Fitri Aulia

Pede Dengan Brand Syar’I, Designer Muslimah Ini Tuai Berkah dan Rupiah

Jakarta, (gomuslim). Baru-baru ini, gomuslim berkesempatan berbincang dengan seorang designer muslimah yang mengawali karir sebagai fashion blogger. Perempuan yang satu ini tidak menyangka hobinya memadu-padankan busana dan mempostingnya ke blog disambut dengan antusias yang baik oleh masyarakat. Waktu itu, dengan bermodal Rp 4 juta, ia bersama sang suami mantab meluncurkan  brand bernama KIVITZ.

Adalah Fitri Aulia, istri dari Mulky Aulia ini memang sudah sejak menjadi mahasiswi senang dengan dunia bisnis. Saat berkuliah di FISIP Universitas Indonesia, Fitri begitu ia akrab disapa, sudah terbiasa mendesai dan menjahit sendiri tas handmade hasil karyanya. Dari sana, ia mempunyai sedikit pengalaman dalam berbisnis dan juga mendesai sesuatu.

“Pertama buka usaha bisnis fashion muslimah ini pada tahun 2010. Saat itu,  aku baru  lulus kuliah FISIP UI dan menikah. Alhamdulillah, suamiku mendukung untuk aku bisa punya brand sendiri di bisnis fashion ini,” jelas Fitri kepada gomuslim di sela-sela acara Hijab Motion 2016.

Kata Fitri, pada tahun 2010, baju muslim tidak terlalu banyak. Karena itu, Fitri dibantu sang suami membentuk branding dari fashion hijab miliknya agar berbeda dengan para muslim designer lainnya. Apalagi, kata Fitri saat itu para designer seperti Dian Pelangi, Ria Miranda, Jenahara, Restu Anggraini, dan termasuk dirinya membentuk komunitas bernama Hijabers Community yang menjadi cikal bakal berkembangnya fashion hijab di Indonesia.

 Pede dengan tagline Syar’I & Stylist

Brand fashion ini memproduksi busana muslimah seperti scarf, dress, skirt dan outerwear. KIVITZ kini sudah menjadi brand fashion muslimah yang cukup dikenal. Produk-produk KIVITZ sangat mudah dipakai (wearable), bisa di-mix & match dengan berbagai gaya.

 “Aku harus mencari pasar yang seperti apa dengan melakukan riset  brand-brand yang sudah ada. Sampai akhirnya aku tergerak membuat KIVITZ, karena aku melihat ibuku berpakaian dan aku juga sering ikut ke pengajian-pengajian. Karena itu, brand ini ingin kau branding ke pakaian muslimah dengan baju terusan atau gamis dan rok yang tidak memakai celana,” jelas alumni jurusan Administrasi Bisnis FISIP Universitas Indonesia. ini.

Terkait keputusannya dalam membuat branding Syar’I & Stylist, Fitri mengakui bahwa banyak sekali tantangganya. Apalagi di luar sana masih banyak orang yang menutup mata dari fashion muslimah. Padahal, kata Fitri, tujuan dari desain busana muslim itu sendiri sebenarnya adalah untuk memotivasi para muslimah yang belum berhijab untuk segara menututp aurat, karena sekarang berhijab itu tidak kaku lagi dan lebih beragam untuk digunakkan di setiap kesempatan.

“Beberapa  hal yang penting bagi diriku sendiri dalam berpakaian dan juga dalam membuat desain KIVITZ adalah tidak ketat, tidak transparan, pakai kaus kaki, dan hijab yang menutup dada. Setelah itu, aku akan melakukan padu-padan dalam hal warna, motif, dan outer untuk tetap stylish dipakai dalam banyak kesempatan,” tambah Fitri.

Fitri juga banyak belajar dari jatuh-bangunnya ia dalam mengembangkan brand yang diberi nama dari nama kecilnya, yaitu KIVITZ ini. Karena itu, Fitri pun terus mengembangkan kemampuannya dalam mendesain, salah satunya dengan belajar fashion design di LaSalle College Jakarta. Proses belajar tersebut menjadikan Fitri banyak pengalaman dan pengetahuan dalam dunia fashion yang bisa ia kembangkan untuk karya-karya desain KIVITZ.

