Jadi Jalan Dakwah, Begini Kisah Ghaida Tsurayya Sukses Bisnis Baju Muslimah

gomuslim.co.id- Ada banyak jalan untuk berdakwah dan mengajak Muslimah untuk menutup aurat dan mematuhi perintah Allah SWT, salah satunya yang dilakukan oleh Ghaida Tsurayya, putri pertama ulama kondang Indonesia, K.H. Abdullah Gymnatsiar ini juga berdakwah melalui dunia modesty fashion dan menjadi influencer perempuan Muslim di Kota Bandung.

Semenjak kecil, perempuan yang telah dikaruniai empat orang anak ini bercita-cita menjadi desainer, namun impiannya sempat tertunda. Saat kuliah ia mengenyam pendidikan di jurusan Fisika.

Memulai usaha dari sekedar iseng

Karena keinginannya yang kuat menjadi desainer pakaian Muslim, sembari kuliah ia sambil berdagang pakaian Muslim di tahun 2009. Ghaida mengaku saat ia memulai usaha busana Muslim yang sekedar iseng, peminatnya cukup banyak, namun yang menjadi kendala tidak banyak pilihan warna dan model.

“Tren baju Muslim dulu dan sekarang beda banget, dulu perempuan terbatas dengan pilihan model baju, dan itu jadi salah satu kendala perempuan banyak yang belum berhijab, sekarang karena pilihannya banyak, perempuan jadi tergerak berhijab terlepas dari panggilan hati,” tutur Ghaida, saat ditemui gomuslim di acara Bandung Modest Fashion Vision 2018, Selasa (18/12/2017).

Untuk memperluas pangsa pasarnya, Ghaida yang menikah saat kuliah ini mulai mengembangkan usahanya dengan modal hasil pernikahan yang kemudian ia gulirkan secara bertahap.

“Dulu Ghaida teh malu mau bilang sama orang tua dagang baju Muslim, makanya diem-diem aja, setelah berkembang pesat baru bilang, dan Alhamdulillah dikasih izin,” kata perempuan yang dikaruniai putra kembar.

Karena bukan berlatar belakang pendidikan desain, ia harus bekerja keras membangun usahanya. Inovasi dan pengembangan diri selalu dilakukan. Bahkan, perempuan yang memiliki brand Gda’S ini tak segan untuk belajar langsung dengan desainer ternama seperti Irna Mutiara.

“Aku ngak punya basic desain, jadi semuanya belajar otodidak. Seperti sering-sering liat majalah fashion, dateng ke acara-acara fashion di Bandung, ngobrol sama desainer, salah satunya tante Irna Mutiara,” pungkas dia.

Berdakwah lewat modest fashion

Kegigihannya menjadi pengusaha busana Muslim dan desainer membuat Ghaida menikmati setiap proses yang dilaluinya, ia merasa nyaman menjadi pengusaha karena memiliki banyak meluangkan waktu untuk keluarga dan hobi.

“Sambil usaha masih sempet ngurus anak, nyalurin hobi dan berpenghasilan,” ucapnya.

Ghaida mengaku dengan terjunnya ia ke dunia fashion ternyata bisa menjadi jalan dakwah. Sebagai seorang anak ulama, ia selalu dititipkan pesan agar ikhtiar yang dilakukan sejalan dengan perintah agama.

“Bapak titip pesan asal bisa jadi jalan dakwah dan dipertanggung jawabkan maka bapak mengizinkan, bapak ingin dibuktikan dengan akhlak juga,” tandasnya.

Sejak kecil Muslimah yang fasih logat sunda ini memang tidak dibiasakan mudah meminta dengan orang tua. Ia mengaku kalau mau minta bantuan orang tua harus disertai dengan ikhtiar.

“Ghaida dididik kalau mau apa-apa harus ada perjuangannya, pinjem ke bapak juga harus dicicil,” kata dia sambil tertawa.

Hijab menurut Ghaida

Dengan adanya tren fashion ia mengaku banyak perempuan yang mulai berhijab. Hal ini menjadi salah satu proses hijrah tiap Muslimah. Dia menilai setiap orang punya proses hijrah yang beda-beda namun balik lagi ke pribadi masing-masing.

“Dengan adanya tren fashion orang-orang jadi mengikuti proses selanjutnya, jadi istiqomah, saling menguatkan, ada komunitas jadi saling support,” katanya.

Ghaida sendiri memaknai hijab sebagai batas diri, hati-hati dalam bertindak, berucap, dan berakhlak.

“Perempuan berhijab belum tentu udah soleha, tapi perempuan yang soleha karena ingin mentaati perintah Allah pasti berhijab,” ujar penyuka warna pastel ini.

Menutup aurat itu perintah, sedangkan persoalan akhlak kembali pada diri masing-masing dan tidak bisa disamakan.

“Hijab membantu kita mawas diri, terjaga identitas sebagai Muslimah. Kalau yang tadinya diganggu sekarang jadi lebih sopan, intinya jadi lebih terjaga,” sambung dia.

Pesan Aa Gym dan Teh Nini

Sebagai seorang anak pendakwah, peran orang tua bagi Ghaida menjadi salah satu keberhasilannya hingga menjadi desainer sampai saat ini. Dirinya mengaku Aa Gym yang merupakan bapak kandung mendukung dengan doa. Sedangkan Teh Nini selalu berpesan agar selalu berhati-hari dengan nikmat yang diberikan Allah.

“Mama selalu menasihati Ghaida supaya ngak gampang terlena dengan kenikmatan, justru semakin sukses semakin banyak ujiannya,” tutup Ghaida mengakhiri wawancara. (nat)

 


Back to Top