#HariSantriNasional

Fahd Pahdepie : Menulis Adalah Modal Berbagi Inspirasi

gomuslim.co.id- Sejak tahun 2015, pemerintah Indonesia telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Keputusan ini tidak terlepas dari sejarah panjang, peran besar santri dan ulama di Pondok Pesantren mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kiprah santri kini telah mengisi berbagai ruang dan terus berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Banyak dari kalangan santri menjadi public figure serta professional yang menginspirasi banyak pihak. Salah satunya adalah Fahd Pahdepie, seorang penulis, pembicara publik, pegiat kreativitas, dan konsultan dengan sederet karya dan prestasi.

Kepada gomuslim, lulusan Pondok Pesantren Darul Arqam, Garut, Jawa Barat ini bercerita bahwa ketertarikan dalam menulis ini sudah ada sejak ia masih duduk di bangku Madrasah Aliyah (setingkat SMA), 15 tahun lalu. Baginya, menulis adalah tentang berbagi untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada banyak orang.

“Menulis mungkin kelihatannya sederhana. Namun jika gagasan, perasaan, imajinasi kita berhasil memberikan inspirasi kepada orang lain, pengaruh dan dampak yang diberikan sebuah tulisan bisa sangat luar biasa. Inspirasinya bisa mengubah orang lain, komunitas, bahkan sebuah bangsa,” ujar penulis kreatif yang memperkenalkan metode creative writhink ini.

Pria kelahiran Cianjur, 22 Agustus 1986 ini mengaku bersyukur karena pernah mondok di sebuah pesantren yang memiliki tradisi membaca dan menulis yang sangat baik. Ia mengenal banyak buku dan kitab semasa mondok.

“Karena melihat banyak kakak kelas rajin membaca, bahkan sering membawa buku-buku tebal ke kelas atau ke masjid, saya terdorong juga untuk suka membaca. Awalnya hasil bacaan itu didiskusikan di berbagai forum diskusi, menjadi bahan untuk muhadhoroh, atau sekadar untuk berlomba banyak-banyakan baca,” kata founder situs berbagi karya dan inspirasi, serta perpustakaan publik pertama di Indonesia bernama inspirasi.co ini.

Katanya, pelan-pelan minat untuk menulis pun tumbuh. Bahkan ia sering mengirim tulisan ke mading atau ke buletin pesantren. “Senang sekali kalau tulisan saya dimuat. Apalagi kalau dibaca di pondok puteri dan mendengar bahwa tulisan saya jadi bahan pembicaraan di sana. Hehehe,” ungkap Ayah dari Falsafa Kalky Pahdepie (Kalky) dan Alkemia Malaky Pahdepie (Kemi) ini.

Menurut suami dari Rizqa Fitriani Abidin ini, seorang individu itu memiliki pikiran, perasaan, cara pandang, pilihan, sikap dan lainnya yang unik, yang berbeda dengan orang lain. Mungkin seseorang bisa menceritakan semua itu secara lisan kepada orang lain, tetapi bercerita secara verbal punya keterbatasan.

“Orang yang bisa mendengarkan kita bercerita pasti terbatas jumlahnya, ruang-ruang untuk bercerita juga tidak selalu tersedia. Dengan menulis, kita bisa bercerita kepada lebih banyak orang, daya jangkau gagasan kita lebih jauh dan tak terbatas ruang dan waktu. Karena saya selalu berusaha memasukkan hal-hal berharga ke dalam diri saya, dari proses-proses belajar, membaca, berdiskusi dan seterusnya,” paparnya.

Maka dari itu, ia selalu meyakini bahwa apa yang ada dalam dirinya adalah hal-hal yang berharga juga untuk dibagikan kepada sebanyak mungkin orang. “Dengan menulis, saya berusaha membagikan semua hal baik yang masuk ke dalam diri saya. Tak menyimpannya untuk diri saya sendiri,” sambung lulusan Monash University, Australia ini.

Siap Launching Buku Baru

Di samping menjalankan beberapa bisnis, tahun ini penulis novel Sehidup Sesurga ini mengaku sedang fokus pada kegiatan-kegiatan sosial. Di antaranya adalah Gerakan Umrah Gratis. Gerakan ini ingin memberangkatkan orang-orang yang tidak mampu untuk berumrah secara gratis, terutama untuk mereka yang memiliki dedikasi dan pengabdian yang panjang kepada ummat.

“Dimulai sejak bulan Agustus lalu, Alhamdulillah dalam dua bulan sudah ada 10 orang yang diberangkatkan umrah secara gratis melalui gerakan ini,” kata dia.

Selain itu, bulan November 2017, ia juga akan menerbitkan sebuah novel berjudul Hijrah Bang Tato. Buku ini diangkat dari kisah nyata tentang seseorang yang berusaha lepas dari masa lalunya dan memulai hidup yang lebih baik, di tengah upayanya untuk lepas dari stigma masyarakat tentang tato yang melekat di hampir sekujur tubuhnya.

Tentang Hari Santri Nasional

Peraih UNICEF Young Writer Award ini menuturkan hari santri nasional merupakan momen bagus untuk menjadi pengingat bagi para santri agar mereka terus berbuat untuk kebaikan dan kemajuan negeri. Bukan sekadar tenggelam dalam nostalgia bahwa santri telah memberikan kontribusi bagi negeri, termasuk membantu dalam perjuangan kemerdekaan NKRI.

“Jadilah individu yang terbaik di bidangnya. Terus berkarya. Tunjukkan kepada dunia bahwa santri bisa selalu bersaing di tengah berbagai kemajuan zaman, bahwa belajar ilmu agama tak membuat mereka menjadi kolot, kaku, atau terperangkap di masa lalu. Santri juga bisa turut merancang masa depan, unggul dalam berbagai bidang kehidupan,” pesannya.

Selain itu, ia juga berpesan kepada seluruh generasi muda untuk terus belajar dengan sungguh-sungguh. Karena siapa pun akan mendapatkan hasil yang baik dari semua proses belajar itu. “Proses tak pernah mengkhianati hasil,” tutupnya. (njs) 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top