Haji Yang Terbeli, Dengan Niat Yang Sudah Mabrur

Jakarta, (gomuslim). Lega rasanya ketika uang yang dikumpulkan sekian lama sudah cukup untuk melunasi ongkos naik haji yang telah ditetapkan pemerintah. Demikianlah yang terasa di hati Toin (bukan nama sebenarnya: red), seorang bapak paruh baya penjual es kelapa. Tapi di hatinya masih ada yang mengganjal. Rupanya ONH yang sudah terkumpul itu baru cukup untuk memberangkatkan satu orang saja, yakni dirinya sendiri. Padahal dia ingin mengajak serta istrinya, apalagi dana yang terkumpul itu hasil peras keringat istrinya juga. Untunglah sang istri rela, dia pun hanya bisa berdoa semoga ada kesempatan bagi istrinya untuk naik haji. Impiannya untuk berhaji sejak bujang, kini tinggal selangkah lagi.

Syahdan, setelah agak merasa lega dan harapannya untuk pergi ke tanah suci tahun itu makin berbinar, datang seorang ibu yang tengah menghadapi kesulitan. Ibu ini tetangga, hidupnya  tergolong susah, belakangan tahun keluarganya selalu masuk ke daftar penerima bantuan langsung pemerintah. Suami kerja serabutan, untuk makan sehari-hari kerepotan. Ia datang memohon untuk pinjam uang pengobatan suaminya yang kena tumor ganas tenggorokan. Tindakan medisnya akan segara berlangsung di rumah sakit, dan ongkos operasinya cukup besar bagi dirinya. Sudah tak ada lagi cara untuk mendapatkan biaya itu, hingga ia memutuskan datang ke pak Toin.

Semangat Toin ke tanah suci seketika turun, ia menghadapi kenyataan yang sulit dipilih—antara meminjamkan uang ONH dan cita-cita pergi haji tahun ini kandas atau berangkat haji saja, dengan membiarkan tetangganya mengalami kesulitan dan penderitaan sepanjang hayatnya. Segera ia masuk ke kamar, dan mengajak istrinya bermusyawarah.

Tak dinyana, Toin mengambil keputusan lain; ia memilih menghibahkan dana ongkos hajinya untuk meringankan penderitaan si tetangga. Kini cita-cita berangkat haji jangankan jadi niat, jadi impian saja seketika pudar. Dari mana lagi dananya? Uang sedemikian besar itu sejak lama ia kumpulkan. Tapi keputusannya sudah bulat menginfakkan dana itu sebagai hibah kepada tetangganya yang lagi sangat butuh. Yang tersisa hanya keyakinan, jika Allah menakdirkan dirinya bahkan istrinya juga bakal menjadi tamu-Nya di musim haji, pasti akan terjadi.

Sementara itu, dokter yang menangani suami tetangga Toin, agak heran. Pasien yang berpenampilan sederhana, kemarin lalu masuk di bangsal kelas III, kini bisa dirawat di kelas II dengan penanganan medis hampir maksimal. Operasi pengangkatan tumor pun berlangsung, dan hasilnya bisa dikatakan dapat menyelamatkan nyawa si suami. Usai tindakan medis, dengan gusar dokter bertanya ke istri pasien. Di tengah jalan, ia sudah mengira dana itu didapat dari sumbangan orang kaya atau pemerintah. Atau dari hasil penjualan aset warisan.

“Sama sekali bukan. Kami tidak mungkin punya warisan dengan nilai segitu besar. Kami ini orang miskin. Jangankan buat bayar pengobatan, buat makan sehari-hari saja susah. Tapi dana ini juga bukan dari bantuan pemerintah atau orang kaya, dok,” jelas istri pasien.

Sang dokter tambah penasaran, ia pun terus memburu satu jawaban yang dapat memuaskan kegusarannya.

“Kami punya tetangga yang amat baik, Alhamdulillah berkat bantuannya proses operasi suami saya ini bisa dijalani, meski dia harus mengorbankan cita-citanya dan merelakan kehilangan kesempatan untuk naik haji.”

Dokter sempan tertegun. Lalu bertanya lagi untuk menjawab rasa penasarannya yang lain, pekerjaan apa si dermawan ini kok bisa menyumbangkan dana begitu besar, tanpa meminta imbalan atau pamprih apapun.

Dijelaskanlah oleh si istri pasien bagaimana kehidupan sehari-hari pak Toin dan pekerjaannya bersama istri.

Setelah hari berlalu, pekan berganti pekan, sang dokter tadi sebenarnya digelayuti rasa ingin bertemu dengan pak Toin. Rupanya hatinya tersentuh dengan keputusan dia. Berbekal alamat rumah dan tempat biasa mangkal berjualan, dokter ini berusaha bertemu pak Toin. Hingga takdir Allah mengijinkan pertemuan itu di rumahnya.

Setelah berbincang lama untuk memperkenalkan diri, si dokter berkata, “Pak bisa saya diajari bagaimana jadi orang ikhlas? Saya ingin belajar ikhlas seperti yang bapak dan istri lakukan. Tapi belajarnya bukan di sini, nanti di Tanah suci. Jadi saya dan keluarga akan mengajak Bapak dan istri untuk berangkat haji tahun ini.”

Bibir pak Toin seketika terkatup, yang tadinya mau berkata-kata jadi beku, sedetik kemudian bibir itu tergetar dan matanya basah. Istrinya yang sedari tadi duduk mendengar seperti hilang ingatan, terasa tubuhnya melayang—lalu limbung di sandaran kursi. Seperti Toin tak percaya pada kalimat demi kalimat yang terucap lambat yang baru saja terdengar dari orang yang baru ia kenal di hadapannya. Lalu takbir dan tahmid bergemuruh di kerongkongannya yang hampir tecekat. Uangkapan syukur itu menyeruak seperti air bah yang masuk ke lubang-lubang kesadarannya. Allahuakbar.. Alhamdulillah.

Sang tamu tersenyum haru menyambut harapan kedua pasangan dermawan ini yang terselip dalam ungakapan syukurnya. Akhirnya tahun lalu kemarin mereka, dua keluarga ini, sudah berhaji. (boz)

 

 

 

 

 

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top