Bully Berbalas Doa Yang Terkabul

Jakarta, (gomuslim). Semula ia merasa kebetulan diberangkatkan umrah oleh perusahaannya. Tetapi tak dinyana, ini adalah buah dari rentetan peristiwa yang ia alami dan ditempuh dengan sabar. Mungkin dalam sabarnya itu pernah terselip sepotong doa. Selama ia bekerja perusahaan lama, Rijal berusaha bekerja dengan baik, mengejar target penjualan dengan maksimal. 

Rijal bekerja dalam sebuah tim divisi marketing, setiap honor fee marketing sebagai tambahan dari gaji yang seharusnya ia terima sering tak sampai di genggaman. Sebagai imbalan fee marketing penjualan yang mencapai target jarang ia terima penuh. Bahkan satu fee marketing hasil upaya kerja kerasnya seharusnya ia terima tak sampai ke tangannya. Alasan teman-teman satu timnya, sudah lah kita buat makan-makan... buat kita senang-senang. Singkat cerita, ujungnya ia tak pernah menerima honor tambahan dari kerjaannya. Rijal awalnya menerima saja, tetapi karena sikapnya yang diam, orang lain, temannya lalu jadi biasa berbuat seperti begitu. Atasannya pun mulai ikut-ikutan, terkadang tak memberikan honor tambahan dari cucuran kringatnya. Rijal memilih diam hingga seperti tak terjadi apa-apa.

Sampailah pada suatu kejadian, ada transaksi yang bernilai cukup besar. Tetapi lagi-lagi honor fee marketingnya tak keluar. Eh, pada open PO berikutnya terjadi repeat order, terjadilah kesalahan transaksi atau ada cacat produk, sehingga konsumen meminta ganti rugi. Perusahaan dituntun mengembalikan atau membayarkan kerugian yang dialami konsumen. Apa yang dilakukan atasan Rijal? Ia meminta uang fee marketing yang diterima divisinya dari transaksi pertama dan transaksi repeat order untuk dikumpulkan dan diserahkan ke konsumen sebagai ganti rugi. Tentu saja ini aneh bagi Rijal, ia tak pernah merasa menerima honor sepeserpun baik dari transaksi pertama maupun yang kedua (repeat order). Sudah jelas-jelas atasannya tau jika honor di sesi transaksi penjualan ini Rijal tidak diberi hak honornya tetapi tetap diminta menyerahkan. Iya kalau teman lainya wajar bila menerima konsekwensi mengembalikan fee marketing, karena mereka terima. Karuan kesabaran Rijal mendorongnya berbuat sesuatu. Ia keluar dari tempat bekerja, tanpa mentolirir lagi sikap kelakukan lingkungannya. Ia resign. Di hatinya yang diliputi gejolak amarah yang ia tahan, berdoa ...”Ya Allah ini hanya pantas saya adukan ke haribaanmu. Kelak jika aku diberikesempatan bersimpuh di depan Baitullah, aku akan menzahirkan (melisankan) semua pengalaman ini hanya kepada Mu.”

Dan, doa itu rupanya terkabulkan. Setelah keluar dari perusahaan, ia mendaat rizki dan berangkat ke tanah suci. Rijal menumpahkan keluh kesah dan ratapannya hanya kepada Allah di salah satu sisi Kakbah. Tapi apa isi doanya? Isi doanya bukan sumpah serapah dendam atau kutukan. Ia berkisah, di dalam doanya ia minta kebaikan dunia dan akhirat seperti doa yang diajarkan dari Rasulullah SAW kepada pengikutnya. Selebihnya ia meminta agar mantan teman dan atasannya itu memperoleh hidayah dan mau mengubah sikap dan kebijakan menejerialnya biar tak ada korban Rijal lainnya. Satu lagi doa yang rupanya istimewa jawabannya bagi Rijal; ia memohon untuk dipertemukan dengan teman yang bisa mengerti atas sikap-sikap dan karakternya. Tetapi jawabannya lebih dari sekedar teman, ia bertemu dengan pendamping hidup yang menemaninya sepanjang hayat, menerima segala kekurangan dan kelebihannya—lahir dan batin!


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top