Seberapa Besar Pengorbanan Kita?

“Anda yakin bekerja keras di usia muda memberhasilkan, anda yakin mengorbankan waktu, tenaga, pikiran untuk kebaikan akan membawa pada surga, tapi seberapa sering anda melewatkannya, mengkhianati dan tak setia dengan yang anda yakini”

(dr. Gamal Albinsaid)

 

Bismillahirrahmanirrahim

Kawanku semua, saya lahir dan tumbuh besar di Kota Malang. Kota ini tidak hanya dikenal dengan kesejukan dan keindahan bunganya, namun juga telah melahirkan klub sepak bola yang namanya sudah menggema di Indonesia.

Ya, klub itu adalah Arema. Tapi saya tidak ingin bercerita tentang Arema, izinkan saya berbagi tentang Aremania. Pada tahun 2000, Aremania menunjukkan dedikasinya sebagai suporter, mereka rela patungan demi mendukung kiprah Arema melanjutkan kompetisi nasional hingga tuntas. Aremania bertebaran di pinggir jalan, melakukan iuran, jual RBT, koran, stiker Arema, bahkan mengamen untuk berpartisipasi dalam mempertahankan keberadaan klub sepak bola Arema.

Terulang kembali, pada tahun 2010, Arema dilepas oleh sponsor utama. Aremania kembali membuktikan dedikasinya sebagai supporter. Mereka kembali  turun ke jalan, berjualan merchandise, membuka rekening pundi amal Arema di penjuru nusantara, meluncurkan RBT lagu-lagu Arema untuk mempertahankan eksistensi klub ini. Bukan tanpa alasan kami bangga menyebut diri sebagai Aremania. Kisah ini menjadi pembeda keberadan supporter tim ini dengan tim-tim lain di negeri ini. Satu hal besar yang saya pelajari dari Aremania adalah pengorbanan.

Untuk Anda yang menghardik dan menghina supporter bola, jangan-jangan pengorbanan Aremania untuk arema jauh lebih besar dibandingkan pengorbanan Anda untuk sesuatu yang Anda yakini kebenarannya. Anda yakin bekerja keras di usia muda memberhasilkan, Anda yakin mengorbankan waktu, tenaga, pikiran untuk kebaikan akan membawa pada surga, tapi seberapa sering kita melewatkannya, mengkhianati dan tak setia dengan yang kita yakini?

Kalau kamu ingin kemuliaan hidup, bangunlah saat yang lain masih tidur dan tidurlah larut malam. Untuk cita dan mimpimu, apakah engkau siap terjaga, ketika orang lain tertidur? Apalah engkau siap lapar ketika orang lain kenyang? Seperti pesan Imam Syafi’i “Bersibuk-sibuklah selalu, karena kenikmatan hidup itu ada pada saat kita bersibuk-sibuk”

Pengorbanan Hamzah bin Abdul Munththalib yang mendapatkan gelar Singa Allah, ia sebagai komandan Perang Badar mampu menggetarkan pasukan musuh dan menjadikannya menang secara gemilang. Di perang berikutnya, perang uhud, Rasulullah harus menahan sakit ketika gigi seorang sahabat Rasul harus ronok karena berusaha mencabut 2 rantai besi di pelipis Rasulullah.

Namun luka itu tidak ada apa-apanya dibandingkan luka hati Rasulullah yang mengetahui pamannya, Hamzah bin Abdul Munththalib dibunuh dengan cara yang sadis, bukan hanya luka tusukan tombak, tetapi robekan dada, jantung yang dikelurakan, bibir, hidung, dan kedua telinga yang dipotong, perutnya terbuka dengan hati yang telah terkoyak.

Tatkala shalat jenazah, sahabat dishalatkan satu per satu secara bergantian dan selalu bersanding dengan jenazah Hamzah, hingga Rasulullah dan para sahabat menshalatkan Hamzah 73 kali dan disebutlah Hamzah sebagai pimpinan para syuhada.

Bilal Bin Rabah, budak yang direndahkan oleh manusia, namun ditinggikan derajatnya oleh Islam. Ketika disiang dalam terik matahari, beliau diikat majikannya, terus dicambuk, dan ditimpa batu besar, Bilal terus berkata Ahad…. Ahad…. Ahad…

Betapa besar cintanya pada Rasulullah, sejak Rasulullah meninggal ia tak mampu mengumandangka adzan. Suatu ketika cucu Rasulullah dan Umar bin Khathab  memohon kepadanya untuk adzan kembali. Bilalpun mengumandangkan adzan, seluruh penduduk Madinah berhamburan menuju Masjid Nabawi.

Pucaknya “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah“ sejauh suara Bilal terdengar, maka orang yang mendengarnya pasti menangis mengingat Rasulullah, hingga seisi Kota Madina pecah oleh tangis, teringat masa indah bersama Rasulullah.

Betapa besar pengorbanan dan cintanya pada Islam dan Rasulullah, hingga Rasulullah pernah berkata pada Bilal “Sesungguhnya, aku mendengar suara terompahmu di surga”. Bagaimana dengan kita? Seberapa besar pengorbanan kita?

Akhir kata, ingatlah pesan Umar bin Khatab "Aku telah membuktikan bahwa kenikmatan hidup itu ada pada kesabaran kita dalam berkorban”. Ayo kawan, maksimalkan sisa umur kita untuk beribadah kepadaNya, “Bekerja keraslah, sungguh Allah tahu lelahmu!“

“Bekerja keras dan berkorbanlah, sungguh Allah tahu lelah dan sabarmu”

(dr. Gamal Albinsaid)


 


Back to Top