Manusia Lahir di Kakbah (2, Habis)

Sahabat Ali, Tumbuh Bersama Nabi Hingga Jadi Pintu Ilmu

Mekkah, (gomuslim). Selain Sahabat Hakim Ibn Hazm yang lebih tua 7 tahun dari Nabi SAW, ada lagi sosok mulia yang ditakdir lahir di dalam Kakbah, yaitu Sayidina Ali Ibnu Abu Thalib, sepupu Nabi SAW. Ali dilahirkan pada tanggal 13 Rajab, 10 tahun sebelum masa kenabian. Ketika Nabi diangkat sebagai Rasul, Ali adalah orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak.

Bagaimana bisa terjadi lagi ada seorang Ibu melahirkan di dalam Kakbah? Padahal, peristiwa kelahiran Hakim Ibnu Hazm beberapa tahun sebelumnya saja belum dilupakan. Apakah dibolehkan? Menurut sejumlah riwayat, melahirkan di dalam Kakbah memang kejadian luar biasa atau ‘extraordinary’ yang jarang terjadi, selain karena tidak dapat dihindari. Hanya dibolehkan pada ‘keadaan khusus’ saja, jika tidak dilarang, maka semua penduduk Mekkah tentu antre melahirkan di dalam Kakbah.

Seperti kisah kelahiran Ibnu Hazm yang terjadi ketika Ibunya sedang berada di dalam Kakbah pada peristiwa festival Mekkah, kelahiran Ali pun demikian. Saat itu, Ibu Ali, yaitu Fatimah Binti Assad, sedang mengandung sembilan bulan. Fatimah bertawaf bersama suaminya, Abu Thalib. Pada saat itu, Fatimah merasakan tanda-tanda akan melahirkan atau dalam istilah kedokteran sudah memasuki ‘bukaan tiga’.

Diriwayatkan dari Yazid bin Qa'nab, ia berkata, 'Aku sedang duduk-duduk bersama Abbas bin Abdul Mutthalib dan sekelompok dari keluarga Bani 'Izza di hadapan Kakbah. Sementara dalam kondisi demikian, Fatimah binti Asad mendekati Kakbah. Ia dalam keadaan hamil sembilan bulan dan sebentar lagi akan melahirkan. Di hadapan Kakbah ia mengangkat tangannya dan berdoa, 'Ya Allah, Aku beriman kepadaMu dan juga beriman kepada yang datang dari sisi-Mu baik itu Rasul atau Kitab. Aku membenarkan apa yang diucapkan oleh kakekku Ibrahim Al-Khalil bahwa ia yang membangun Kakbah. Demi hak yang membangun Kakbah, dan demi bayi yang berada dalam kandunganku, permudahkan kelahiran bayiku ini'.

Penduduk Mekkah yang sedang tawaf ketika itu menyaksikan hal ini kemudian membaringkan Fatimah di dalam, lalu dia pintu  Kakbah ditutup agar privasinya lebih terjaga dari pandangan orang lain selain ibu-ibu. Setelah beberapa lama berada di dalam Kakbah, kemudian Fatimah binti Assad keluar sambil menggendong seorang bayi.

Kabar gembira ini secepatnya disampaikan kepada Abu Thalib dan keluarganya. Kegembiraan tampak di wajah mereka. Semuanya berebut ingin lebih dahulu melihat bayi. Muhammad Rasulullah adalah yang paling terdepan. Ia mengambil bayi itu kemudian menggendongnya. Ia membawa bayi yang baru lahir itu ke rumah Abu Thalib. Pada masa itu, Nabi telah menikah dengan Khadijah namun masih sering tinggal di rumah pamannya. Abu Thalib melihat bayinya dan memberinya nama Ali. Abu Thalib mengadakan perayaan menyambut kelahiran anaknya dan menyembelih banyak hewan.

Sejak Ali lahir, Nabi makin sering hilir mudik di rumah pamannya Abu Thalib sekalipun ia dan Khadijah telah hidup sendiri. Nabi senantiasa memiliki perhatian yang lebih kepada Ali, menyayanginya dan sering menggendongnya. Dalam kehidupan selanjutnya, Ali tumbuh bersama kakak dan adik-adiknya.

