Al-Ghazali dan Al-Khalifi, Kembar Cilik Penghafal Alquran Hadiahkan Haji untuk Keluarga

gomuslim.co.id- Lucu, inspiratif dan menggemaskan. Itulah gambaran yang dapat disematkan pada sosok Al-Ghazali dan Al-Khalifi. Dua kembar cilik yang menjadi penghafal Alquran. Bagaimana tidak, diusianya yang masih terbilang belia, duo Kembar Al ini sudah hafal beberapa juz Alquran.

Kesuksesan si kembar bernama lengkap Al-Ghazali Tsaqib Janitra Raja dan Al-Khalifi Zikri Jonea Raja menjadi hafiz cilik ini tidaklah langsung begitu saja. Tentunya, ada sosok-sosok penting dibalik itu semua. Mereka diantaranya kedua orangtua kembar yakni Erwin Amirul Raja dan Regina dan Ustadz yang mengajarkan kembar menghafal Alquran.

Kepada gomuslim, Erwin bercerita bahwa dirinya dan sang isteri sendiri bukan dari keluarga hafiz. Namun, keduanya berkeinginan kuat untuk menjadi keluarga penghafal Alquran, terlebih ketika Erwin dipercaya menjadi Produser Program Hafiz Indonesia (HI) di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia.

“Jadi awalnya saya bikin program pencarian bakat khusus anak-anak penghafal Alquran di TV. Kemudian saya berfikir kalau anak orang bisa kenapa anak saya enggak. Karena bagi saya, seorang penghafal Alquran itu tidak mutlak lahir dari penghafal Alquran juga. Jadi bisa dididik,” ujarnya saat ditemui dalam sebuah acara di Bekasi.

Ia sendiri mengakui kalau pendidikan Alquran dirinya dan isteri tidak terlalu baik. “Alhamdulillah, sekarang kami jadi termotivasi dari anak. Saya sama isteri sebenarnya tidak ada keturunan kembar. Tapi Qadarullah, Allah titipkan si kembar ini untuk kita didik menjadi penghafal Alquran,” katanya.

Tips Menghafal Alquran untuk Anak

Dalam mendidik anak kembar kelahiran 17 Agustus 2012 ini, Erwin mempunyai cara tersendiri. Misalnya dengan memperdengarkan ayat Alquran kepada anak melalui mp3 murattal salah satu imam.

“Jadi kita biasakan anak untuk diperdengarkan Alquran dengan satu nada dulu. Satu imam misalnya. Kalau anaknya sudah mulai menangkap, baru imam lain. Misal targetnya juz 30, jadi yang diputernya juga juz 30 terus sampai hafal,” ungkapnya.

Selanjutnya, menjauhkan anak dari alat-alat elektronik juga menjadi cara Erwin supaya kedua anaknya fokus menghafal Alquran. Ia mengaku enggan memberikan alat-alat elektronik kepada kedua anaknya karena lebih sedikit manfaatnya.

“TV misalnya, di rumah ada, tapi enggak pernah disetel. Kalau pun disetel cuma setahun sekali, cuma untuk nonton Hafiz Cilik aja,” katanya.

Selain itu, Erwin juga selalu memberikan pendekatan tauhid kepada anak-anak di setiap saat. “Di rumah, kalau mereka (kembar_al) melakukan kesalahan, misalnya berantem gitu, pasti kita kasih punishment. Contohnya mereka disuruh bertaubat, mengucapkan istighfar beberapa kali supaya tidak mengulanginya lagi,” paparnya.  

Erwin mengatakan, saat ini, Kembar Al sudah hafal empat juz Alquran beberapa surat seperti Al-Baqarah, An-Najm, Ath-Thur. “Saya bersama istri mendengarkan Alquran kepada kembar Al  sejak usia satu tahun delapan bulan. Ya kira-kira dua tahun an,” ungkapnya.

Tidak Sekolahkan Anak ke Sekolah Umum

Selain menjauhkan anak-anaknya dari alat elektronik, Erwin yang juga sempat aktif di beberapa media televisi nasional itu menegaskan, ia bersama sang istri sudah bertekad tidak akan menyekolahkan anaknya ke sekolah umum. “Saya bersama istri sudah bertekad tidak akan menyekolahkan anak kami ke sekolah umum. Biarkan mereka terus belajar Alquran,” katanya.

Ia beralasan, ketika dihisab nanti, yang ditanya bukan ilmu hitung, bukan ilmu bahasa, tetapi ilmu Alquran. Menurut dia, ilmu Alquran bermanfaat di dunia maupun di akhirat. “Kami tak peduli jika nanti kembar Al tidak bisa matematika, mereka tidak bisa bahasa Inggris. Yang penting mereka berdua bisa menguasai ilmu Alquran,” tegasnya.

Pergi Haji dan Bangun TAUD

Berkah kembar menjadi penghafal Alquran pun sudah dirasakan Erwin dan keluarga. Pada tahun 2016, ia bersama isteri dan kedua anaknya berangkat haji ke Tanah Suci. “Kembar ini sudah menghadiahkan kami sekeluarga haji. Karena hafalan Alqurannya kembar, kami sekeluarga haji,” ujarnya.

Setelah pulang dari haji, ia mempunyai keinginan seluruh anak-anak di Indonesia bisa menjadi penghafal Alquran. Salah satu usahanya dalam menyukseskan harapannya adalah dengan mendirikan lembaga An-Nashr Islamic School di daerah Ciputat, Tangerang Selatan. Sebuah lembaga yang mengajarkan Alquran sejak dini.

“Ketika pulang dari haji, kami berpikir bahwa kalau hanya sekedar jadi penonton sejarah ko kayaknya kurang gitu. Lebih baik kita menjadi pelaku sejarah. Akhirnya kita bikinlah sekolah. Kalo orang bikinnya PAUD, kita bikinnya TAUD (Tahfidz Anak Usia Dini). Sekolah ini menerima murid seumuran kembar mulai dari 2 tahun. Insya Allah mencetak penghafal-penghafal Alquran di umur 9 tahun bisa 30 juz,” paparnya.

Menurutnya, sekolah ini terbuka untuk siapa saja sekaligus menjadi solusi bagi orangtua yang merasa kurang mampu atau tidak percaya diri mengajarkan anaknya Alquran. “Kami hadir sebagai solusi Insya Allah,” tutupnya. (njs)

 


Back to Top