Juara DuniaMHQ Mesir

Bikin Juri Internasional Gemes, Beginilah Cara Musa Hafal Alquran

Sharm El-Sheikh, (gomuslim). Memang sepi dari pemberitaan media massa nasional, tetapi kemenangan bocah cadel ini dalam Musabaqah Hifzhil Quran (MHQ) International di Sharm El-Sheikh, Mesir yang dihelat pada 10-14 April 2016 lalu justru menarik perhatian dunia. Presiden Mesir langsung dijadwal memberi hadiah pribadi secara langsung, demikian juga Presiden Joko Widodo dari tanah air mengucapkan selamat kepada La Ode Musa (7), peserta termuda dan postur terkecil yang berhasil melampaui 80 peserta dari 60 negara lain.

"Kita bangga dg prestasi Musa La Ode Abu Hanifa, hafidz 7 tahun pada Musabaqah Hifzil Quran di Mesir -Jkw" ciut Kepala negara di akun Twitter @jokowi, Minggu (17/4).

Seperti diberitakan, Musa berangkat ke Mesir pada 9 April lalu untuk mengikuti MHQ Internasional. Keberangkatan Musa ditunjuk Kementerian Agama yang mendapatkan undangan dari Kementerian Wakaf Mesir dalam kompetisi MHQ Internasional. Ada tiga cabang yang, yaitu: cabang hafalan 30 juz dewasa beserta tafsir, cabang hafalan 15 juz dewasa beserta tafsir, dan cabang hafalan 30 juz untuk anak-anak. Pada lomba terakhir inilah Musa menggemparkan dunia.

Bocah istimewa ini membuat takjub dan gemas para dewan hakim MHQ Internasional karena penampilan Musa memang berbeda dengan peserta lain. Belum fasih bicara tetapi hafalannya kuat luar biasa. Usia paling muda, tubuh paling kecil dan terlihat paling lugu. Musa akhirnya dinyatakan menjadi juara III, dengan predikat istimewa karena lawannya rata-rata berusia 10 tahun. Kekurangan Musa dibanding lawan tandingnya adalah dalam hal pelafalan mahraj huruf hijaiyyah karena Musa belum dapat membuyikan huruf ‘R’ atau ‘ra-ri-ru’. Usai dinyatakan sebagai pemenang, para juri tidak kuasa menahan ingin menggendong bocah istimewa ini.

Musa mendobrak rekor. Bagi sebagian orang, kisah anak kecil mampu manghafal 30 juz Alquran dalam usia 7 tahun hanya ada dalam cerita kecerdasan Imam Syafi’i, tetapi sejak tahun lalu publik terbelalak melihat Musa yang baru berumur 5,8 tahun sudah menyelesaikan 29 juz hafalan dan saat ini dalam usianya yang belum genap ketujuh tahun, sudah dua kali memenangkan lomba hafalan Alquran tingkat internasional di Jeddah dan Mesir.

Dengan suara kanak-kanaknya yang belum tuntas di huruf ‘R’ itu, dia menyelesaikan semua jenis pertanyaan dengan baik. Musa dinilai telah sempurna menyelesaikan hafalan 30 Juz Alquran dan setelah dilakukan penilaian menyeluruh dari semua perserta antara lain dari Mesir, Sudan, Arab Saudi, Kuwait, Maroko, Chad, Aljazair, Mauritania, Yaman, Bahrain, Nigeria, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Australia, Ukraina, dan negara-negara lainnya, Musa dinobatkan sebagai juara III MHQ Internasional di Mesir. Kekurangan Musa hanya satu, kurang jelas atau kurang fasih dalam pengucapan huruf akibat cadel bawaan lahir, adapun keunggulanya adalah dia paling kuat hafalan dan paling kecil atau paling muda usia dibanding lawan tandingnya yang rata-rata di usia 10 tahun.

Atas presitasnya ini,  Musa mendapat undangan kehormatan dari pemerintah Mesir pada peringatan Malam Lailatul Qadar pada Ramadhan  1437 H/ 2016 ini. Presiden Mesir atas nama negara akan memberikan penghargaan secara langsung kepada Musa. Pemerintah Mesir akan menanggung biaya tiket dan akomodasi selama mereka berada di Mesir.