Kedekatan Nabi dan Ali makin terbangun ketika kabilah Quraisy tertimpa krisis ekonomi yang cukup parah. Abu Thalib terkenal memiliki keluarga besar. Ia termasuk yang paling menderita dengan kondisi ini. Melihat itu Rasulullah SAW mengusulkan kepada pamannya yang lain, yaitu Abbas Ibnu Abdul Muthallib, yang tergolong orang kaya di kalangan Bani Hasyim, untuk meringankan beban Abu Thalib. Nabi berkata, 'Wahai Pamanku Abbas, Saudaramu Abu Thalib memiliki keluarga banyak. Di sisi lain bukankah engkau tahu apa yang tengah menimpa masyarakat. Mari kita bersama-sama meringankan tanggungannya. Aku akan mengambil salah satu dari anak-anaknya dan menjadi tanggunganku dan engkau mengambil yang lainnya dan menjadi tanggunganmu. Abbas menjawab, 'Baiklah'.

Keduanya segera berangkat menuju Abu Thalib dan berkata padanya, 'Kami berdua ingin meringankan beban dari tanggungan yang berat atas keluarga besarmu agar masyarakat mengetahui apa yang harus mereka kerjakan. Abu Thalib menyetujui usulan keduanya dan berkata, 'Kalian boleh mengambil yang mana saja yang kalian kehendaki tapi biarkan 'Aqil bersama kami. Rasulullah SAW dan Abbas setuju. Nabi mengambil Ali bin Abi Thalib dan langsung mendekapnya. Pada waktu itu Ali bin Abi Thalib berumur enam tahun. Sementara Abbas mengambil Ja'far.

Semenjak itu Ali bin Abu Thalib senantiasa bersama Muhammad SAW sehingga diangkat menjadi Nabi. Ketika telah menjadi Nabi, Ali bin Abu Thalib kemudian mengikuti, beriman dan membenarkan Muhammad sebagai Nabinya. Ja'far juga bersama Abbas hingga ia masuk Islam dan ketika itu telah mampu ia berpisah dengan Abbas.

Rasulullah berkata setelah ia memilih Ali bin Abu Thalib, 'Aku telah memilih seseorang yang dipilihkan Allah untukku yaitu Ali'.

Demikianlah, telah tiba waktunya bagi Ali bin Abi Thalib untuk hidup sejak kecil bersama Muhammad Rasulullah SAW. Ia dibesarkan di bawah naungan akhlak Nabi yang mulia. Ia minum dari sumber-sumber kecintaan dan kasih sayang Nabi. Muhammad saw membimbingnya tepat sesuai dengan cara pendidikan yang diajarkan Allah kepadanya. Semenjak itu Ali bin Abu Thalib tidak pernah terpisah dari Muhammad saw Nabinya.

Imam Ali bin Abi Thalib AS. sendiri menyebutkan sisi-sisi edukatif yang dipelajarinya dari sang guru dan pendidiknya Muhammad saw. Bagaimana pendidikan yang diterimanya memiliki dampak yang dalam dan sangat membekas dalam dirinya. Itu disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib dalam khotbahnya yang terkenal dengan Al-Qashi'ah. Ia berkata:

'Bukankah kalian telah mengetahui bagaimana hubungan dan kedekatanku dengan Muhammad Rasulullah SAW dan posisi serta kekhususanku bagi Nabi. Ia meletakkanku di kamarnya di umurku yang masih kecil. Ia sering merengkuh dan menarikku dalam dekapannya. Ia senantiasa menjagaku dipembaringannya. Tubuhku sering bergesekan dengan tubuh Nabi. Ia memberiku kesempatan untuk mencium bau badannya yang wangi dari dekat. Nabi biasanya mengunyah makanan hingga halus kemudian dimasukannya ke dalam mulutku. Ia tidak pernah menemukan aku berkata bohong dan melakukan perbuatan salah karena tidak tahu'.

