Fahmi Hendrawan: Menjadi Enterpreneur Muslim Adalah Perjalanan Spiritual Menemukan Tuhan

gomuslim.co.id- Berani beda dan siap mencoba. Mungkin itulah yang bisa menggambarkan sosok figur yang satu ini. Jika industri fashion muslim didominasi oleh kalangan perempuan, Fahmi Hendrawan justru menghadirkan produk busana muslim untuk pria. Menariknya, CEO Fatih Indonesia ini tidak punya background pendidikan di bidang fashion.

Kepada gomuslim, Fahmi bercerita bahwa dirinya mengawali bisnis sejak tahun 2015. Motivasi terbesarnya masuk ke dunia bisnis ini adalah ingin membantu dan bermanfaat buat banyak orang dengan membuka lapangan pekerjaan.

Bagi pria yang pernah mengenyam pendidikan di Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, menjadi entrepreneur muslim sejatinya adalah suatu perjalanan spiritual menemukan Tuhan. Menurutnya, menjadi entrepreneur muslim bukan saja soal berwirausaha dan menjual produk-produk muslim, tetapi lebih ke sifat dan mental seorang muslim yang menerapkan sistem dan unsur keislaman dalam menjalankan bisnisnya.

“Tentu saja diniatkan ibadah dan melakukan sesuatu dengan niat untuk Allah SWT,” ujar mantan karyawan bank ini.

Selama menjalani usahanya, Fahmi mengaku selalu mendapat pengalaman dan pelajaran. Ia menikmati setiap fase perkembangan bisnisnya. Dengan terlibat di dunia usaha ini, Fahmi justru merasa semakin dekat dengan Sang Pencipta.

“Saya semakin yakin untuk menggantungkan semuanya kepada Allah, jadi lebih sering ingin berbincang dengan Allah terus melalui shalat 5 waktu serta shalat sunnah termasuk tahajud dan dhuha. Karena momen-momen itu selalu menguatkan saya bahwa Allah ada bersama saya dan saya tidak sendirian. Apalagi ketika kita mengalami momen jatuh bangun. Beda, kalau dulu di kantoran kita punya bos yang akan guide semua pekerjaan kita, kalau wirausaha ya bosnya Allah langsung,” paparnya.

Fahmi yang kini juga sedang melanjutkan kuliah S2 di ITB jurusan Master of Business Administration (M.B.A.), Creative & Culture Entrepreneur mengaku memulai bisninya secara otodidak. Namun, ia bekerja keras dan serius menggeluti usahanya. Tak jarang ia mengikuti berbagai workshop tentang kewirausahaan, start course tentang fashion, sampai mencari mentor dalam menjalani usahanya.

“Awal memulainya sendiri dari mulai konsep bisnis, design sampai akuisisi. Sampai akhirnya perlahan-lahan mulai menghire karyawan sampai sekarang kurang lebih 3 tahun FATIH berdiri,” kata pria asal Garut tersebut.

Tahun 2017 menjadi tahun yang cukup menggembirakan bagi Fahmi. Pasalnya, Fatih Indonesia yang dipimpinnya telah dipercaya untuk terlibat dalam bazaar dan fashion show besar di sejumlah negara. Sebut saja seperti Malaysia, Singapura, Moscow Russia, dan yang terakhir kemarin Jepang.

“Ke depan, kami akan mengeluarkan beberapa second line produk yang disesuaikan dengan segmentasi pasar, membuka butik, menerapkan sistem reseller serta menjadi klien perusahaan-perusahaan untuk pembuatan seragamnya,” ujarnya.

Ia meyakini potensi pasar muslim yang besar akan menjadikan Indonesia sebagai pusat Fashion Muslim Dunia tahun 2020. “Perkembangan dunia fashion muslim ini bergerak sangat signifikan. Banyak bermunculan brand-brand baju muslim wanita maupun pria serta aksesorisnya. Diprediksikan tahun depan akan semakin banyak,” katanya.

Kepada generasi muda yang akan memulai bisnis, Fahmi memberikan tips dan beberapa pesan. “Pertama, mulai dulu jangan banyak takut dan berfikir karena tidak akan pernah tau dimana potensi dan kapasitas kita berada,” ungkapnya.

Kedua, fokus dan sabar dalam merintis usaha. Ketiga, cari mentor, datangi workshop atau seminar bisnis, jangan berhenti belajar. “dan keempat, libatkan Allah dalam setiap aktivitas bisnis kita,” pesannya.

Tentang Fatih Indonesia

Fatih adalah brand busana muslim untuk laki-laki yang memadukan antara baju koko atau dengan batik. Desain modern dan casual namun masih ada sentuhan religi membuat produk ini cocok dipadupadankan dengan celana modern untuk segala situasi.

“Saya ingin mengangkat level baju muslim pria dan se-fenomenal hijab. Baju koko itu tidak hanya untuk beribadah saja kok, tapi juga untuk bebagai aktivitas non formal, semi formal bahkan formal sekalipun. Itulah mengapa tagline kami ‘saatnya baju koko naik kelas’,” kata Fahmi.

Nama Fatih sendiri berasal dari bahasa arab, yang artinya sebagai penakluk. “Harapannya mampu mengambil hati konsumen. Bisa juga bermakna pemimpin (bagi merek/produk di kelasnya). Fatih juga berarti pembuka. Saya harap ini menjadi pembuka jalan untuk berbisnis secara barokah dan membantu orang-orang sekitar,” jelasnya.

Adapun untuk targetnya sendiri adalah 90% pria urban kelas menengah, usia 20-40 tahun dan 10% wanita di kelasnya dengan usia yang sama sebagai eksekutor atau pengambil keputusan pria dalam berbelanja. (njs)


Back to Top