Rasulullah Teladan Romantisme

 “Rasulullah telah meneladankan kepada kita mulai cara bagaimana menjadi kepala keluarga sampai cara menjadi kepala negara,”

(dr. Gamal Albinsaid)

 

Bismillahirrahmanirrahim…

Betapa banyak orang yang terbayang indahnya pernikahan. Mereka berangan jika setiap pagi ada yang menyiapkan makanan, jika lelah ada yang memijat, atau jika baju kotor ada yang mencuci. Ah, kadang kita terlalu berangan-angan tinggi. Seakan-akan hal itu menjadi tugas mutlak sang istri. Namun mari kita tengok teladan kita, Rasulullah yang begitu santun dan lembut dalam memperlakukan istrinya, bahkan hampir tidak pernah merepotkan istrinya. Mampu memosisikan diri sebagai seorang suami yang teladan.

Suatu ketika sepatu Rasulullah rusak, beliau menambalnya sendiri. Tak ada gerutu, tak ada kemarahan, dengan sabar beliau melakukannnya. Suatu pagi, sang nabi menemui ‘Aisyah, lalu bertanya ada makanan apa hari ini? ‘Aisyah dengan tersipu malu menjawab, ‘Aku belum menyiapkan apa-apa”. Sang Nabi pun tidak marah, beliau tersenyum dan mengatakan, ‘Kalau begitu, aku puasa hari ini.’ Subhanallah, betapa mulianya akhlak beliau. Mari kita tengok rumah tangga kita, sudahkah demikian? Apakah ketika istri kita belum selesai memasak, kita bersabar dan ikut membantunya? Atau justru kita marah dan kecewa lantas kita lebih memilih makan di luar.

Ketika Aisyah marah, Rasulullah mendekatinya, lalu meletakkan tangan beliau di pundak Aisyah seraya berdoa “Ya Allah ampunilah dosanya, hilangkanlah kemarahan hatinya dan jauhkanlah ia dari segala fitnah.” (HR. Ibnu Atssunni). Betapa indahnya perilaku, bahkan dalam kemarahan istrinya ada barokah, ada cinta yang diwujudkan dalam doa. Kemarahan Aisyah tak dibalasnya dengan kemarahan yang sama. Namun justru sang nabi menyejukkannya dengan kemesraan dan kesejukan dalam doa. Betapa romantismenya beliau dalam meredam emosi sang istri, tak melukai perasaan istri sedikitpun.

 

“Great leaders start at home”

(dr. Gamal Albinsaid)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Back to Top