Cinta Imani VS Cinta Syahwati

“Lelaki sejati itu datangi Ayahnya, bukan putrinya!”

(dr. Gamal Albinsaid)

 

Bismillahirrahmanirrahim...

Lelaki sejati itu datangi Ayahnya, bukan putrinya!

Lelaki sejati itu ngajak wedding, bukan dating!

Lelaki sejati itu ngajak akad, bukan ngasih coklat!

Jangan kau terima lelaki tak punya nyali untuk bertanggung jawab!

 

Banyak orang membungkus nafsu dengan cinta,
Sedang calon penghuni surga melawan nafsu dengan cinta,
Walau terkadang bumi melecehkan pemulia cinta,
Walau sering bumi memuliakan peleceh cinta,
Tetaplah menjalin cinta imani, bukan cinta syahwati!

Kawanku semua, hati-hatilah dalam mencinta, bukankah di akhirat engkau akan bersama orang yang engkau cintai? Ingatlah pesan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah “Cinta akan lenyap dengan lenyapnya sebab”. Oleh karenanya, jika kau mencintai seseorang karena kecantikannya, begitu kecantikannya hilang, kau akan kehilangan cintamu kepadanya, jika karena harta, begitu hartanya hilang, hilanglah cintamu kepadanya. Oleh karena itu jadikan sesuatu yang abadi sebagai sebab rasa cintamu, karena Allah. Akan ada hari dimana kita menyadari ternyata anak kita lebih membutuhkan ibu yang soleh dan pintar dibandingkan ibu yang cantik.

Jika ada seseorang mengajakmu salat berjamaah di awal waktu, mengajakmu ikut kajian, mengajakmu belajar Quran, bertanya kapan kau akan memakai jilbab, memberitahumu untuk tidak ghibah, khawatir saat kau berduaan dengan bukan muhrimmu, itu artinya dia sayang padamu. Cinta adalah kata kerja. Mencintai itu memberi, membaikkan, dan membahagiakan. Jika melukai, menyedihkan, menjauhkan dari Sang Pencipta, menjadikan lupa diri, itu bukan cinta.

Dahulu saya berfikir, jika kita sudah memberikan semua yang kita miliki untuk orang yang kita cintai, tapi ia tidak menghargai, mungkin kitaa sedang memberikan cinta ke orang yang salah. Namun sekarang saya menyadari, mencintai itu memberi, entah kita dihargai atau tidak, dibahagiakan atau tidak, kita sudah cukup bahagia dengan memberi.

Kenapa sebaiknya pacaran setelah menikah? Karena wanita bukan untuk dicoba-coba. Ku ingin menjagamu karenanya aku menjauhimu. Kalau masih punya pacar? Katakan pada pacarmu, “Jika engkau wanita yang tertulis untukku di Lauhul Mahfud, Allah pasti kan jaga rasa kasih tetap tumbuh di hatiku dan di hatimu, tapi selama tidak ada ikatan diantara kita, jangan hiraukan perasaan itu, karena kita tidak berhak atasnya.”

Allah tak pernah ingkar janji, kalau terus menjaga diri, akan mendapat pendamping yang lurus hati. Dengan cinta imani kau akan membawa sang kekasih ke surga abadi, sedang cinta syahwati akan membawamu dengannya dalam penyesalan abadi.

Kawan, ingatlah pesan Ibnu Qayyim: “Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah.”

 

Cintailah seseorang yang bisa menjadi penyemangat disaat taat dan menjadi pengingat disaat maksiat.

Carilah suami yang bisa menjadi ayah yang baik, karena ayah adalah jabatan yang tak tergantikan.

Cintailah orang yang bisa menjadi imam dalam salat malammu.


“Jika ada seseorang mengajakmu salat berjamaah di awal waktu, mengajakmu ikut kajian, mengajakmu belajar Quran, bertanya kapan kau akan memakai jilbab, memberitahumu untuk tidak ghibah, khawatir saat kau berduaan dengan bukan muhrimmu , bersedih saat kau keluarkan makian, itu artinya dia sayang padamu.”

(dr. Gamal Albinsaid)


Back to Top