Adek Berry, Jurnalis Foto Berhijab yang Melanglang Buana dengan Karya

gomuslim.co.id- Berkalung kamera lensa wide, menggendong ransel berat di pundak, menyelip di antara kerumunan orang. Tak jarang daerah konflik, situasi bencana dan demonstrasi. Inilah gambaran pekerjaan jurnalisfoto pada umumnya. 

Namun yang menjadi tidak biasanya, pekerjaan ini diemban oleh seorang perempuan Muslim berhijab. Dialah Adek Berry, jurnalisfoto yang bekerja di kantor berita Agence France Presse (AFP).

Berawal dari menjadi jurnalis tulis pada tahun 1997, Adek Berry baru menemukan passion profesinya setelah membuat keputusan keluar dari Fakultas Kedokteran Gigi yang dirasa tidak sesuai dengan jiwa petualangnya.

Mengenal Jurnalistik

Saat ditemui gomuslim di acara diskusi buku pertamanya yang berjudul Mata Lensa, perempuan yang menyelami dunia jurnalistik selama 20 tahun ini menuangkan kisah perjalanan menjadi jurnalisfoto perempuan dalam buku Mata Lensa yang digarapnya selama 3 tahun jam terbang memotret berita dari belahan dunia konflik.

Meski bukan berasal dari lulusan jurnalistik, Adek yang merupakan lulusan Pertanian Universitas Negeri Jember (UNEJ) menemukan minatnya saat ia berkecimpung di Holcyon Photography Club (HPC) di Jember, Jawa Timur.

“Sesekali anggota HPC melakukan hunting foto di alam bebas. Alam pegunungan dan Pantai di Jawa Timur yang indah menjadi laboratorium awal fotografiku. Mulai dari Gunung Ijen, Bromo, Semeru. Dan keindahan hutan serta pantai di Taman Nasional Betiri dan Baluran juga jadi objek mengasah skill fotografiku,” kenang Adek yang saat itu mendapat kamera SLR Yashica FX3 pertama dari Edwin Tirani, sang kaka.

Singkat cerita, pasca lulus dari UNEJ, ia bekerja sebagai reporter muda di Majalah Tiras tahun 1997 di Jakarta. Bagi Adek, menjadi reporter dan fotografer adalah profesi di bidang jurnalistik dengan medium yang berbeda. Meski di berbagai media kedua profesi tersebut sering dilakukan oleh orang yang sama.

Pengalaman motret saat kerusuhan, bencana, dan konflik

Seiring berjalannya waktu, beberapa media baru muncul. Godaan pindah profesi  dari reporter menjadi fotografer semakin kuat.

“Suatu ketika fotografer Dadang Tri mengajakku melamar menjadi fotografer Majalah Tajuk. Akhirnya tawaran Dadang tak ku tampik, tahun 1998 aku menjadi jurnalisfoto di Majalah Tajuk,” ujar Adek.

Di tahun inilah, Adek mulai menjadi jurnalis foto sesungguhnya, ia mendapat tugas untuk memotret kerusuhan 1998. Tragedi yang menewaskan mahasiswa Trisakti itu membuat emosinya terbentuk dalam menghadapi tantangan memotret dalam keadaan genting dan mengharukan.

“Aku tercekat menahan napas, mencoba menekan emosiku sembari memotret proses pemakaman salah satu jenazah mahasiswa korban Tragedi 1998 (Elang Mulya Lesmana),”  kisah Adek.

Kemudian pada tahun 2004 ketika Aceh diterjang Tsunami, panggilan peliputan harus dihadapi Adek untuk menggantikan rekan jurnalisfoto yang lebih dulu tiba di sana. Suasana di sana porak-poranda, lanjut Adek, memotret di kawasan bencana tidak mudah, ada gejolak batin yang harus dihadapi bukan hanya sekedar dari balik view finder kamera.

“Terkadang saat istirahat selepas motret aku suka menangis, meluapkan segala emosi yang bergejolak saat di lapangan, dan itu caraku membuat emosi menjadi stabil di hari berikutnya,” ujar Adek.

Sepak terjangnya menjadi jurnalisfoto profesional di dalam negeri, membawa Adek terlibat dalam peliputan di konflik di Afghanistan. Tiga kali ia meliput ke Afghanistan  dirinya beruntung karena bisa merasakan dua kali meliput secara embedded (mengikuti pasukan bersenjata) dengan pasukan marinir AS dan sekali bertugas di Kabul secara Independen.

“Jurnalis memasuki semua sisi kehidupan masyarakat, baik yang menyenangkan maupun sisi yang gelap, yang nyaman maupun medan yang sulit, tidak terkecuali meliput di wilayah konflik,” ujarnya.

Buku Mata Lensa

Berbagai pengalaman memotret membawa Adek tergugah untuk mengabadikannya pada sebuah buku. Misinya sederhana, ia ingin berbagi pengalamannya menjadi karya yang abadi  yaitu buku.

“Kalau menulis artikel cakupannya pendek dan sebentar. Kalau buku jangkauannya jauh dan  tahan lama,” kata Adek.

Dalam buku ini Adek menyajikan kisah perjalanan menariknya saat memotret, mengemasnya dalam autobiografi dan menjadi refleksi jurnalisfoto agar semangat dalam pencarian berita meski seorang perempuan dan berhijab. Dan baginya semakin banyak memotret dan menulis semakin cinta ia dengan profesi jurnalisfoto.

Dengan berhijab semua lebih mudah

Menjadi seorang jurnalis foto perempuan banyak keuntungannya, Adek merasa banyak memiliki privilege (hak istimewa) dan akses lebih besar. Seperti bisa mewawancarai tokoh tertentu yang hanya mengizinkan jurnalis perempuan atau memotret di dalam ruang ganti fashion show Muslimah.

Dan hijab yang selalu dikenakannya menjadi pelindung dikala situasi tertentu, di mana secara tidak langsung dengan berpenampilan berhijab seorang perempuan menjadi lebih disegani. Terlebih lagi perannya di keluarga yang juga menjadi istri dan dua orang anak menjadikan hijab sebagai pelindungnya saat bekerja di lapangan.

“Bagi saya berhijab membuat tenang, dulu ada perasaan tidak tenang ketika melepas mukena usai shalat, dari situ saya terpanggil dan yakin untuk memakai hijab,” kenang Adek.

Tips memakai hijab untuk jurnalis foto

Menjadi jurnalis foto yang turbulensi pekerjaannya up and down membuat dirinya harus menyesuaikan hijab yang digunakan. “Sebenarnya kalau boleh aku ingin memakai gamis, tapi aku harus menyesuaikan namun tertutup,” kata dia.

Di akhir wawancara, Adek berbagi tips untuk jurnalis foto yang sering bekerja di lapangan agar menggunakan hijab yang praktis dan membuat nyaman. Bahkan, ia tidak punya bahan khusus yang dipakai.

Namun pakailah hijab yang sesuai dengan situasi liputan, misalnya saat liputan resmi. Dengan begitu penampilan yang rapih dapat memudahan lobi, negosiasi dan akses.

“Intinya, pakailah hijab dan pakaian yang nyaman dan sesuai dengan kebutuhan, ini penting untuk membangun kepercayaan diri fotografer perempuan,” pungkas Adek mengakhiri wawancara. (nat/matalensa/foto:nat)

 

 

 

 

 

 


Back to Top