Ramadhan In Style

Pelopor Muslim Fashion Ini Sukses Bawa Nama Indonesia di Kancah Dunia

Jakarta, (gomuslim). Perkembangan muslim fashion yang semakin pesat tak bisa dilepaskan dari figur seorang muslimah designer yang satu ini. Sempat jatuh bangun membangun sebuah brand, tak membuat Irna Mutiara patah arang. Berbekal tekad yang kuat, kini namanya pun diperhitungkan sebagai salah satu muslimah designer berbakat yang dimiliki Indonesia.

Irna mengawali karirnya dengan merilis brand pertamanya pada tahun 2006: "Up2date", yang merupakan salah satu brand pelopor di Indonesia untuk perempuan muslim yang mengutamakan kepraktisan namun tetap stylish. Berpisah dengan partner bisnis sebelumnya, Irna mantab membuat brand sendiri dan pada tahun 2007, ia merilis Irna La Perle, brand busana pengantin Muslim dan pakaian pesta yang memiliki gaya internasional klasik dan elegan. Pakaian pengantin muslim rancangannya ini telah banyak dipakai oleh selebriti Indonesia pengguna busana Muslim yang hendak menikah, di antaranya Oki Setiana Dewi dan Meyda Sefira.

Kepada gomuslim, Irna bercerita kesuksesannya tidak datang begitu saja. Bisa dikatakan, kemampuan Irna dalam hal merancang busana dan menjahit dimulai karena orang tuanya berprofesi sebagai penjahit. Wanita ini memulai usahanya dengan berbekal satu mesin jahit. Pasang surut usahanya sempat membuat Irna bangkrut, tetapi dia kembali bangkit dan berhasil mendirikan puluhan outlet butik.

Keberhasilan Irna berbisnis busana muslim tidak didapat dengan mudah. Setelah lulus sekolah menengah atas tahun 1988, Irna mengikuti kursus tata busana selama setahun. Tahun 1989, dia kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang dulu bernama IKIP di Bandung jurusan tata busana.

Namun karena orangtua tidak mampu membiayai kuliah, Irna terpaksa kuliah sambil kerja. Berbekal sertifikat kursus, Irna berhasil menjadi desainer di perusahaan garmen yang cukup besar di Bandung. Perusahaan itu merupakan salah satu pemasok baju anak di salah satu department store. Sekali order bisa 200 lusin per desain. “Tuntutan pekerjaan ini membutuhkan fokus, saya memutuskan untuk keluar kuliah di semester empat,” ujarnya.

Irna bekerja selama lima tahun di perusahaan garmen tersebut. Karena merasa tidak begitu banyak berkembang, Irna pun memutuskan keluar. Irna pindah kerja ke sebuah perusahaan garmen yang lain di Bandung. Pekerjaan Irna di perusahaan ini merangkap sebagai kepala produksi, marketing, dan desainer. Dengan pengalaman itu, dia mulai mempelajari proses menjalankan usaha di bidang garmen. Irna hanya bertahan selama enam bulan di perusahaan ini karena ingin mengasuh anak di rumah. Akhirnya, dengan bermodal jaringan dan uang dari hasil kerjanya di perusahaan yang lama, Irna membuka usaha konveksi.

“Banyak hal yang membuat saya mantab berkarir di dunia muslim fashion ini. Pertama saya dilahirkan dari keluarga yang berprofesi penjahit, sehingga dari sejak kecil sudah mengenal seluk beluk tentang jahitan.Kedua saya mempunyai kesukaan memadu padan kain, warna, motif dan ornamen fashion lainnya sehingga ini menjadi bekal teknis untuk berkecimpung di dunia fashion. Ketiga, berkarir yang dikarenakan hobi dan lingkungan yang mendukung biasanya lebih tangguh dibanding kalau sekadar ikut arus saja, “jelas wanita kelahiran Bandung, 24 Januari 1970 ini.

