Restu Anggraini

Sukses Etu Kibarkan 'Fashion Muslim' di Tingkat Internasional

Jakarta, (gomuslim). Perempuan kelahiran Jakarta, 18 Maret 1987 ini mempunyai hobi di bidang fashion. Sewaktu kecil, ia sering ikut lomba fashion show dari tingkat lingkungan rumah (RT) sampai kelurahan. Pernah juga mengikuti berbagai lomba desain baju meski tidak selalu menang, dia memilih untuk terus mengembangkan bakatnya tersebut. Siapa sangka, hobi ini bisa membawanya pada dua buah brand muslim wear paling dicari saat ini di fashion industry Indonesia. Bahkan, ia pun memamerkan rancangan busananya di beberapa negara, seperti Jepang, Inggris, Australia, dan masih banyak lagi.

Adalah Restu Anggraini, salah satu muslimah designer yang paling bersinar di Indonesia. Melalui dua brand muslim wear karyanya, yaitu RA by Restu Anggraini dan ETU membawa perempuan asal Pemalang, Jawa Tengah ini ke pengalaman-pengalaman yang special dan membuatnya makin optimis bisa menjadi bagian dari tahun 2020, tahun di mana Indonesia dicanangkan menjadi kiblat fashion muslim dunia.

Baru-baru ini, gomuslim berkesempatan bertamu ke rumah dan juga tempat produksi baju-baju hasil rancangan Etu, begitu ia akrab disapa di kawasan Jakarta Timur. Etu bercerita, awalnya dia terjun ke dunia fashion secara serius itu pada tahun 2010. Hal tersebut timbul dari keresahan hatinya yang sulit  menemukan baju muslim yang pas untuk dirinya yang saat itu bekerja kantoran.

“Dari sana, aku dan dua temanku membuat sebuah bisnis baju muslim untuk perempuan berhijab. Saat itu, muslim fashion belum seramai sekarang, sehingga responnya pun sangat di luar dugaan. Saat aku upload desain baju di media sosial, hari itu juga sold out,” jelas Etu.

Untuk memperluas pasar, ia kemudian bergabung dengan Hijabers Community. Bersama kedua temannya tersebut, ia membuat label baju muslim bernama Mainland Heritage. Tak hanya teman dan saudara, ternyata rancangannya juga diterima baik para fashionista, yang memicunya untuk serius menggeluti bisnis fashion

Selain itu, kata Restu yang mengaku sudah berhijab sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini kebanggan berhijab harus dibarengi dengan kenyamanan dalam berpakaian. Karena itu, akhirnya dia memutuskan untuk membuat market sendiri dengan melirik pasar baju kerja muslimah. Meski akhirnya kedua temannya tersebut tak bisa ikut bersama-sama mengembangkan bisnis ini, Restu mantab resign dari kerja kantorannya untuk terjun langsung di dunia fashion muslim ini. Keseriusan menapaki dunia fashion dilakukannya dengan menimba ilmu pattern di Esmod dan ia juga sempat mengambil pendidikan di Pale Art Studio.

Ladang Syiar

Dengan membawa konsep dan pasar yang lebih jelas dan sistem pemasaran yang mumpuni, akhirnya Restu mantap untuk tampil sebagai designer dengan brand terbaru miliknya, yaitu RA by Restu Anggraini. Brand inilah yang menjadi awal mula karya baju rancangannya dikenal masuarakat Indonesia. Mulai dari celana panjang, rok, dress, atasan, outer dan lainnya menjadi  andalan RA dalam fokus kepada pasar busana muslim untuk wanita yang bekerja.

Awalnya ia memang hanya melirik pasar online melalui media sosial, tapi seiring berjalannya waktu Etu juga membuka toko di kawasan FX Sudirman dan juga bekerja sama dengan beberapa ecommerce seperti Zalora, Hijabenka,dan lainnya yang dijual dengan kisaran harga Rp 200.000 sampai Rp 400.000.

 Tidak berhenti di situ, ia juga mengembangkan bisnis muslim fashionnya ini dengan membuat brand baru, yaitu ETU. Brand ini didesain untuk market konsumen luar negeri. Melalui brand ini, Etu ingin memberikan alternatif berpakaian tertutup bagi mereka perempuan yang bekerja kantoran, tapi juga bisa tampil modis di berbagai musim di luar negeri tersebut.

“Kalau brand ETU memang aku rancang untuk konsuemn luar negeri. Aku mau memberikan pengetahuan mereka gaya berpakaian muslimah Indonesia kini sudah semakin berkembang. Secara tidak langsung, aku juga bisa mensyiarkan kepada meeka untuk menutup aurat. Karena koleksi baju rancanganku memang tidak hanya untuk para hijaber saja, tapi juga bagi mereka yang sedang dan mau belajar berhijab,” jelas istri dari Rahmat Ramadhan ini.

Selain itu, kini di halaman belakang rumahnya ia membuat ruangan produksi yang cukup luas untuk produksi baju, mulai dari penjahitan sampai finishing yang dilakukan puluhan pegawainya tersebut. Kata Etu, menajdi pebisnis itu harus satu tujuan dengan para pegawainya. “Jangan memposisikan diri seperti bos dan majikan, tapi posisikan diri sebagai partner, sehingga bekerja pun saling terkoneksi dengan baik dan saling menguntungkan dan bermanfaat satu sama lain,” tambahnya.

