-Raib terjangkit suatu penyakit yang mematikan, namun ia mampu melahirkan syair-syair yang sangat indah dan menyejarah, mengalahkan karya-karya para penyair besar zaman Abbasiyah.  Lalu ketika semua anak Abi Dzuaib al-Hudzali, mati meninggalkannya seorang diri, ia justru mampu menciptakan syair-syair puitis yang mampu membekam mulut zaman, membuat setiap pendengarnya tersihir, memaksa sejarah untuk selalu bertepuk tangan saat mendengarnya kembali.

Nelson Mandela, berjuang sejak usia 25 tahun, lama perjuangannya 67 tahun, dan 27 tahun di antaranya di penjara. Muhammad Hatta juga pernah berpesan, “Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”.

Jika mendapat cobaan, ujian, kesulitan, kesedihan, hasilkan sebuah karya, pencapaian, dan hasil yang pantas dan senilai dengan cobaan itu. Sadarilah, saat tertimpa musibah atau kegagalan, ada hikmah besar yang terkandung di dalamnya. Ketika sebuah pintu tertutup, pada saat yang sama Allah telah membuka pintu yang lain, tapi sebagian besar manusia lebih memilih meratapi pintu yang tertutup dibandingkan memasuki pintu lain yang telah terbuka. Jika hujan semakin deras, itu tandanya langit akan segera terang. Jika cobaan semakin berat, itu tandanya akan segera usai. Inama al usri usro, sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.

Kalau Allah sudah berkata Kun fayakun, Maha Suci Allah yang ditanganNya segala kekuasaan berada dan kepadanyalah semua urusan dikembalikan.

Bagi kita sesuatu yang baik itu yang mengenakkan, tapi Allah melihat sebagai sesuatu yang membaikkan, itu alasan kenapa yang baik kita sangka buruk dan yang buruk kita sangka baik. (dr. Gamal Albinsaid)

 

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top