Dimas Seto: Belajar dari Tokoh yang Saya Perankan

Jakarta, (gomuslim). “Sebagai seorang aktor, saya punya tanggungjawab terhadap apa yang saya perankan. Karena itu, semoga peran pertama saya di film religi ini bisa berdampak baik bagi masyarakat.”

Harapan itulah yang menjadi jawaban seorang aktor yang sudah berkecimpung di dunia entertain selama sepuluh tahun ini. Dia banyak bercerita kepada wartawan di XXI Epicentrum, Kuningan, Sabtu (02/04/2016) tentang peran pertamanya sebagai seorang santri pondok pesantren di film berjudul Kalam-Kalam Langit (KKL). Ini adalah film religi pertamanya dalam kancah dunia perfilman Indonesia, sehingga juga merupakan pengalaman pertama menajdi seorang Santri, Ustadz, dan Qari.

Adalah Dimas Setowardana, atau yang akrab disapa Dimas Seto, aktor yang baru saja menyelesaikan syuting perdananya di film religi bertalar masyarakat muslim pesantren itu. Dalam film KKL, Dimas berperan sebagai Ustadz Jafar (tokoh utama) yang mempunyai bakat dalam melantunkan bacaan Alquran dengan indah (Qari'). Menurutnya, ini adalah film religi pertama yang membahas tentang tema kitab suci umat Islam, yaitu Alquran. Selain karena tema tersebut, film yang menggunakkan Lombok sebagai latar cerita ini pun dapat menarik perhatian para pecinta film di Indonesia.

Kalam Kalam Langit bercerita tentang kisah kearifan masyarakat yang berdasarkan naungan pesantren dan nilai nilai Islam yang kuat di wilayah Lombok Barat. Niat baik itu ditentang oleh ayahnya yang selalu memberi peringatan agar tidak memperjualbelikan kalam kalam Illahi demi mendapatkan popularitas di kawasan pesantren serta mendapatkan timbal balik berupa hadiah. Jafar kecil tumbuh hingga dewasa terus memperjuangkan cita cita dan cintanya. Di tengah kehidupan pesantren dengan beragam karakter yang dimiliki oleh penghuninya. Santri pun juga manusia, ada saja manusia yang nyeleneh, tega menyuap untuk kepopularitasannya.

Film yang  diadaptasi dari Novel dengan judul yang sama karya Pipiet Senja ini menampilkan Elyzia Mulachela, Dimas Seto sebagai (Ja'far Dewasa), Mathias Muchus sebagai (Ayah Ja'far), Ibnu Jamil, Henidar Amroe, Fauzan Smith, Meriza Febriani, dan Ade Firman Hakim. KKL resmi tayang pada 14 April 2016 mendatang di seluruh bioskop Indonesia.

 

Ada banyak pengalaman baru yang didapat Dimas di KKL. Dengan setting sebuah pondok pesantren (ponpes), Dimas harus beradaptasi dengan tinggal di ponpes sebenarnya. Sebuah pengalaman yang benar-benar baru mengingat Dimas dibesarkan di daerah urban.

"Saya tidak besar di ponpes, saya besar di urban, kota Jakarta. Saya belajar bagaimana cara kehidupan santri sehari-hari, cara santri bercanda, dan yang lain-lain. Mereka sekarang seperti keluarga bagi saya," jelasnya.

Sayangnya, meski sudah belajar tilawah, suara Ja'far saat bertilawah tidak menggunakan suara Dimas. Suara itu digantikan seorang qari dari Lombok. Meski begitu Dimas tak menyesal. Dimas merasa bahwa memang ada orang-orang yang diberi kelebihan suara indah untuk melantunkan  Alquran.

Belajar Islam Bersama Sang Istri

Beberapa tahun ini Dimas beserta sang Istri, Dhini Aminarti mulai mendalami Islam lebih giat. Mereka berdua sering terlihat hadir di beberapa kegiatan pengajian atau kajian Islam di masjid-masjid. Bahkan, Dimas dan Dhini juga bergabung dengan komunitas One day One Juz (ODOJ), sebuah komunitas yang mencanangkan kegiatan tilawah Alquran setiap hari satu juz. Dari sana, Dimas banyak bertemu banyak orang yang semakin menambah pengalaman keilmuannya dalam belajar Islam.

“Saya merasa film KKL ini dekat sekali dengan saya, apalagi saya juga anggota ODOJ, di mana Alquran sudah menjadi kegiatan rutin dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu berperan sebagai Ustadz Jafar di film ini membuat saya senang dan semoga pesannya bisa sampai ke penonton untuk bisa lebih membumikan Alquran,” kata Dimas.

Selain aktif di komunitas ODOJ, Dimas juga tercatat sebagai Duta Entrepreneur dari Pemuda Remaja Islam Masjid Agung At-Tin (PRISMA AT-TIN). Dimas didaulat sebagai duta remaja masjid bersama dengan rekan artis lainnya, yaitu Oki Setiana Dewi, Dude Harlino, Teuku Wisnu, dan lainnya. Dengan bergabung bersama Prisma, Dimas juga sering diundang menjadi pembicara dalam kajian-kajian yang dilakukan komunitas tersebut untuk memberikan motivasi dan inspirasi kepada anak muda.

 Belum lama ini di awal tahun 2016, Dimas merasa sangat bersyukur dan senang karena sang Istri memutuskan untuk mengenakan hijab. Ia bahkan mengakui jika istrinya semakin cantik dengan inner beauty yang semakin terpancar karena memakai pakaian muslimah tersebut.

Menurut Aktor kelahiran Jakarta, 23 Juli 1975 ini, dia melihat di satu sisi dengan berhijab, istrinya memang terlihat lebih cantik. Tapi lebih dari itu, inner beauty-nya menjadi lebih menonjol.

"Dhini dari dulu lebih cantik pakai hijab, saya selalu bilang itu. Tapi itu butuh proses. Karena ini adalah tanggung jawab muslimah kepada Allah, bukan pada suaminya. Semoga bisa mempermudah jalan suami masuk surga, karena mengarahkan istri ke jalan yang baik,"harapnya.

Berbisnis Busana Muslim

Bersama sang istri, Dimas terjun ke dunia bisnis fashion. Kemeja, baju koko, dan juga celana pria menjadi produk andalan dari brand bernama Larva besutannya ini. Larva sendiri adalah sebuah filosofi dari larva (ulat).Pasangan suami istri ini berharap bisnisnya  bisa berjalan maju "pelan tapi pasti". Melalui brand ini, mereka ingin lebih mengenalkan produk asli buatan Indonesia yang lebih khusus kepada fashion baju muslim yang sudah memiliki dua outlet di Bintaro dan Kalibata, serta bisa dibeli secara online di www.larvawear.com. (fau)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top