Perusahaan Travel Haji Ini 'Jatuh Tertimpa Hotel' Saat Coba Jadi Kartel

(gomuslim). Mafia dalam dunia bisnis konvensional mungkin sering kita saksikan dari dekat, bahkan kisah nyatanya banyak diangkat ke layar lebar.  Tetapi mafia dalam ‘melayani’ tamu-tamu Allah yang sedang menunaikan ibadah haji dan umrah memang jarang terdengar. Ketika ada yang mencoba-coba ambil keuntungan dengan cara tersebut, yang bersangkutan langsung mendapatkan ‘peringatan’ dari Allah dengan jalan yang tidak disangka-sangka.

Kejadian ini berlangsung beberapa tahun sebelum krisis moneter tahun 1997-98 lalu, sebuah perusahaan travel haji dan umrah plus ternama dengan kekuatan modalnya memborong pemesanan hotel-hotel di sekitar Masjidil Haram dan Nabawi hingga travel lain tidak berkutik.

Awalnya, perusahaan  travel haji dan umrah plus ini dikenal memiliki reputasi pelayanan terbaik sehingga dipercaya masyarakat di segmen menengah ke atas hingga paling atas. Tidak kurang 1000 jemaah haji plus saat itu diberangkatkan sesuai kuota besar yang diperolehnya.  Kemampuannya dalam melayani Jemaah mengesankan. Tidak ada cerita Jemaah tercecer karena tidak mendapatkan hotel atau kehabisan visa. Dari embarkasi hingga debarkasi nyatis ‘zero mistake’. Termasuk urusan penginapan Jemaah yang sering menjadi ‘pemicu’ gagal dalam indikator pelayanan prima Jemaah haji plus dari Indonesia.

Perusahaan ini setiap tahun berhasil menempatkan jemaahnya di hotel terdekat dengan Masjidil Haram dan Nabawi, dari hotel ternama yang paling bergengsi ketika itu hingga hotel-hotel penyanggah sebagian besar ada dalam ‘genggamannya’. Perusahaan makin moncer dari tahun ke tahun dengan daya beli terkuat.

Namun daya beli tinggi itu justru yang membuatnya terpeleset dan jatuh. Perusahaan travel haji ini tergiur bisnis mafia hotel, bukan lagi sibuk dalam pelayanan tamu-tamu Allah. Ribuan kamar hotel yang diborong bukan lagi yang dibutuhkan untuk jemaahnya, tetapi memborong nyaris sebagian besar kebutuhan Jemaah haji plus dari Indonesia. Istilahnya bukan lagi 'booking' sebutuhnya tetapi sudah 'blocking' sebanyak-banyaknya.

Hal ini membuat travel haji plus lain harus membeli kamar-kamar hotel darinya dengan harga lebih tinggi. Tidak ada yang bisa dilakukan travel lain selain tunduk dengan harga ‘re-sale’ tersebut. Permainan bisnis ini mengarah ke kartel perdagangan kamar hotel. Ia menguasai kemudian menetapkan harga secara independen tanpa dipengaruhi mekanisme pasar bebas. Berapa pun harga yang ditentukan akan dibeli travel lain karena butuh sehingga banyak traval yang benar-benar tidak berdaya menghadapi model kartel demikian.

 

 

Namun sekuat-kuatnya kemampuan manusia, Allah Maha Kuat. Beberapa kali berhasil, travel ini merencanakan modus yang sama pada musim haji tahun 1997. Jauh hari sebelum musim haji tiba, sebagian besar ribuan kamar hotel untuk Jemaah haji plus diborong dan tentu atas aksi bisnis yang mirip sabotase ini membuat travel lain kesulitan ‘booking’ kamar untuk jemaahnya.

Untung tidak dapat diraih. Di tanah air terjadi krisis moneter, dolar menguat hingga 5 kali lipat, sementara ‘income’ dari rupiah dan perusahaan harus membayar ‘booking’ kamar hotel dalam dolar. Tidak hanya itu, seperti jatuh tertimpa tangga, animo haji plus di masa krisis itu menurun sehingga kamar juga banyak yang tidak terjual. Maka senjakala bisnis sudah di depan mata. Dalam semusim kerajaan bisnis yang sudah bak marcusuar itu runtuh.

Beberapa tahun kemudian Mahkamah Agung mengeluarkan putusan pailit, dan perusahaan masih meninggalkan tanggungan hutang pada sejumlah hotel di Mekkah dan Madinah, antara lain D*ll*h Hotel and Resort Company, The Royal Ai**h, Ta*b*h Hotel dan Al Sh*urf*h.

Di antara hotel-hotel tersebut kini sudah diruntuhkan untuk pembangunan Super Block Mekkah, seperti juga perusahaan travel pelayanan haji dan umrah yang sudah tenang di alam lain itu, kini berganti travel yang tumbuh dan berkembang dalam pelayanan tamu-tamu Allah. Jalan runtuh bisa tiba-tiba, rizki Allah bagi yang dikehendaki juga tidak disangka-sangka, tergantung amal perbutan istilahnya.

Semoga yang tumbuh berkembang istiqamah,  tidak melupakan kemulian dalam pelayanan tamu Allah, agar tetap mendapat pertolongan dalam setiap kesempatan. (mm)

 

 

 


Back to Top