Berkolaborasi dan Mendunia        

Tidak berhenti pada kesuksesan Irna La Perle saja. Irna terus melakukan inovasi dan kreativitas demi mengembangkan brandnya tersebut. Pada tahun 2004, Irna mengikuti lomba desain busana muslim di salah satu majalah dan menang. Baju muslim kasual rancangan Irna dipajang di majalah tersebut dan pesanan mulai mengalir.

Berawal dari kesempatan ini, Irna mulai mengembangkan busana muslim rancangannya. Seperti melebarka sayapnya di kancah Internasional, Irna pernah diundang oleh Komunitas Muslim Paris untuk melakukan fashion show pada acara The International Fair of the Muslim World di Le Bourget Exhibition Center pada tahun 2011. Selain itu, ia juga berpartisipasi pada beberapa fashion week seperti Hongkong Fashion Week pada tahun 2007 dan 2010, juga Arabia Fashion Week pada tahun 2008 dan 2010.

“Ketika saya menampilkan karya di luar negeri, mereka (para konsumen dan masyarakat luar negeri) tertarik dan ingin mencoba. Saya pernah membawa busana pengantin ke Spanyol dan di sana mereka sangat tertarik untuk memakai dan difoto. Tapi untuk bisa menindaklanjuti menjadi hubungan bisnis dengan negara lain. Kami  para designer Indonesia perlu bantuan pemerintah untuk kemudahan-kemudahan ekspor, dan hal-hal lainnya,” tambah penerima Mercedes Benz Asia's Modest-yle Designer of The Year 2015 ini.

 

Selain itu, Irna apun aktif berogranisasi. Sempat bergabung dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Muda Indonesia (APPMI), kini Irna dan beberapa designer Indonesia lain mendirikan Indonesia Fashion Chamber (IFC) yang konsen terhadap perkembangan dunia fashion dan hal-hal terkait lainnya di Indonesia. Tidka hanya itu, Irna juga merupakan salah satu pendiri Hijabers Mom Community (HmC), sebuah organisasi untuk memberdayakan perempuan Muslim di Indonesia, kususnya para Ibu pada tahun 2011 dan HmC masih berkembang sampai sekarang.

Menggaet Para Pengrajin Lokal

Irna Mutiara juga bersemangat untuk bekerjasama dengan industri pengrajin lokal, sebagaimana dapat ditemukan dalam koleksinya. Misalnya, ia menerapkan teknik sulam tangan Sumatera Barat dan Tasikmalaya dalam desain pakain pengantin Irna La Perle. Kata Irna, nama Irna La Perle adalah dari bahasa Perancis yang berarti nama aslinya sendiri, yaitu Irna Mutiara. Hal ini berkaitan dengan ciri khas karya Irna, yaitu klasik, simple, dan elegan.

“Dalam mebuat rancangan baju, saya terispirasi dari karakter seorang muslimah itu sendiri yang anggun, elegan, dan bersahaja. Hal ini, biasa saya terapkan dengan membubuhkan mutiara yang sifat kilaunya tidak terlalu mencolok tapi memancarkan sesuatu yang elegan,” kata Irna.

Baru-baru ini, Irna juga ditambah dengan kesibukan berkeliling Indonesia untuk sharing bersama para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) di daerah-daerah. Kata Irna, ia terkadang berangkat ke daerah untuk sharing dengan UKM, biasanya atas permintaan Kementrian UKM. Pada kesempatan itu, Irna menyelenggarakan event untuk para UKM supaya bisa menjual produk mereka atau promosi di pameran. Seperti pekan lalu, Irna berada  di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk temu solusi UKM tenun.

Dengan melakukan kolaborasi itu membuat Irna semkain yakin muslim fashion Indoensia akan terus dan semakin berkembang. Apalagi katanya, Indoensia memiliki banyak sekali potensi dan juga alasan kuat untuk mencapai negara dengan Pusat Mode Muslim Dunia pada tahun 2020 mendatang.

