Manusia Lahir di Kakbah (1)

Istimewa, Dermawan Ini Lahir di dalam Kakbah

Mekkah, (gomuslim). Apakah ada orang lahir di dalam Kakbah? Mungkin pertanyaan ini tidak relevan diajukan pada hari ini karena Kakbah selalu ramai dan tertutup dalam penjagaan asykar atau polisi. Tetapi pada zaman dahulu, sebelum ‘fathu mekkah’ Kakbah yang memiliki dua pintu dapat dimasuki penduduk Mekkah pada saat-saat tertentu, dan salah seorang sahabat Rasulullah SAW tercatat dalam sejarah sebagai salah seorang yang istimewa se-dunia karena terlahir di dalam Kakbah.

Dia adalah Hakim ibnu Hazm. Ketika itu, sang ibu yang tengah hamil tua bersama beberapa wanita Mekkah masuk ke dalam Kakbah untuk berdoa, sebagaimana kebiasaan saat festival Mekkah yang dilaksanakan setiap tahun.  Saat itu bentuk Kakbah masih asli sebagaimana dibangun dan Nabi Ibrahim, lengkap dengan Hijir Ismailnya, dengan dua pintu untuk keluar dan masuk.

Ketika berada di dalam Kakbah tiba-tiba perut sang ibu mendadak sakit dan merasa hendak melahirkan. Dia tidak kuat lagi untuk bergerak keluar Kakbah dan terpaksa dibaringkan di dalam Kakbah hingga penduduk Mekkah menjadi gempar. Sesudah dipersiapkan persalinannya, tak lama kemudian seorang bayi terlahir ke dunia. Bayi itu diberi nama Hakim.

Ayahnya bernama Hazm, yang adalah putra dari Khuwaylid. Oleh karenanya, Hakim tak lain merupakan kemenakan Siti Khadijah, istri Rasulullah, sebab Khadijah adalah putri Khuwaylid.

Hakim dibesarkan di keluarga kaya raya. Dia pun benar-benar menikmati statusnya sebagai anak dari keluarga terpandang di Mekkah. Meski demikian, orang tua Hakim tidak serta-merta memanjakannya, bahkan dia diberi tanggung jawab untuk melaksanakan rifadah, yakni membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan, terutama pada musim haji.

Hakim pun benar-benar melaksanakan amanat itu dengan penuh keikhlasan, bahkan tak jarang dia membantu para jamaah haji menggunakan uangnya sendiri. Hakim tumbuh menjadi pemuda  rendah hatinya sehingga dia sangat dihormati oleh masyarakat. Dia pun terkenal sebagai pemuda yang selalu bersedia membantu orang lain yang sedang tertimpa kesusahan.

Hakim pun bersahabat erat dengan Nabi Muhammad SAW, jauh sebelum menjadi Rasul. Kendati usianya lima tahun lebih tua dari Rasulullah, hal tersebut tidak menghalangi hubungan keduanya. Mereka kerap berbincang serta menikmati kebersamaan sebagai sahabat. Hubungan pertemanan antara Rasulullah dan Hakim menjadi kian dekat manakala Nabi menikah dengan bibinya, Khadijah binti Khuwaylid.

Meski lama bersahabat dengan Rasul, Hakim tidak memeluk Islam hingga peristiwa penaklukan Mekkah. Itu berarti lebih dari 20 tahun setelah Islam didakwahkan secara terang-terangan oleh Rasul.

Hakim menyesal telat memeluk agama Islam. Ketika pertama kali mengucap dua kalimah syahadat, dia benar-benar amat bersalah serta menyesali setiap detik dalam hidupnya sebagai seorang musyrik dan menolak kebenaran dari Allah SWT dan Rasul-Nya.

Nabi Muhammad memang terkejut manakala seorang yang rendah hati dan berpengatahun seperti Hakim tidak memeluk Islam. Untuk waktu lama, Rasul sangat berharap bahwa Hakim serta orang-orang yang sepertinya, dapat terbuka mata hati serta menerima kebenaran Islam.

Malam sebelum penaklukan Mekkah, Rasulullah berkata kepada para sahabat, "Ada empat orang di Mekkah yang aku ingin agar mereka bersedia memeluk agama Islam." Sahabat lantas bertanya, "Siapa saja mereka itu ya Rasul?"

"Mereka, antara lain, Attab Ibn Usayd, Jubayr Ibn Mutim, Hakim Ibn Hazm, dan Suhayl Ibn Amr," jawab Rasul. "Dengan ridha Allah, mereka akan menjadi Muslim."

Ketika pasukan Islam masuk ke Kota Mekkah dan membebaskan kota itu dari jahiliyah, beliau lantas berseru, "Siapa saja yang bersedia mengakui tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka dia akan selamat. Siapa saja yang berlindung di Kakbah serta meletakkan senjatanya, dia juga akan selamat. Siapa saja yang masuk dan berlindung di rumah Abu Sufyan, dia selamat. Dan, siapa saja yang masuk dan berlindung di rumah Hakim ibn Hazm, dia selamat...."

Tak berapa lama, Hakim pun bersegera memeluk Islam dengan sepenuh hati. Dia lantas bertekad untuk menebus segala dosa yang pernah dia perbuat semasa hari-hari jahiliyahnya serta apa pun yang pernah dia lakukan untuk menentang Rasulullah. Dia ingin menebusnya demi kemuliaan Islam.

Dermawan

Hakim tidak hanya orang kaya, tetapi juga cendekiawan Mekkah pada zamannya. Ia adalah merupakan pemilik dari sebuah bangunan bersejarah di Mekkah bernama Darun-Nadwah. Di tempat itu, biasanya para pemuka Quraisy berkumpul dan berdiskusi tentang banyak hal, termasuk merencakan perang dan lainnya, termasuk rencana pe bunuhan terhadap Nabi Muhammad pada zaman jahiliyah dibahas di tempat tersebut. Hakim memutuskan untuk menjual bangunan itu, demi menghapus kenangan hitam masa lalu. Dijualnya bangunan tersebut seharga 100 ribu dirham. Seorang kemenakannya pun bertanya,"Anda telah menjual bangunan berharga itu kepada orang Quraisy, Paman?"

Dengan sabar Hakim menjawab, "Kebanggaan dan kejayaan semu kini telah hilang dan berganti nilai takwa. Aku hanya menjual sebuah bangunan, tapi dengan harapan dapat menggantinya nanti di surga. Dan, aku berjanji akan mendermakan seluruh hasil dari penjualan ini di jalan Allah."

Saat melaksanakan ibadah haji, dia menyembelih sekitar 100 ekor unta serta membagi-bagikan dagingnya kepada kaum fakir miskin di Mekkah. Demikian pula ketika di padang Arafah, bersamanya ada sebanyak 100 budak, dan setelah memberikan masing-masing segenggam perak, para budak itu pun dibebaskannya. Hakim memang amat dermawan, seperti bibiknya, Khadijah, istri Rasulullah SAW.

Sahabat yang lahir di dalam Kakbah ini hingga akhir hayatnya menjadi pembela Rasulullah menegakkan Islam di muka bumi. Keistimewaannya terlahir di tempat mulia terbawa hingga akhir hayat, ia wafat dalam kemulyaan membela agama Allah bersama Rasulullah.  (mm)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top