Piatu Dari Kecil, Dapat Memeluk Sosok Ibunya Ketika Umrah

Jakarta, (gomuslim). Aisyah sebut saja namanya seperti itu, wanita ini sejak kecil sudah kehilangan ibunya yang meninggal dunia saat ia masih harus meminum ASI. Malang memang nasib Aisyah, ia hanya dibesarkan oleh seorang ayah yang single parent. Rasa rindu Aisyah begitu besar untuk dapat bertemu dengan ibu yang disayanginya, untuk mengenal wajahnya, Aisyah hanya dapat melihat dari potret yang tersisa di album foto. Semakin tumbuh dewasa wanita piatu ini selalu berpikir ingin membahagiakan ibunya, tanpa sadar terkadang ia teriak memanggil ibunya jika ada hal-hal baru yang membuatnya senang.

Singkatnya ketika Aisyah semakin dewasa dan telah berhasil dalam karirnya, ia sempat berteriak memanggil ibunya, “mama, mama… ini mobil buat mama,” cerita Aisyah. Ketika itu ia pun sadar bahwa sosok mama yang ia maksud telah tiada, ia hanya memandang potret ibunya sambil menderaikan air mata. “Aku ingin melakukan apa pun terbaik untuk bisa ngebahagiain mama,” gumam Aisyah dalam hati ketika memandang gambar ibunya.

Untuk mengobati rasa kangennya Aisyah tak pernah lupa mendoakan ibunya, ia selalu mendoakan kebaikan untuk ibu yang ia cintai. Ketika Allah menghendaki Aisyah untuk melaksanakan ibadah umrah, maka di sana pun ia tidak pernah lupa mendoakan ibunya karena besarnya cinta terhadap sosok yang melahir dia. Namun Aisyah sadar bahwa ia harus menerima takdir yang telah ditetapkan Allah sehingga ia pun harus rela dengan kepergian ibunya tanpa harus larut dalam kesedihan yang berlanjut  di setiap hari-hari yang dilewatinya.

Ketika Aisyah berada di Masjid Nabawi, tiba-tiba ada sosok yang memanggilnya dengan sebutan anak, “nak sini nak,” panggil ibu itu. Aisyah berbalik badan dan betapa terkejutnya ia, ketika melihat sosok wanita yang memanggilnya itu mirip sekali dengan ibunya. Tanpa berkata-kata Aisyah langsung berlari menghampiri wanita paruh baya tersebut dan memeluknya erat sembari menangis, wanita paruh baya itu pun heran dengan sikap Aisyah yang terus menangis haru.

“Sudah nak jangan nangis, ibu pergi dulu,” ujar wanita asing itu. Aisyah pun tersadar dan ia melepaskan pelukannya, walaupun ibu tersebut bukanlah orang yang melahirkan Aisyah namun dalam hati ia berkata, “Walaupun Engkau pertemukan aku dengan orang yang mirip dengan ibuku, namun aku memohon agar kau pertemukan aku dengan ibuku di surga-Mu ya Allah!”

Kisah Aisyah merupakan cerminan cinta dan rasa sayang terhadap orang tua yang telah melahirkannya, sehingga dalam perjalanan hidupnya ia selalu diberi kemudahan. Boleh jadi kemudahan yang kerap didapatinya merupakan hikmah dari doa yang selalu ia panjatkan untuk ibu yang telah tiada.  (fh)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top