Cukup 2 Kata, ‘Untuk Allah’

“Yang kita lakukan bisa saja kecil, tapi Allah berwenang membesarkan kita dari keikhlasan yang kita lakukan”

(dr. Gamal Albinsaid) 

Bismillahirrahmanirrahim. 

Kawanku semua, dengan penuh kerendahan hati izinkan saya berbagi pengalaman ini. Tiga tahun lalu saya mengembangkan Indonesia Medika, sebuah perusahaan kesehatan inovatif, dengan pertolongan Allah, inovasi yang perusahaan kami kembangkan mendapatkan penghargaan kehormatan dari Kerajaan Inggris, HRH The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur Award yang diserahkan oleh Pangeran Charles setelah mengalahkan 511 pengusaha dari 90 negara. Izinkan saya membagikan hikmahnya.

Kawan, yang kita lakukan bisa saja kecil dan sederhana, tapi Allah berwenang sepenuhnya membesarkan kita dari keikhlasan yang kita lakukan. Apa ada yang lebih baik daripada melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baik cara dan sebaik-baik niat?  Tugas kita hanyalah bekerja dengan ketulusan dan kesungguhan, maka keberhasilan hanya masalah waktu.

Banyak orang bekerja dengan otot dan otaknya, tapi ia lupa mengajak hatinya untuk bekerja. Ada juga, banyak orang mulai pekerjaan dengan niat yang ikhlas, tapi tidak banyak diantara mereka yang bertahan dengan keikhlasannya. Berhati-hatilah, karena impian tanpa keikhlasan akan menjelma menjadi ambisi yang merusak.

Padahal, ikhlas tidak ikhlas kita tetap bekerja, ikhlas tidak ikhlas kita tetap lelah, ikhlas tidak ikhlas kita tetap meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran, lalu kenapa kita tidak memilih untuk ikhlas saja? Orang ikhlas dengan tidak yang dikorbankan sama tapi hasilnya berbeda. Jika kita melakukan kebaikan kepada manusia, berharaplah balasan dari Allah. Balasan Allah akan jauh lebih besar dari balasan manusia.

Allah berfirman, “Bila engkau melakukan apa yang Aku mau, maka Aku pun mau melakukan yang engkau mau wahai hambaKu” (Hadist Qudsi). Kawanku, pastikan amal-amal kita penuh keikhlasan, sehingga Allah memantaskan kita jadi bagian orang-orang yang dicintaiNya.  Tugasmu hanya berikhtiar dengan ikhlas dan disanalah pahala surga menantimu. Oleh karenanya, Biarkan semua yang kita lakukan tercukupkan dalam 2 kata, untuk Allah. Jika akhirat tujuanmu, Allah kan kuatkan urusanmu, jadikan kekayaan pada hatimu, dan dunia akan datang padamu dalam dalam keadaan tunduk. Barang siapa menjadikan Allah keterpesonannya, maka ia akan memesona bagi semua mata.

Hayatilah pesan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, “Dia yang hatinya tersambung langit, kebiasaannya bernilai ibadah. Dia yang hatinya terikat bumi, ibadahnya bernilai kebiasaan.” Kerja fisik kita bercerita tentang masa depan dunia kita, kerja hati kita bercerita tentang masa depan akhirat kita. Karena itu, tak peduli jadi pejuang yang dikenal atau tidak, jadi yang menjabat atau tidak, keikhlasan mendalam yang memosisikan mereka akhirat kelak. Untuk apa dipuja di dunia, tapi terhina di akhirat.

Ikhlas itu seperti Surat Al Ikhlas, tidak terdapat satu kata ikhlaspun di dalamnya. “Bila mata tidak terhalang maka hasilnya adalah penglihatan; bila telinga tidak terhalang maka hasilnya adalah pendengaran; bila mulut tidak terhalang maka hasilnya adalah ucapan; bila hati tidak terhalang maka hasilnya adalah keikhlasan”. Ingatlah pesan Imam Al-Ghozali, sesungguhnya semua manusia merugi kecuali mereka yang berilmu, sesungguhnya semua manusia yang berilmu merugi kecuali mereka yang beramal, sesungguhnya semua manusia yang beramal merugi kecuali mereka yang ikhlas.

“Ikhlaskan, ikhlas tetap ikhlas tetap bekerja, lalu mengapa tidak memilih untuk ikhlas saja.”

(dr. Gamal Albinsaid)

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top