'Aku mengikuti jejak Nabi bak anak unta yang terus mengikuti ke mana ibunya pergi. Setiap hari ia mengangkat derajatku dengan menunjukkan akhlaknya yang mulia dan memintaku untuk mengikutinya. Nabi setiap tahunnya pergi menyepi ke gua Hira. Tidak ada yang mengetahui keadaan ini kecuali aku. Pada masa itu, tidak ada satu rumah pun yang meyakini Islam kecuali rumah Rasulullah SAW. Di rumah ini Nabi, Khadijah dan aku sebagai orang ketiga yang memeluk Islam. Aku melihat cahaya wahyu dan risalah. Aku mencium bau kenabian. Aku dapat mendengar suara setan ketika Nabi diturunkan wahyu untuk pertama kali. Ketika itu aku memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah saw, 'Wahai Rasulullah! suara apa ini? Beliau menjawab, 'Itu suara setan yang berputus asa dari orang-orang yang menyembahnya’

Ketika Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Ali bin Abi Thalib telah berumur sekitar 10 tahun. Di dalam asuhan Nabi Muhammad, Ali bin Abu Thalib menjadi pria pertama yang menjadi mukmin dari kalangan anak-anak, Siti Khadijah dari kalangan ibu-ibu dan Abu Bakar dari kalangan bapak-bapak.

Nama Julukan

Ali bin Abu Thalib memiliki nama alias (laqab dan kunyah) pemberian dari Rasulullah SAW terkait dengan kejadian yang bermacam-macam saat menyebarkan dan mempertahankan Islam.
Sejumlah laqab yang dimilikinya: Amir Mu'minin, Ya'sub Ad-Din wa Al-Muslimin, Mubir As-Syirk wa Al-Musyrikin, Qatil (penghancur) an-Nakitsin wa Al-Qasithin wa Al-Mariqin, Maula Mukminin (pemimpin kaum mukminin), syabih Harun (menyerupai Harun), Al-Murtadha (yang direlai), Nafs Ar-Rasul (jiwa Rasul), Akhu Rasul (saudara Rasul), Zauj Al-Batul (suami Fathimah), Saif Allah Al-Maslul (pedang Allah yang tangkas), Amir Al-Bararah (pemimpin orang-orang baik), Qatil Al-Fajarah (pembasmi orang-orang yang berlaku jahat), Qasim Al-Jannah wa An-Nar (pemisah antara surga dan neraka), Shahib Al-Liwa' (yang memiliki bendera), Sayyid Al-'Arab (pemimpin Arab), Khashif An-Na'l (penjahit sandal), Kassyaf Al-Kurb (penyingkap kesulitan), As-Shiddiq Al-Akbar (pembenar yang terbesar), Zulqarnain, Al-Hadi (petunjuk), Al-Faruq (pemisah antara yang hak dan batil), Ad-Da'i (pendakwah), As-Syahid (penyaksi), Bab Al-Madinah (pintu kota ilmu), Al-Wali (yang mengatur), Al-Washi (yang mendapat wasiat), Qadhi Din Rasulilllah (hakim agama Rasulullah), Munjiz wa'dahu (yang melaksanakan janjinya), An-Naba' Al-'Azhim (kabar agung), As-Shirat Al-Mustaqim (jalan lurus) dan Al-Anza'u Al-Bitthin.

Sementara kunyahnya (menggunakan Abu) antara lain : Abu Al-Hasan, Abu Al-Husein, Abu As-Sibthain, Abu Ar-Raihanatain, Abu Turub alias pemilik debu, karena Nabi pernah menjumpai Sahabat Ali yang sudah menjadi menantunya istirahat di selasar masjid hingga tertidur di atas pasir berdebu. Saat dibangunkan Nabi, tampak debu kering masih menempel di sebagian tubuhnya, sehingga saat itu Nabi memanggilnya Abu Turab dan beberapa sahabat lain ada yang sedang menggunakan julukan ini untuk  memanggil Sahabat Ali.

Demikianlah, sepupu yang kemudian diambil sebagai menantu Nabi ini tumbuh berkembang menjadi pribadi yang bertauhid kuat di lingkungan Kakbah, di rumah Nabi, hingga menjadi khalifah. Semasa hidupnya Nabi sering menyebut Ali sebagai ‘pintu’ ilmu pengetahuan dan panutan umat yang dijamin masuk surga. Seorang bayi yang ditakdirkan terlahir di tempat mulia, seluruh hidupnya dipersembahkan untuk kebaikan umat manusia. Sosok inspiratif yang patut diteladani. (mm)

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top