Jadi Wakil Indonesia di Ajang New York Fahion Week 2018, Begini Kisah Sukses Vivi Zubedi Kenalkan Kain Tradisional untuk Modest Wear

gomuslim.co.id- Dikenal dengan DNA Abaya masa kini, nama Vivi Zubedi berhasil populer di mancanegara. Ia berhasil memodifikasi baju kurung atau abaya menjadi pakaian yang digemari perempuan Muslim.

Ketika banyak orang yang mengira abaya hanya sebatas pakaian Muslim, di tangan perempuan berdarah Arab abaya tak hanya sebatas pakaian tertutup atau syar’i namun juga memberikan kesan stylish dan modern.

Tinggalkan akuntan, menjadi desainer

Berawal dari hobinya menggambar saat masih duduk di bangku SMP. Vivi Zubedi kecil sering membuat pola-pola baju dan desain busana. Namun seiring berjalannya waktu minatnya tidak tersalurkan. Setelah lulus dari Universitas Sumatera Utara (USU) ia bekerja sebagai akuntan.

“Sebenarnya dulu aku akuntan, tapi setelah masuk ke industri fashion sempat ambil kursus private belajar pola tiga bulan. Sudah lama banget suka bikin-bikin baju bahkan sebelum jadi akuntan sudah sering bikin baju tapi belum tahu gimana cara mulai bisnisnya. Aku mula suka desain baju sejak SMP,” tutur Vivi.

Namun, lagi-lagi passion yang membawa ibu tiga orang anak ini untuk menjadi desainer sepenuhnya. Ia meninggalkan profesinya sebagai akuntan, dan terjun ke dunia modest fashion hingg sekarang.

Kemudian pada tahun 2011, ia mulai mengawali dunia desainer, saat itu nama brand yang diusung adalah Vivi.co namun usahanya masih jatuh bangun. Karena pada tahun 2011 Muslimah Indonesia belum mengenal abaya sebagai pakaian fashion. Karena modelnya yang masih kontemporer dan belum banyak pilihan motif sehingga enggan untuk dijadikan trend.

Seiring berjalnnya waktu, nama brand ia ubah menjadi Vivi Zubeidi. Ia mulai menyadari bahwa minat terbesarnya ada pada motif-motif yang etnik dan vintage. Ia pun menerapkan corak etnik pada desainnya. Seperti koleksi abaya yang dirilisnya ia menerapkan motif tribe yang diambil dari berbagai negara timur tengah dan vintage.

"Inspirasi lainnya aku dapat dari bangunan kuno atau lampu-lampu zaman dulu. Pokoknya aku cari yang vintage dan etnik karena memang suka banget," tutur desainer yang hobi melakukan kerajinan tangan ini.

Meski terbilang belum lama aktif di dunia modest fashion, desainer asli Medan ini sudah menunjukkan kemampuannya, bahkan hingga ke kancah internasional. Ia pernah memamerkan karyanya di London dan memiliki butik di New York, Amerika bersama sejumlah desainer lainnya.

Mengangkat motif Sasirangan dan Pagatan ke NYFW 2018

Jika sebelumnya abaya Vivi Zubedi identik dengan warna-warna gelap dan vintage, kini ia mulai beralih ke motif kain-kain tradisional yang lebih etnik.

Ia ingin mengangkat produk lokal agar bisa bersanding dengan kain fashion yang sebenarnya tak kalah indahnya dengan kain-kain tradisional di daerah.

“Tanggal 11 Februari ini aku akan bawa kain Sasirangan dan Pagatan asal Kalimantan Selatan ke New York Fahion Week 2018 dalam tema 'Urang Banua'. Abaya akan dipadukan dengan kain Sasirangan dan Pagatan dengan gaya vintage,” tutur Vivi saat ditemui gomuslim, Rabu (31/01/2018).

Demi menggali informasi mengenai kain Sasirangan dan Pagatan, ia mengeksplore Kalimantan Selatan. Melihat secara langsung proses pembuatan kain tersebut yang terbilang rumit.

“Saat itu aku bilang ke ibu-ibu di sana, ‘bu kain ini akan aku bawa ke panggung besar. Kain buatan ibu akan disejajarkan dengan kain fashion semoga dari sini banyak buyer internasional yang tertarik dengan kain Sasirangan’,” tutur Vivi.

Lebih dekat dengan pengrajin kain lokal

Upaya Vivi melakukan riset di pedalaman Kalimantan Selatan dari bulan Oktober 2017 hingga saat ini rupanya mendekatkan dirinya dengan pengrajin kain lokal tradisional.

Ia semakin dekat dengan ibu-ibu pengrajin kain Sasirangan, kedekatannya membuat dirinya terguggah untuk meberdayakan mereka melakukan ekspansi lebih jauh. Sampai pada suatu saat ia membuat workshop kecil-kecilan untuk membuka wawasan ibu-ibu pengrajin kain agar dapat bersaing dengan kain fashion.

Dalam pembuatan kain Sasirangan Vivi menceritakan alur proses pembuatan yang cukup sulit dan terbilang lama. Dibutuhkan waktu yang cukup lama, kain digambar terlebih dahulu sesuai motif khas Sasirangan, salah satunya motif Gigi Haruan, kemudian dijelujur dengan benang yang dinamakan dengan teknik menyirang. Setelah itu kain dicelup ke dalam pewarna alami, lalu hasil jelujur benang dilepas kembali dengan gunting kuku.

“Saya benar-benar mengalaminya dan itu tidak mudah, karena saya bertekat untuk membawa kain ini ke panggung dunia, saya coba mengajarkan ibu-ibu di sana dengan teknik baru yang sederhana dan cepat dengan cara menjepit,” pungkasnya.

Makna kain tradisonal dan kain fashion

Ada banyak hal yang dipelajari oleh ibu tiga orang anak ini dalam mengartikan sebuah pakaian. Vivi merasakan hal yang sama dirasakan oleh ibu-ibu pengrajin bahwa kain tradisional memiliki makna yang mendalam, lebih dari sekedar pakaian yang harganya jutaan.

“Ada nilai seni yang berbeda dari kisah sebuah pakaian, kisah tentang sebuah proses pembuatan kain. Aku berharap masyarakat dunia, terutama Indonesia menyadari bahwa kain tradisional lebih dikenal masyarakat luas dan menjadi kebanggaan dan ciri khas busana Indonesia,” tutur Vivi. (nat/foto:@vivizubedi)


Back to Top