 “Alhamdulillah brand syari'i dan stylist ini yang sudah aku bentuk dari awal, sekarang sudah mendapatkan tempat sendiri di hati pecinta muslim fashion. Karena untuk mencari pilihan busana santun dengan dress atau rok, mereka bisa temukan di KIVITZ,” kata Fitri.

Brand KIVITZ, ia khususkan untuk daily wear nyaman dalam berkegiatan sehari-hari. Sedangkan untuk brand premium karya Fitri yang lain tertuang dalam brand Fitri Aulia. Brand ini berisi modest wear dengan special occasion untuk para muslimah bisa tampil anggun dengan dress dan rok yang tidak ketat dan tidak transparan.

Lima tahun berjalan, saat ini, KIVITZ menjual produknya melalui online shop, dengan pemesanan melalui SMS, Whatsapp dan BBM. Katalog online KIVITZ bisa dilihat pada page blog ini atau di fanpage facebook-nya: www.facebook.com/KivitzShop. KIVITZ sudah melayani pembelian dari customer se-Indonesia, Malaysia, Singapore dan Afrika Selatan. Store KIVITZ juga ada di beberapa butik di Indonesia, seperti di Jakarta, Aceh, Pekanbaru, Palembang, Banjarmasin dan Makassar. Selain itu, Fitri juga membuka kerjasama dengan dua ecommerce, yaitu HijUp.com dan Fashion Falley.

KIVITZ juga sering tampil dalam fashion show dan ikut serta dalam bazar fashion muslim di banyak acara Hijabe Festival di beberapa kota, seperti baru-baru ini pada perhelatan Hijab Motion 2016 di fX Sudirman, Jakarta dan Muslimah Fashion Festival 2016 di Istora Senayan, Jakarta.

Nilai Islam dalam desain fashion dan budaya bisnis

Fitri juga bercerita kalau muslimah di luar sana ingin memulai karir sebagai  muslimah designer yang konsen dalam muslim fashion harus lurus niatnya. Karena, kata Fitri, dalam berbisnis di bidang ini lebih baik diniatkan untuk beribadah dan syiar, untuk membantu orang lain, karena jika itu yang menjadi tujuannya, Insya Allah akan Allah SWT tujukkan jalan terbaikNya.

“Selain dalam desain baju, aku juga menerapkan nilai Islam dalam budaya di perusahaanku. Misalnya, aku terapkan untuk karyawan perempuan tidak pakai  celana dan  harus memakai rok atau dress yang tidak ketat. Selain itu, setiap hari Jumat  sore mulai pukul 16.00 sampai 17.00 akan ada pengajian bersama di kantor,” Fitri menjelaskan.  

Hal-hal tersebut, yang menurut Fitri bisa menjadi asupan semangat dalam menjalankan bisnis ini. Karena menurutnya, sendi-sendi keIslaman tidak hanya masuk dalam desain baju karyanya, tapi juga harus masuk dalam sendi-sendi bisnis itu sendiri, salah satunya dalam budaya kerja bersama para karyawannya.

Terakhir, Fitri juga berpesan kepada para muslimah di luar sana yang belum berhijab untuk segera menurut aurat. Karena menurutnya, saat ini pilihan berbusana bagi para hijaber itu sudah beragam, jadi mereka bisa memilih yang sesuai dengan keprbadian mereka masing-masing.

“Karena itu, aku juga yakin dan percaya bahwa setiap muslimah mempunyai jalan sendiri-sendiri dalam proses berhijrah menjadi muslimah yang lebih baik. Tapi, alangkah baiknya dan ini menjadi pengingat untuk diriku sendiri, agar senantiasa berpakaian menutup aurat yang baik,” kata Fitri mengakhiri wawancara siang itu. (fau)

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top