Terus Berinovasi

Dibantu sang suami, Restu  juga mengembangkan beberapa riset soal market place fashion muslim di Indonesia dan dunia. Karena itu, ia pun sudah mempunyai planning bisnisnya sampai tahun 2030 mendatang. Kata Restu, ia tidak mau berbisnis hanya menghasilkan uang dan materi saja. Ia ingin bisnisnya ini menjadi jalan bagi dirinya untuk bisa bermanfaat bagi masyarakat luas melalui dunia fashion, misalnya dalam melakukan berbagai inovasi.

Seperti baru-baru ini aku melakukan kerjasama dengan salah satu perusahan supplier bahan di kota Tokyo, Jepang. Kami ingin mengembangkan sebuah busana yang menggunakkan bahan dari daur ulang plastic (polyester), atau yang ia sebut ultra sweat.

“Bahan ini nantinya akan seperti kulit manusia, di mana saat digunakkan di musim panas akan adem (dingin) dan di muslim dingin akan hangat di kulit. Ini cocok untuk para muslimah yang tinggal di iklim tropis seperti Indonesia, “jelas Restu.

Beberapa baju rancangannya di brand ETU sudah mengadopsi bahan ini. Sehingga Restu pun juga mendapatkan berbagai kesempatan untuk tampil di beberapa negara dunia untuk memperkenalnkan fashion design ala muslimah Indonesia. seperti pada peragaan busana di Tokyo Fashion Week dan di Mercedez-Benz Fashion Week Tokyo (MBFWT), Jepang tahun 2015 lalu, Restu menampilkan 10 koleksi designnya dengan mengusung tema Femme De La Creme yang berarti wanita sukses di puncak posisi.

 

"Aku menampilkan 10 tapi bawa 12 koleksi untuk jaga-jaga. Koleksinya tampil dengan cutting dan panelling. Kombinasi warnanya lebih nude, putih, clean dan simpel sesuai dengan karakter Etu. Geometri yang dihasilkan melalu woven atau anyaman dank arena aku sangat tertarik dengan motif kipas kayu atau tikar,” kata penerima Penghargaan Perempuan Hebat 2016 dari Liputan 6 Awards 2016 ini.

Selain itu, maret 2016 ini  fashion brand ETU terpilih  untuk mewakili Indonesia di ajang Virgin Australia Melbourne Fashion Festival (VAMFF) pada 7 – 13 Maret 2016 sebagai pemenang dari The ANZ Australia – Indonesia Young Fashion Designer Award, hasil kerjasama Australia-Indonesia Centre, Jakarta Fashion Week, dan Femina Group. Hal ini juga mendapatkan perhatian khusus dari Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Indonesia. Memiliki visi untuk menjadikan Indonesia sebagai Pusat Fashion Muslim Dunia, BEKRAF menilai bahwa partisipasi ETU, sebagai brand modest wear pertama yang akan melakukan fashion show di VAMFF, merupakan kesempatan besar bagi industri fashion tanah air untuk memasuki pasar global.

Pada VAMFF ini, ETU bekerja sama dengan salah satu perusahaan terbesar di Jepang, Toray Industries, yang specializes di produk industri berteknologi tinggi di bidang organic synthetic chemistry, polymer chemistry, and biochemistry, untuk menggunakan Ultrasuede sebagai salah satu fabric pada koleksi Autumn dan Winter 2016 ini. Ultrasuede merupakan bahan berteknologi tinggi yang dibuat dengan teknologi ultra-microfiber untuk menandingi kualitas bahan suede (kulit) asli. Sejak penemuannya di tahun 1970 oleh Toray, Ultrasuede telah digunakan oleh banyak brand internasional, seperti Halston, Prada, Issey Miyake, dsb. Selain itu, ETU juga menggunakan bahan wool, katun, dan polyester blend untuk membuat kombinasi look yang terdiri dari outer wear, pants, dan blazer. Selama di VAMFF, ETU akan mendapatkan akses di semua event utama, mulai dari networking events, industry workshops, public forums, premium runways, dan fashion network.

Kini, Restu bersyukur tentang keputusannya untuk resign dari kerja kantoran dan terjun langsung di dunia fashion yang membawanya kepada berbagai pengalaman tersebut. Untuk itu, ia mengaku tidak mau cepat puas, karena dengan pencapaian ini ia bisa secara bertahap mewujudkan banyak mimpinya yang lain.

“Aku ingin sekali membuat sebuah foundation yang khusus dalam bidang kesehatan anak-anak, misalnya dalam melakukan riset pengobatan bagi anaka-anak yang menderita penyakit langka atau dengan membantu donasi biaya kesehatan para pasien anak dari keluarga  kurang mampu. Semoga ke depan bisnis muslim fashion ini bisa lebih dan semakin luas lagi manfaatnya bagi banyak orang,“ harap Restu mengakhiri wawancara pagi itu. (fau) 

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top