Apakah Uang Membahagiakan?

“Percayalah, uang hanya akan membahagiakan sampai titik tertentu.”
(dr. Gamal Albinsaid)
 
Bismillahirrahmanirrahim….
 
Ingatkah Anda dengan Lee yoon Hyung? Usianya 26 tahun, ahli waris Samsung, kaya raya, sahamnya 1,73 triliyun, cantik, ayahnya pemimpin Samsung Grup, raksasa elektronik Korea Selatan, kurang apa? Tapi ternyata dia tidak punya keberanian melanjutkan hidup, usia 26 tahun dia bunuh diri.
 
Jika kekayaan membahagiakan, tentunya Adolf Merckle, orang terkaya nomer 5 di Jerman tidak akan menabrakkan badannnya ke kereta api. Kalau popularitas itu membahagiakan, tentunya Raja Pop Michael Jackson tidak akan overdosis obat tidur. Kalau keindahan paras itu membahagiakan tentunya Marilyn Monroe tidak akan overdosis alkohol dan obat depresi. Kalau kekuasaan itu membahagiakan, tentunya Gestulio Vargas, presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya sendiri.
 
Itu semua bukti nyata bahwa tidak ada hubungannya antara kekayaan, popularitas, keindahan paras, dan kekuasaan dengan kebahagiaan. Percayalah, uang hanya akan membahagiakan sampai titik tertentu, kalau kita ingin kebahagiaan lebih, kita butuh lebih dari uang, kita butuh keikhlasan, kesabaran, dan syukur yang mendalam. Asalkan hati kita selalu bersyukur, kita bisa bahagia walau hanya duduk dengan secangkir kopi dan keluarga di samping kita.
 
Suatu hari Ibnu Abbas r.a ditanya oleh para Tabi’in mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia? Di antara 7 hal yang beliau sampaikan, pertama adalah Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur dan yang kedua adalah al azwaju shalihah, atau pasangan hidup yang saleh.
 
Lalu di mana kebahagiaan? Apa yang bisa memberikan kebahagiaan dalam hidup ini? Bahwa benar orang yang paling bahagia adalah orang yang mengenal Allah. Orang yang mengenal Allah tidak akan sedih, karena ia mengerti bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hambaNya. Orang yang mengenal Allah tidak akan lupa bersyukur, karena ia tahu semakin ia tahu semua karunia dari Allah dan semakin ia bersyukur, semakin Allah tambah karunianya. Orang yang mengenal Allah tidak akan khawatir dengan jodohnya, karena ia mengerti bahwa Allah telah menuliskan jodohnya di Lauhul Mahfud.
Kebahagiaan itu bukan di luar, tapi di dalam, di sini, di hati kita.
 
Mungkin kita sukses, tapi apa kita bahagia?
 
Tidak peduli seberapa kaya, indah paras, dan pintarnya engkau, jika saat ini engkau tidak bahagia, pasti ada yang salah!
 
Jika kau inginkan kemuliaan, jangan biarkan hatimu memuliakan uang.
 
 
“Asalkan hati kita selalu bersyukur, kita bisa bahagia walau hanya duduk dengan secangkir kopi dan keluarga di samping kita.” (dr. Gamal Albinsaid)

Back to Top