“Perkembangan muslim fashion yang pesat adalah salah satu indikator untuk menjadi kiblat muslim fashion dunia. Hal-hal lainnya tentu masih banyak di antaranya; Insipriasi yang original, mengambil dasar konten lokal sebagai sumber inspirasinya sehingga karya designer Indonesia berkarakter, Standardisasi size (ukuran) yang berlaku international, dan Kualitas material (baik tradisional material maupun kontemporer), teknik jahitan, pola, motif dan lainnya, “ ungkap istri dari Riznal M Nur ini.

Membangun Sekolah Fashion Muslim Pertama di Indonesia

Pada 2015 lalu, Irna bersama designer lain, yaitu Deden Siswanto dan Nuniek Mawardi membuat sebuah Sekolah Fashion Muslim pertama di Indoensia. Kata Irna, tujuannya membuat IFI terkait dengan cita-cita menuju perwujudan Indonesia pusat mode Muslim di dunia. Karena, kata Irna, apabila busana muslim sudah menjadi bagian dari budaya, maka hal lain yang perlu dipikirkan adalah masalah penataan industri dari hulu ke hilir (supply chain) harus sangat siap. kemudian bidang pendidikannya juga sangat penting, sehingga sekolah bernama Islamic Fashion Institute (IFI), agar cita-cita tersebut bisa terwujud dengan pendelegasian wewenang dan tanggung jawab kepada generasi selanjutnya.

Karena itu, Irna memberika saran untuk para designer pemula, hadapi semua proses kemajuan usaha dengan kesiapan mental. Adakalanya seorang entrepreneurs itu diuji dengan kesenangan atau kesuksesan yang cepat diraih, namun adakalanya juga dihadapkan dengan suatu masalah yang sulit. Katanya, semua dihadapi dengan sabar dan syukur, karena kunci dari kesuksesan itu adalah sikap sabar dan syukur.

Terakhir, pekan ini Irna Mutiara adalah bagian dari tim IFC yang menggelar sebuag event muslim fashion exhibition yang berlangsung di Mal Gandaria City, Jakarta Selatan mulai tanggal 24 Juni sampai 17 Juli 2016. Acara bertajuk Ramadhan In Style (RIS) ini adalah sebuah event sebagai ajang untuk memasarkan keragaman gaya busana muslim kreasi desainer dan label Indonesia. Pameran fashion akan berisi beragam karya, mulai dari gaya konvensional hingga gaya urban untuk memenuhi berbagai selera konsumen di pasar lokal maupun Internasional. Acara yang juga didukung sebuah mall besar di kawasan Kebayoran Jakarta Selatan, Gandaria City dan Ditali Cipta Kreatif sebagai organizer serta gomuslim sebagai media partner ini akan berlangsung di Main Street, Main Atrium, dan Parkir Eat & Eat, Gandaria City, Jakarta Selatan, dengan menampilkan lebih dari 60 label fashion muslim dan perlengkapannya yang memperkuat konsep ritel atau Business to Customer.

Sebagai salah satu pameran fashion muslim terbesar di Indonesia, Indonesia Fashion Chamber akan menghadirkan mahakarya dari para desainer papan atas Indonesia, seperti Deden Siswanto, Lenny Agustin, Irna Mutiara, Sofie, Nuniek Mawardi, Khanaaan Shamlan, Stephanus Hamy, Anggiasari, Kami Idea dan masih banyak lagi. 'Ramadhan in Style' akan berisi Fashion & Accessories Exhibition, Fashion Show, Talkshow bersama Puput Melati, serta Religious Music yang berlangsung  mulai tanggal 24 Juni hingga 17 Juli 2016 mendatang.

“Event Ramadhan in Style adalah event-nya IFC di mana para anggotanya bisa mempromosikan karyanya ke khalayak. Semoga, event RIS dan event-event sejenis  lainnya bisa diapresiasi oleh masyarakat. Karena ini adalah event yang menampilkan karya para designer yang sudah berusaha membuat koleksi mereka sesuai dengan trend, agar mudah diterima masyarakat,” harap Ibu tiga anak ini. (fau)

 

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top