Disadarkan Allah Lewat Bentakan Seorang Pembantu

Seorang ibu yang tidak mau disebutkan namanya, menceritakan pengalamannya saat melakukan ibadah umrah. Ia mengajak pembantunya untuk turut serta ke Tanah Suci Mekkah agar dapat membantunya di sana. Sebelum keberangkatannya, ia kerap bersikap kasar terhadap pembantunya. Namun sang pembantu tidak pernah sedikitpun mengeluh apalagi membantah perintah majikannya, meskipun terkadang terlontar ucapan kasar yang ditujukan padanya.

Setibanya di Tanah Suci Mekkah, tiba-tiba saja suasana berbalik 180 derajat, saat di bandara, ibu tersebut kerap menerima bentakan dari pembantunya. Bahkan ibu yang posisinya sebagai majikan, diperintahkan  oleh pembantunya sendiri untuk mengangkat koper sampai ke penginapan. Ibu tersebut kerap diperintah oleh pembantunya seolah-olah terjadi pertukaran posisi sosial yang tidak bisa ditolak.

Anehnya, ibu tersebut tidak dapat melakukan bantahan apapun terhadap perilaku pembantunya itu. "Saya merasa gemetar dan ketakukan saat disuruh-suruh pembantu saya sendiri, bahkan saya seperti kehilangan kekuatan untuk bisa melawan", ujarnya. Kondisi seperti ini akhirnya membuatnya menangis di Masjidil Haram, sampai akhirnya dibukakanlah kesadaran akan derajat manusia yang sama di hadapan Allah dan yang membedakannya hanyalah ketakwaan.

Menyadari akan hal itu, ia pun sangat berhati-hati untuk tidak lagi bersikap kasar terhadap pembantunya. Meskipun pada posisi sosial seorang majikan lebih tinggi dari pembantunya, namun bukan berarti dapat semena-mena bersikap kasar. "Pembantu saya berhenti menyuruh dan membentak saya setelah saya menangis dan meminta maaf padanya" ungkapnya dengan nada lirih. Perjalanan ibadah umrahnya ke Tanah Suci Mekkah membawa oleh-oleh berupa pelajaran yang sangat berharga yang tidak didapatinya di tanah air. Karena terbukanya kesadaran tidak hanya cukup dengan pengetahuan tekstual melainkan dibukakan pintu hati untuk dapat menerima cahaya hidayah Allah. (FH)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top