Peneliti Manuskrip Kuno Islam Pertama di Indonesia

Prof. Dr. Oman Fathurahman : Ini Potensi Indonesia Jadi Pusat Kajian Manuskrip Islam di Dunia

gomuslim.co.id- Jejak sejarah masuknya Islam ke Tanah Air terlihat dari banyaknya peninggalan masa lampau. Salah satunya dengan menggali naskah kuno tulisan tangan (manuskrip). Pengetahuan ilmiah untuk membaca naskah kuno merupakan bagian studi Filologi. Adalah Prof Dr Oman Fathurahman, ahli Filologi Islam pertama yang ada di Indonesia.

Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mulai menekuni bidang Filologi sejak tahun 1996. Saat itu dirinya menempuh pendidikan S2 dan S3 bidang Filologi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Indonesia.

Kepada gomuslim, pria kelahiran Kuningan, 8 Agustus 1969 ini menjelaskan bahwa dalam tradisi Islam, Filologi itu dekat dengan tradisi hadits. “Dalam ilmu hadits, ada istilah takhrij. Memverifikasi hadits ini shahih atau tidak, rawinya terpercaya atau tidak, matannya dapat dipercaya atau tidak. Nah Filologi itu memverifikasi teks, tapi bukan hadits semata. Jadi singkatnya Filologi itu menganalisis sejarah dan asal-usul teks,” paparnya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (10/07/2017).

Ayah dari Fadli Husnurrahman, Alif Alfaini Rahman, dan Jiddane Ashkura Rahman ini menuturkan bahwa Islam adalah agama yang sangat dekat dengan teks seperti Alquran, Hadits, Tafsir. Hal ini menjadi pembeda menonjol dengan tradisi agama lain. Maka tak heran jika ajaran Islam sangat memungkinkan melahirkan teks-teks di berbagai peradaban, baik Arab, Iran, Turki, Afrika sampai Nusantara. “Teks itu selalu lahir ketika ada Islamisasi,” sambungnya.

Filologi dalam konteks Islam menjadi penting untuk menganalisis teks-teks lama yang ditransmisikan dalam tulisan tangan. Terutama ketika ada interpretasi dalam teks yang dibuat oleh penyalin belakangan. Karena sebuah teks agama sering kali direproduksi ulang sesuai dengan konteks masing-masing. Di Nusantara, manuskrip-manuskrip Islam sangat banyak.

Sebagai seorang Filolog, setidaknya ada dua hal yang ia lakukan bersama tim terhadap naskah kuno. Pertama, melakukan penyelamatkan manuskrip melalui digitalisasi. Kedua, membantu pemilik naskah untuk menyimpan dengan lebih baik manuskripnya di tempatnya sendiri.

“Biasanya kita berikan lemari, kita bersihkan manuskripnya, lalu dikembalikan ditempatnya semula. Kita tidak pernah berniat mengambil, kecuali pemilik menyerahkan sendiri ke perpustakaan atau lembaga yang punya kapasitas terkait manuskrip,” jelasnya.

Managing Editor Jurnal Internasional Studia Islamika ini mengatakan ia hanya memberi kesadaran kepada pemilik naskah kuno bahwa kalau teks tersebut dibiarkan saja dan tidak dikaji, lama-lama akan musnah. Caranya yang paling baik untuk memelihara teksnya adalah dengan digitalisasi.

Lebih lanjut, peneliti ahli di Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta ini mengatakan dengan mempelajari manuskrip-manuskrip kuno itu, dia bisa memetakan persebaran Islam di Indonesia. Khususnya di daerah-daerah basis budaya Melayu.

Menurutnya, budaya peninggalan manuskrip itu mulai berkembang pada abad ke-16 dan 17. Pada abad tersebut, rata-rata manuskrip agama Islam berisi ajaran tasawuf. "Ilmu ketauhidan menjadi dasar penyebaran Islam," jelas suami dari Husnayah al Hudayah ini.

Islam masuk ke Indonesia tidak didahului pengajaran hukum-hukum fikih seperti tata cara beribadah. Tidak juga mengedepankan urusan halal dan haram. Menurut analisis Oman, aturan fikih serta halal dan haram bisa menghambat persebaran agama Islam jika menjadi prioritas utama. Sebab, saat itu, penduduk masih kental dengan ajaran Hindu, Buddha, dan mistis lokal.

