Hanum Salsa Rais: Ketika Saya Menjadi Muslim Minoritas di Eropa dan Amerika

Sebagai seorang muslim yang hidup di Indonesia, di mana Islam adalah agama mayoritas, membuat kita mudah mendapatkan dan melakukan apa pun. Mulai dari produk halal sampai kebebabasan beribadah sudah bisa kita penuhi dimana saja dan kapan saja. Hal tersebut menjadi berbeda bagi muslim Indonesia yang  harus tinggal di luar negeri, di mana Islam adalah agama minoritas. Selain menghadapi culture shock, mereka juga harus menyesuaikan diri dalam beribadah, mengonsumsi produk halal, sampai mencari pekerjaaan. Tak terkecuali pada mereka perempuan berhijab di negeri asing.

Hal tersebut juga terjadi pada seorang wanita kelahiran Yogyakarta, 12 April 1982 yang merasakan kehidupan menjadi seorang muslim di negeri asing bersama sang suami. Uniknya, pengalaman pahit hingga manisnya tersebut menjadi inspirasi untuk menghasilkan karya buku yang laris di Indonesia. Selain itu, melalui perjalanan di negeri asing, dia juga akhirnya memutuskan untuk berhijab. Katanya, banyak hal yang bisa dia pelajari ketika menjadi seorang muslim minoritas.

Adalah Hanum Salsabiela Rais, putri mantan Ketua MPR RI Amien Rais ini, yang sudah menerbitkan buku-buku tentang pengalamannya menjadi seorang muslim di Eropa dan Amerika.

Ketika sang suami yang bernama Rangga Almahendra yang berprofesi sebagai dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gajah Mada (UGM) melanjutkan kuliah di Eropa, Hanum memulai petualangannya. Selama menemani suaminya kuliah, Hanum mencari kegiatan dengan bekerja untuk proyek video podcast Executive Academy di WU Vienna selama dua tahun. Ia juga tercatat sebagai koresponden detik.com bagi kawasan Eropa dan sekitarnya.

Kisah perjalanannya di Eropa menjadi inspirasi untuk menulis sebuah buku.  Akhirnya, tahun 2011 novel karya Hanum bersama suami terbit dengan judul Berjalan di Atas Cahaya dan 99 Cahaya di Langit Eropa yang kemudian diadaptasi menjadi film 99 Cahaya di Langit Eropa dan 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2. Sebelumnya pada 2010, Hanum juga pernah menerbitkan buku pertamanya yang berjudul Menapak Jejak Amien Rais: Persembahan Seorang Putri untuk Ayah Tercinta. Buku itu adalah novel biografi tentang kepemimpinan, keluarga dan mutiara hidup dari sosok sang ayah, Amien Rais.

Tidak hanya di Eropa, akhir tahun lalu, Hanum mendapat kesempatan untuk tinggal beberapa bulan di Amerika untuk melakukan proses syuting film yang diadaptasi dari novelnya dengan judul yang sama, yaitu Bulan Terbelah di Langit Amerika. Hanum bercerita, awalnya dia sempat takut tak mendapatkan izin untuk melakukan proses syuting film Islam di Amerika. Tapi setelah melakukan penjelasan film ini tentang apa, Hanum dan tim akhirnya diberi izin.

Berkarya Dengan Hati, Berhijab Karena Diri Sendiri

Pada peringatan Internatioal Women Day (Selasa, 8 Maret 2016), GoMuslim berkesempatan menghadiri seminar yang menjadikan Hanum sebagai pembicara di @america, Pasific Place, Jakarta. Seminar tersebut bertema tentang pengalaman para perempuan yang tinggal di Amerika. Hal itu disambut baik oleh Hanum yang bercerita tenag pengalamannya menemani sang suami untuk mengahdiri sebuah konferesni di Amerika. Hanum juga bercerita tentang pengalamannya saat ikut proses syting di Amerkia untuk film yang diadaptasi dari novelnya Bulan Terbelah di Langit Amerika.

Katanya, saat proses syuting berjalan lancar. Apalagi saat scene demonstrasi di masjid Ground Zero, proses syuting dijaga ketat dengan pengamanan polisi setempat. Hal itu membuat Hanum percaya bahwa Amerika tidak Islamphobia seperti yang diberitakan media saat ini.

Karena itu, banyak peserta yang mengajukan pertanyaan kepada alumni Fakultas Kedokteran UGM ini tentang karya-karya bukunya yang tentang menjadi Islam minoritas di Eropa dan Amerika. Palagi saat menulis Bulan Terbelah Amerika latar cerita adalah tragedy (9/11) yang bisa menjadi topik sensitif bagi hubungan kedua negara.

“Saya menulis buku-buku itu sebagi sebuah karya dari keresahan hati saya sendiri. Sebelumnya, saya merasa kenapa Islam selalu disudutkan, yang padahal hanya oknum-oknum tak bertanggungjawab yang melakukannya. Karena itu, dengan berkarya saya ingin menjelaskan bahwa Islam itu seperti apa melalui kisah perjalanan pribadi,” jelas Hanum.

Tidak hanya perihal karya, Hanum juga disuguhkan pertanyaan tentang alasan ia baru menggunakan hijab saat tinggal di Eropa, bukan sejak kecil atau remaja. Padahal ia adalah anak dari seorang tokoh nasional Amien rais, yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah. Dengan senyum Hanum menjelaskan, selama ini ia berhijab dan berkarya karena diri saya sendiri, bukan karena orang lain.

“Saya memang sering diomongin orang kenapa Hanum anaknya Amien Rais tak berjilbab. Tapi waktu itu saya memang belum menemukan alasan dari dalam hati untuk menutup aurat secara sempurna. Akhirnya, saat tinggal di Eropa bersama suami, saya mendapatkan sesuatu yang memanggil hati saya untuk berhijab. Karena itu, saya ingin berhijab karena diri saya, bukan karena saya anaknya Amien Rais. Begitu juga dengan berkarya,” jawab Hanum.

 

Terus Berkarya

Tahun ini, Hanum dikabarkan kembali akan menampilkan karyanya ke layar lebar dengan judul Bulan Terbelah di Langit Amerika Part 2. Film ini adalah kisah lanjutan film sebelumnya yang bercerita tentang perjalanan Hanum dan suami saat menjadi muslim di Amerika.

Selain itu, Desember 2015 lalu Hanum dan suami kembali menerbitkan novel dengan judul Faith and The City. Buku yang bercerita tentang karier, keluarga, cita, cinta, dan juga iman ini berbeda dengan buku-buku sebelumnya. 'Faith and The City' mengisahkan tentang pergolakan batin Hanum yang bekerja di stasiun televisi dengan tekanan rating, share, sampai masuk ke ranah kehidupan pribadi. Dia membuat karakter rekaan bernama Cooper, seorang pria yang berprofesi redaktur televisi di New York. Pria itu menawarinya tawaran yang susah ditolak yaitu menjadi produser acara 'Insights Muslims'.

Lebih lanjut, Hanum ingin terus berkarya untuk membuat banyak orang tercerahkan melalui karya-karyanya. Juga dengan hikmah di balik ketika dia menjadi muslim minoritas di Eropa dan Amerika. (fau) 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top