Para juri heran, Musa yang tidak bisa berbahasa Arab, tapi menghapal Alquran dengan sempurna, jelas Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Kairo, Lauti Nia Astri Sutedja dalam rilisnya kepada media.

Proses lomba terbagi dalam dua tahap. Peserta yang lolos tahap pertama masuk pada tahap kedua. Musa menjadi salah satu dari enam peserta lainnya yang mengikuti tes tahap kedua. Peserta lainnya ada yang berasal dari  Meuretania, Mesir, dan negara Muslim lainnya. Dan Musa satu-satunya peserta yang dapat menjawab pertanyaan dengan lancar tanpa salah, lupa, dan tanpa di bel tanda teguran. Musa mendapatkan nilai Mumtaz yakni 91,17 poin dari 100 nilai sempurna
 
Siapa La Ode Musa?
 
Sejak muncul di televisi nasional dalam ajang Tahfidz Indonesia pada bulan Ramadhan 2014, nama La Ode Musa, biasa disapa Abang Musa langsung menjadi pembicaran umat Islam di tanah air. Saat itu, para juri seperti  Syekh Ali Jabeer meneteskan air mata, haru melihat anak yang belum genap 6 tahun sudah mampu menghafal Alquran secara maksimal. Demikian juga Ustadz Amir Faishal sampai tidak bisa menahan diri, ia langsung menuju panggung dan mencium tangan Musa. Yang dicium belum faham dengan yang sedang terjadi, dia cuek sambil senyum-senyum kecil seperti tidak tahu bahwa masyarakat terbelalak dengan kemampuan hafalnya.

Siapakah dia? Dari namanya seperti orang Sulawesi Tenggara karena menggunakan Laode, tetapi ternyata dia adalah bocah kelahiran Sumatera, putra dari pasangan Laode Abu Hanifa (34) dan Yulianti (29). Lahir di Bangka Barat pada 26 Juli 2008. Musa adalah anak pertama dari empat bersaudara. Adiknya Lukman (5) Hindun (3) dan Zainal (1). Seperti layaknya anak kecil, musa pun mengalami kesulitan saat pertama belajar Alquran. 

Namanya terkenal ke khalayak ramai baik di dalam negeri maupun luar negeri seperti di Malaysia dan Singapura. Musa lalu dikirim untuk mengikuti perlombaan hafalan Alquran tingkat Internasional di Jeddah, Arab Saudi. Musa menjadi yang termuda dalam ajang tersebut dan menduduki peringkat ke-12 dari 25 peserta yang ikut bertanding. Musa mendapatkan nilai Mumtaz yakni 90,83 poin dari 100 nilai sempurna dan ketika itu juga hanya kalah dalam hal pelafalan huruf yang belum sesuai akibat cadel.

Pada bulan Agustus 2014, Musa memperoleh piagam penghargaan tingkat nasional dari MURI sebagai Hafiz Al-Quran 30 Juz termuda di Indonesia.

Selain menghafal Alquran Musa sudah hafal ‘Umdatul Ahkam, Arbain Nawawi, Arbain hadits ust Abdul Hakim bin Amir Abdat, dan telah selesai Durusul Lughoh. Sekarang sedang menghafal Bulughul Maram. Semua program menghafalnya Musa dilakukan mandiri oleh Abu Musa di rumah saja!

Bagaimana Musa kecil sudah demikian hebat, mampu menghafal Alquran dan kitab-kitab hadits? Berikut 11 cara yang dilakukan orang tua Musa:

  1. Pada awalnya Musa kata beliau juga sulit menghafal sebagaimana umumnya anak, namun dengan ketekunan akhirnya hafal juga. Kunci paling penting adalah Murajaahnya alias mengulang-ulang hafalan. Perlu diketahui juga Abu Musa tidak hafal semua itu, namun bisa menjadikan Musa hafal dengan kuat.
  2. Pergaulan dijaga. Bisa dikatakan Musa kurang bergaul dengan banyak anak, karena memang niat Abinya untuk menjaga hafalan.
  3. Tidak didekatkan dengan Televisi. Musa sangat dijaga jangan sampai nonton televisi.
  4. Makanan dijaga. Sari kurma, madu dan propolis selalu diberikan kepada Musa dan adik-adiknya. Menghafal membutuhkan banyak energi!
  5. Rutinitas harian Musa adalah: Pagi setengah jam sebelum subuh, tahajud menjadi imam untuk adik-adiknya. Kemudian Subuh berjamaah di masjid. Setelah Subuh murajaahnya sampai pukul 09.00 pagi. Musa kuat murajaah 10 juz dalam sehari secara rutin!
  6. Pukul 09-10 Makan pagi dll.
  7. Pukul 10- Dhuhur: Tidur siang. Tidur ini hukumnya wajib untuk Musa.
  8. Habis Dhuhur nambah hafalan baru sampai Ashar.
  9. Bada Ashar, mulai menghafal Bulughul Maram.
  10. Pukul 17.00 -maghrib: Waktu bermain
  11. Maghrib-Isya: Ikut taklim Abinya. Sebelum Abinya nyampaikan taklim, Musa mengawali dengan membaca hafalannya. Dan terkadang hadirin dipersilakan bertanya mengetes. Ini berjalan hampir setiap hari. 

 

Negeri Penghafal

Kemenangan Musa dari Indonesia dalam MHQ di Mesir sungguh mengharumkan nama bangsa. Seluruh dunia Islam menjadi paham, bahwa di Indonesia ini sedang berkembang tunas-tunas muda Duta Alquran.

Namun sampai saat ini Mesir masih memegang rekor terbanyak melahirkan penghafal Alquran. Negeri Mesir memiliki jumlah penghafal 30 juz Alquran terbanyak di dunia. Berdasarkan data Kementerian Wakaf Mesir, pada tahun 2015 terdapat 12,3 juta penduduk negeri 1000 menara atau sekitar 18,5 persen dari total 67 juta jiwa penduduk adalah penghafal Alquran.

Jumlah hafizh Quran dari kalangan anak-anak hingga usia 25 tahun mencapai 2,4 juta hafidz. Dari usia 26 – 55 tahun sebanyak 6,2 juta hafizh dan di atas usia 56 tahun terdapat 3,7 hafidz. Jika dilihat dari jenis kelamin, sebanyak 8,5 juta penghafal Alquran adalah pria. Sedangkan sisanya sebanyak 3,8 juta adalah perempuan hafizhah.

 

Musa adalah pendorong makin banyaknya orang tua mendidik putra-putrinya sebagai penghafal Alquran. Belum lama ini sejumlah perguruan tinggi negeri di berbagai kota membentangkan karpet merah kepada calon mahasiswa yang sudah memiliki hafalan Alquran. Demikian juga profesi seperti polisi di sejumlah Polda juga menerapkan kebijakan afirmatif bagi pendaftar yang memiliki hafalan Alquran. Tidak mustahil, anak lahir banyak lagi Musa di tanah air, dan saat itulah posisi rekor jumlah penghafal terbanyak akan diraih Indonesia. (mm)


Komentar

  • Arifah

    3 Mei 2017

    Musa anak ajaib

    Subhanallah.... Sy mengikuti lomba tafidz yg di ikuti Musa wkt itu di RCTI, memanglah anak ini di utus Allah sebagai Duta Prnghapal Alquran... Anaknya pintar, lugu, sopan, berani dan menggemaskan dgn kepolosannya. Aura dan kharismanya ketika membaca Alquran menghipnotis yg menonton dan mendengarkan, menularkan kebaikan tentang keinginan untuk menghapal dan mendalami alquran pd org tua dan anak2... Semoga La ode Musa akan terus spt itu sampai besar nanti membawa ghiroh ummat muslim untuk mencintai Alquran dan Hadist shahih lagi, aamiin yarabbal alaamiin...


    Reply






















  • lelawaty

    8 September 2016

    musa

    MasyaAlloh... Memperbaiki nama bangsa... you're champion Nak Musa


    Reply






















  • Tulis Komentar


    Back to Top