Chiki Fawzi: Passion-ku, Jalan Dakwahku

“Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.” (HR. Thabrani)

Hadits Nabi SAW. tersebut menjadi salah satu bagian dari prinsip hidup seorang perempuan berusia 27 tahun ini. dia berkegiatan dan memilih profesi yang benar-benar ia pilih sesuai kehendak hatinya. Tak hanya itu, kegiatannya pun bisa bersinergi dengan masyarakat luas untuk bersama menebar manfaat.

Adalah Marsha Chiki Fawzi, seorang animator perempuan Indonesia yang terlibat langsung dalam proses pembuatan kartun asal Malaysia Upin Ipin. Awalnya, Chiki, begitu ia akrab disapa, hanya bekerja paruh waktu di sebuah rumah produksi asal Malaysia untuk memenuhi persyaratan nilai akademisnya sebagai mahasiswi akhir University Multimedia Malaysia (UMM). Dari sana, ia banyak belajar tentang semua hal dari pembuatan animasi dengan mencoba berbagai pekerjaan, seperti memberikan cahaya pada gambar, mengatur komposisi gambar, menggerakkan gambar, sampai mempelajari karakter suatu tokoh animasi.

Tiga tahun lebih Chiki berkuliah dan tinggal di Malaysia sambil mendalami ilmu animasi, ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia pada tahun 2012. Perempuan kelahiran 28 Januari 1989 ini datang ke tanah air dengan membawa segala macam ide segar untuk kemajuan dunia animasi di Indonesia. Katanya, ia ingin menghadirkan cerita-cerita baik dan bermanfaat bagi anak Indonesia melalui animasi. Berbagai macam ide segar tersebut pun melahirkan sebuah rumah produksi bernama Monso House, sebuah perusahaan animasi independen yang dibuat Chiki bersama lima orang rekannya.

Perusahaan kecil yang sudah berdiri sejak 2012  ini cukup aktif dalam berkarya. Salah satu proyek besar yang  digarap dalam waktu dekat ini adalah film animasi yang berjudul Goceks sudah mulai dilakukan termasuk bekerjasama dengan penerbit buku ternama. Beberapa film gubahan  Monso House yang tampil di situs youtube Monso House adalah film pendek, yaitu Altitude Alto, Bite, dan Diagnose Me Dr. Vroom. Chiki dan tim juga membuat animasi Kembang Gula yang menjadi salah satu intelectual property milik Monso House. Pertengahan 2015, Monso House menghadirkan film Goceks. Ceritanya tentang anak-anak kecil yang suka bermain bola di jalanan dengan setting Jakarta di tahun 2040 untuk menyemangati anak-anak Indonesia untuk berani bermimpi untuk masa depan lebih baik.

Menurut Chiki, alasan ia mendirikan Monso House adalah karena industri animasi Indonesia kurang eksis di tanah air. Jadi dia dan teman-temannya  berharap rumah produksi ini  bisa membangkitkan kembali dunia animasi Indonesia melalui film yang mereka buat sambil menyampaikan pesan-pesan moral kepada anak-anak Indonesia.

Mencintai Passion

Tidak hanya lewat animasi, ternyata anak kedua dari pasangan Ikang Fawzi dan Marissa Haque ini juga mencintai seni jenis lain. Ditemui GoMuslim saat tampil di acara Muslima Fit & Fun Fest 2016, Sabtu (19/03) di Mal Kota Kasablanka, Chiki terlihat piawai memainkan alat musik gitar dan pianika bersama bandnya. Saat itu Chiki menyanyikan  dua buah lagu ciptaannya sendiri yang berjudul Kala Sejuk Hati dan Bulan di Telinga.

“Insya Allah aku akan launching album perdana pada rencana tanggal 30 Maret atau awal April tahun ini. Album itu berisi lagu-lagu ciptaanku sendiri yang tersinpirasi dari banyak hal, misalnya tentang kisah cinta ayah dan ibuku, pelajaran untuk masa lalu, sampai dari binar-binar mata anak-anak Indonesia yang sarat akan makna perubahan di masa depan,” jelas perempuan yang juga aktif menjadi relawan di Komunitas Kelas Inspirasi (Indonesia Mengajar) Jakarta.

Ketika ditanya, profesi apa yang menjadi konsen tertingginya, Chiki menjawab, selama ini dia menjalankan berbagai tanggung jawab itu karena ia menyukainya. Katanya, semua itu adalah bagian dalam dirinya. Darah seni yang mengalir dari kedua orang tuanya membuat Chiki makin bersemangat untuk terus berkarya dan juga bermanfaat melalui karya-karyanya itu.

Terlebih, kini Chiki juga aktif menjadi pelukis mural (lukisan di dinding). Ia sering diminta untuk membuat mural, lukisan yang digambar di dinding yang biasa  dilakukannya di akhir pekan agar tidak mengganggu waktu kerjanya.

“Saat ini aku aktif menjadi relawan untuk mengajar di sekolah-sekolah anak marginal sambil nyanyi dan juga freelance mural artist. Karena awal tahun ini, aku dengan berat hati memutuskan untuk membekukan sementara kegiatan di Monso House, karena aku sadar untuk menjalankan bisnis itu kita perlu investor yang kuat. Jadi, untuk saat ini, aku bermanfaat di bidang seni lain dulu, bukan di animasi,” jelas adik dari Isabella Fawzi ini.

Chiki juga berpesan kepada kaum muda Indonesia, khususnya para muslimah, untuk tidak takut berkarya. Karena dengan berkarya kita bisa mencintai apa yang kita kerjakan. Setelah itu, kita bisa bermanfaat melalui karya-karya tersebut.

“Bagiku, passion bisa menjadi jalan kita untuk bermanfaat bagi orang lain. Berdakwah kan bisa di dengan cara apa saja, di mana saja dan kapan saja,” kata pemilik akun twitter @ChikiFawzi ini sambil tersenyum. (fau)

 

 

 

 

 


Back to Top