Buah dari Bantu Sesama, Ibu Penjual Pecel Ini Berangkat Haji Gratis

gomuslim.co.id- Sungguh karunia luar biasa yang telah Allah anugerahkan kepada seorang ibu tukang pecel. Tidak pernah sekalipun tebersit dalam benaknya, bisa menunaikan ibadah rukun Islam kelima, naik haji. Bahkan, perempuan bernama Aminah ini selalu punya pikiran, tidak akan mungkin bisa naik haji dalam waktu dekat. Karena tabungannya tidak pernah terkumpul. Selalu saja ada keperluan, hingga tabungan yang ia niatkan untuk pergi haji pun terpakai.

Aminah tinggal di pemukiman padat penduduk di Jakarta. Sehari-hari ia hanya berjualan pecel keliling. Dengan bakul digendongan belakang, Aminah menjajakan pecel, masuk ke gang-gang kecil di Jakarta. Ia pun selalu menyayangkan keadaannya yang belum punya rumah. Selalu terlintas di dalam dirinya, “entah apa yang dalam perjalanan hidup saya sampai sekarang, sudah berpuluh tahun tinggal di Jakarta, tapi belum punya apa-apa. Padahal saya hanya punya anak satu. Suami juga sudah meninggal lima tahun lalu”.

Kadang ia harus memutar otak untuk mencukupi keperluannya sehari-hari. Namun, dengan keadaannya seperti itu, Aminah selalu berusaha bersyukur. Apalagi, selama ini ia tidak punya masalah, dengan berusaha hidup tidak terbebani utang. Itulah yang membuatnya selalu bersyukur. Sementara banyak tetangganya, setiap hari ada saja orang yang mengetuk pintu menagih utang. Ia sudah bersyukur bisa membiayai anaknya kuliah dan bisa membiayai kehidupannya sehari-hari. Kadang malah ia bisa menabung, sengaja ia sisihkan agar bisa naik haji suatu hari nanti. Walaupun, ia sendiri tidak tahu kapan akan tercapai keinginanya naik haji. Tetapi dalam dirinya ada keyakinan, bahwa jika Allah sudah berkehendak maka jalan apapun bisa saja terjadi. Sesuatu yang tidak mungkin, pasti akan Allah jadikan mungkin. Asalkan, sebagai manusia, hamba Allah harus tetap patuh pada aturan Allah Ta’ala. Hari-hari ia lalui dengan penuh ketekunan berjualan pecel.

Setiap hari, walaupun hanya punya uang pas-pasan, tapi ia selalu berusaha menaruh uang receh di kotak amal Masjid yang dilewatinya. Hal itu ia rutinkan karena pernah mendengar ceramah, paling tidak sisihkan sedekah setiap hari, walaupun dalam keadaan kekurangan. Tak lupa pula, sebelum berangkat berjualan Aminah selalu memulainya dengan shalat Dhuha. Baginya, inilah satu-satunya sedekah untuk dirinya. Ia hanya berharap berkah Allah Ta’ala. Menurutnya, walaupun tidak punya harta benda apapun, setidaknya ia memiliki shalat dan ketaatan kepada Allah, Yang Maha Menjaga. Ia berharap selalu dalam penjagaan Allah dengan senantiasa memanjatkan doa.

Hari itu, Aminah berjualan seperti biasanya, tiba-tiba ia melihat seorang wanita tua renta, berada di pinggir jalan dalam keadaan bingung. Ia pun bertanya kepada nenek tua itu, kenapa dia bingung, apakah dia tersasar. Nenek itu langsung bercerita, dia sendiri tidak tahu apa-apa. Dia hanya berjalan-jalan. Tapi tidak tahu jalan pulang. Aminah berpikir sejenak, ia tidak tahu harus berbuat apa, karena si nenek yang bernama Imas ini tidak hapal alamat tempatnya tinggal. Hingga akhirnya, Aminah mengajaknya ke rumah. Ia merawatnya seperti halnya saat merawat orangtuanya sendiri. Karena orangtuanya sudah lama meninggal. Ia menganggap nenek Imas sebagai orangtuanya sendiri.

