Jalan Kepemimpinan, Jalan Penderitaan

“Tidak peduli usia kita, siapapun yang punya ide dan gagasan, mereka punya tempat untuk bekerja di negeri ini”. (dr. Gamal Albinsaid)

 

Bismillahirrahmanirrahim.

Pemuda itu ibarat matahari pukul 12.00, saat bersinar paling terang, paling panas, dan membara! Kita sering lupa, yang tak memaknai membiarkan ia berlalu tanpa berkah. Masa muda hampir berlalu, tak ada waktu untuk berpangku tangan! Saatnya berlari lebih cepat! Don’t let anyone look down on you caused by you are young! Jangan biarkan orang meremehkan anda, karena anda masih muda. Tidak peduli usia kita, siapapun yang punya ide dan gagasan, mereka punya tempat untuk bekerja di negeri ini.

Mari melihat sejenak keteladanan integritas dari pemimpin-pemimpin terdahulu kita yang membuat mata kita basah. K.H. Agus Salim hidup dengan istri dan 8 orang anaknya dalam rumah kecil dengan 1 kamar dan berjualan minyak tanah eceran untuk  memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan ketika ada acara di Jogjakarta, beliau membawa minyak tanah untuk membiayai perjalanannya.

Apa nasihat beliau? Ada 2 bahasa dalam bahasa Belanda yang diucapkan sama, tapi tertulis berbeda, yaitu  leiden dan lijden. "Een leidersweg is een lijdensweg. Leiden is lijden", yang berarti Jalan Kepemimpinan adalah Jalan Penderitaan, Memimpin adalah Menderita. Pengorbanan itu erat sekali dengan penderitaan, kita diangkat jadi pemimpin karena kita mampu menganggung beban lebih dari yang lainnya, kita siap tidur paling malam, bangun paling pagi, memberikan waktu paling banyak. Itulah yang membuat saya yakin bahwa loyalitas akan diberikan kepada siapa yang paling banyak memberikan pengorbanan.

Bukan hanya K.H. Agus Salim, pemimpin lain pun dengen penuh kerendahan hati berlomba-lomba hidup dalam kesederhanaan. Ketika Menteri Keuangan Era Soekarno, Pak Syafrudin yang tak mampu membeli popok untuk anaknya. Perdana Menteri kelima Indonesia Muhammad Natsir menggunakan jas tambal dan menggayuh sepeda ontel ke rumah kontrakannya. Kita rindu sosok Natsir yang rela meninggalkan kuliahnya, demi memerdekakan bangsanya, berani tinggalkan zona kepastian menuju zona ketidakpastian.

Mohammad Hatta tak mampu memberli sepatu impiannya hingga akhir hayat. Abdul Rahman Baswedan yang harus meminjam telpon tetangganya. Jendral Hoegeng tak menempati rumah dinas di Jalan Patimura Jakarta Selatan, ia memilih tinggal di rumah sederhana di Jalan Madura, Jakarta Pusat. 

Dari mereka saya belajar, puncak kebijaksanaan kan kau capai tatkala kau bersihkan diri dari kepentingan pribadi. Hal yang kerap kali membuat kita jauh dari integritas adalah tatkala motivasi rendah seperti harta, tahta, wanita, mengalahkan motivasi tinggi seperti kehormatan, kejujuran, dan kebesaran hati

Kawan, suatu saat nanti bangsa ini akan menyadari, bahwa kita, pemuda Indonesia, adalah orang yang dinanti-nanti.

“Masa muda hampir berlalu, tidak ada waktu untuk berpangku tangan!” (dr. Gamal Albinsaid)

 

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top