Sebaliknya, lanjut Oman, Islam masuk dengan mengedepankan ajaran tasawuf dan ketauhidan. "Penanaman syahadat menjadi kunci utama," katanya. Dengan cara itu, Islam masuk ke Indonesia tanpa diiringi pertempuran.

Selanjutnya, memasuki abad ke-18 hingga ke-19, baru ditemukan manuskrip-manuskrip kuno yang berisi ajaran-ajaran fikih serta aturan halal dan haram. Menurut Oman, ajaran tersebut bisa diterapkan setelah penduduk menghayati konsep tauhid.

Oman menegaskan pada beberapa manuskrip, meski ditulis dengan huruf Arab, tidak berarti isinya bermuatan ajaran agama Islam. Ada juga manuskrip-manuskrip yang berisi primbon serta ajaran-ajaran mistis yang ditulis dengan huruf Arab.

Selain itu, media manuskrip tersebut beragam. Selain kertas, Oman pernah menemukan manuskrip yang ditulis di kayu, bambu, tulang hewan, serta kulit binatang.

Potensi Indonesia Jadi Pusat Kajian Manuskrip Islam

Pria yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya ini mengatakan bahwa Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk menjadi pusat kajian manuskrip-manuskrip Islam di dunia. Alasannya, Indonesia mempunyai ribuan pesantren yang tradisinya dekat dengan penulisan manuskrip. Hal inilah yang tidak dimiliki Negara lain.

“Misalnya manuskrip yang diwariskan itu kan yang diajarkan di lembaga pendidikan Islam tradisional (pesantren). Nah, santri-santri di pesantren tradisional mempelajari nahwu sharaf. Manuskrip Islam Nusantara itu kebanyakan berbahasa Arab. Kalaupun berbahasa Melayu, Jawa atau Bugis itu selalu turunan dari Bahasa Arab. Sehingga kalau nahwu sharafnya bagus lebih mudah memahami terjemahannya,” jelas Oman.

Terlebih, dalam beberapa tahun terakhir, kajian filologi di luar negeri mulai merosot. Universitas Leiden misalnya, dulu jadi pusat kajian filologi untuk kajian Indonesia. Tapi sejak beberapa tahun terakhir, dana-dana beasiswa untuk melakukan kajian filologi terhadap naskah Indonesia ini dihentikan.

Bahkan, tahun 2011 mereka memutuskan untuk mendanai penelitian tentang bahasa lokal di Indonesia. “Mungkin perhatiannya sekarang lebih kepada isu-isu kontemporer. Sehingga praktis sekarang di sana jumlah professor dan sarjana yang meneliti naskah-naskah Nusantara, merosot drastis. Dulu, Australia juga pernah melahirkan beberapa sarjana yang punya minat meneliti filologi Indonesia tapi sekarang tidak ada,” kata Oman.

Karena itu, sambung dia, bola kajian manuskrip sekarang ada di Indonesia. Adanya Manassa (Masyarakat Pernaskahan Nusantara) yang menghimpun para filolog, peneliti yang menggiatkan kajian naskah ini menjadi penguat.

“Lebih spesifik lagi, kajian naskah Islam di perguruan tinggi keagamaan Islam, dalam sepuluh terakhir saya melihatnya berkembang pesat. Saya sendiri pernah membimbing 10 orang program S3 yang meneliti tentang filologi Islam di Indonesia. Sekarang sudah jadi doktor di IAIN dan UIN. Saya optimis, kedepan kajian filologi ini akan semakin berkembang meskipun tetap jumlahnya tidak akan menjadi mayoritas. Tetap minoritas, tetapi konsisten,” paparnya.

Oman berharap ke depan, semakin banyak sarjana yang memiliki minat terhadap kajian filologi Islam Indonesia. Karena dengan masuk pada kajian ini, seseorang punya akses pada sumber yang sangat primer untuk riset-risetnya.

“Hal paling pentingnya adalah para pengkaji dan peneliti harus berusaha mengaitkan kajian klasik ini dengan isu kontemporer (kekinian). Kontribusi terhadap kebutuhan masyarakat masa kini. Tugas yang cukup menantang karena harus bisa menghubungkan masa lalu dengan masa kini,” tutupnya. (njs)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top