Sebulan telah berlalu, nenek ini masih menetap di rumah Aminah. Pengurus warga tempatnya tinggal pun belum mendapat informasi, siapakah nenek yang sudah pikun ini. Aminah juga belum dapat kabar dari polisi. Katanya, masih menunggu laporan orang yang kehilangan keluarganya. Setiap hari, nenek ini selalu bercerita tentang anaknya yang begitu sayang padanya. Walaupun pikun, tapi dia masih ingat senyum manis cucunya. Setiap hari ceritanya sama, anak perempuannya, menantunya, dan cucu kesayangannya. Pilu mendengar cerita si nenek, Aminah teringat mungkin seperti itulah ia dalam kenangan orangtua yang amat menyayanginya.

Menjelang bulan ketiga, keberadaan nenek ini di rumah Aminah. Tiba-tiba rumah Aminah kedatangan tamu, laki-laki dan perempuan, dan seorang anak kecil, anak perempuan yang cantik. Ketika ia membuka pintu, mereka bisa langsung melihat nenek Imas. Aminah bersama anak dan nenek Imas sedang makan bersama. Nenek Imas pun tersenyum lebar ketika menatap tamu di depan pintu. Sementara, ketiga orang di depan pintu rumah Aminah berhamburan masuk memeluk nenek Imas, sambil menangis terisak-isak. Mereka meraung, menangis tapi tampak bahagia. Ternyata mereka adalah anak, menantu, dan cucu nenek Imas. Mereka lega bisa menemukan ibu yang sangat mereka sayangi. Rani, anak perempuan nenek Imas sudah mencarinya mencari kemana-mana.

Suatu hari, mereka sedang makan bersama di sebuah restoran. Entah bagaimana, nenek Imas terlepas dari pengawasan mereka dan sejak itu menghilang. Hari ini mereka bertemu lagi dengan nenek Imas. Tentu saja rasa bahagia dan penuh syukur berkumpul kembali dengan orang terkasih. Pun, Rani memeluk Aminah, banyak sekali ia berucap terima kasih. Dan Aminah hanya bisa mengangguk penuh haru. Ia juga ikut bahagia mereka bisa bertemu kembali. Padahal Aminah sama sekali tidak merasa terbebani nenek Imas tinggal bersama di rumah ini. Hari-hari bersama nenek Imas pun ia rasakan penuh suka. Bahkan nenek Imas kerap kali membantunya meracik bumbu pecel. Hingga rasa bumbu pecelnya semakin enak, kata para pembeli, terutama tetangga tempat tinggalnya.

Sedikit pun Aminah tidak menduga, ketika Rani, anak nenek Imas, datang untuk kedua kalinya, beberapa hari kemudian. Ia memberikannya sebuah bingkisan, yang isinya tiket dan perlengkapan Naik Haji untuk Aminah dan anaknya. Ia hampir pingsan melihatnya. Aminah betul-betul tidak berharap apapun, ketika merawat nenek Imas. Tapi, kata Rani, mereka telah mendaftarkan untuk berangkat Haji sekeluarga tahun ini. Bagi Rani, kini Aminah dan anaknya telah dianggap keluarganya juga. Karena itulah Rani turut serta mengajak Aminah dan anaknya naik haji.

Aminah tak kuasa menahan haru, dengan suara lirih ia berkata, “Ya Rabb, selama ini yang saya anggap tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat”. Ternyata, Allah menampakan Kuasa-Nya, apapun akan menjadi mungkin di Tangan Sang Maha Menguasai. Belumlah Aminah berucap terima kasih. Rani juga memberikannya sebuah rumah. Katanya, Aminah tidak perlu mengontrak lagi. Sebuah rumah mungil, tapi bagi Aminah rumah ini lebih dari cukup. Ia pun bersyukur, “Alhamdulllah Ya Rabb, Engkau mendengar doaku. Engkau memenuhi janji-Mu, " kata Aminah penuh haru. (iys)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top