Puncak Kemampuan

“Jangan biarkan siapapun membelenggumu, kamu harus liar, bebas, berani, tapi tetap santun”

(dr. Gamal Albinsaid)

 

Bismillahirrahmanirrahim.

Coba lihat uang 100 ribu, jika saya beri, apakah Anda mau dengan uang ini, mau bukan? Sekarang saya reman-remas, apakah Anda masih mau dengan uang ini? Mau bukan? Satu hal yang bisa kita pelajari, apapun yang telah saya lakukan terhadap uang ini tidak mengubah keinginan Anda untuk memilikinya. Anda mau, karena Anda tahu, sekotor apapun uang ini, selecek apapun uang ini, 100 ribu tetaplah 100 ribu.

Seperti hidup ini, mungkin kita pernah jatuh, pernah kotor, pernah diinjak-injak, pernah ‘menyeka keringat orang’, pernah dicaci, pernah dimaki, pernah gagal. Tetapi itu semua tidak akan pernah bisa mengubah nilai kita sebagai manusia. Kita tetap bernilai dan berharga bagi orang-orang di sekitar kita, terutama bagi yang menyayangi dan mencintai kita. Kalaupun tidak ada yang menyayangi kita, masih ada Allah sang pencipta yang mencintai kita.

Apakah Anda sepakat dengan prinsip hiduplah seperti air yang mengalir? Jangan kawan, karena air itu akan mengalir sampai titik terendah, tapi kita manusia diminta mencapai puncak tertinggi kehidupan.

Jika seorang terpanggil menjadi tukang sapu, ia seharusnya menyapu seperti Michaelangelo melukis, Beethoven menuliskan komposisi musiknya, atau Shakespeare menuliskan puisinya. Ia seharusnya menyapu dengan begitu baik, sehingga seluruh penghuni surga dan bumi akan berhenti sejenak sambil berkata di sini telah hidup seorang penyapu jalan yang begitu hebat, yang menjalankan tugasnya dengan begitu baik.

Jika anda terpanggil menjadi seorang guru, mengajarlah seperti Abdurahman bin Auf berdagang, Imam Syafii belajar dan mengajarkan Islam, dan Muhammad Alfatih membebaskan Konstantinopel. Mengajarlah dengan begitu baik, hingga malaikat mendoakan kita dan kita memantaskan diri menjadi orang-orang yang dicintai Allah. Seperti pesan Rasulullah, “Lakukan pekerjaan pada puncak kemampuanmu.”

Catat ini baik-baik kawan, “Tatkala lelah, ingatlah boleh jadi kesibukan kita sedang dimimpikan banyak orang di luar sana.Jangan sia-siakan pekerjaan dan kesibukan kita.”

“Jadikan sisa hidupmu sebagai bagian terindah dalam perjalananmu.”

(dr. Gamal Albinsaid)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top