Ringan Bersedekah Saat Umrah, Wanita Ini Tuai Keberkahan di Tanah Air

gomuslim.co.id- Setiap ucapan dan perbuatan kelak akan mendapat balasan. Begitupun dengan doa. Dahsyatnya kekuatan doa, cepat atau lambat pasti akan dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Apalagi jika berdoa di waktu-waktu dan tempat-tempat mustajab (terkabulkan). Seperti di Tanah Suci Mekkah Al-Mukarromah. Lebih tepatnya di depan Kakbah. Ada banyak kisah ajaib di tempat kelahiran nabi kita tercinta.

Ini adalah cerita seorang wanita asal Jakarta. Sebut saja namanya Elisa. Dia adalah seorang pengusaha. Kisahnya berawal saat pergi umrah ke Tanah Suci pada tahun 2007 silam. Ketika itu, dia berangkat bersama kakak iparnya. Dia ikut dalam rombongan berjumlah 30 orang. Rombongan tersebut dipimpin oleh Ustadz Endang Husni.

Ini adalah pertama kalinya Elisa melaksanakan ibadah umrah. Saat tiba di Mekkah, Elisa bersama rombongan sudah berpakaian ihram. Mereka bersiap menuju Masjdil Haram. Ustadz Endang memandu jemaahnya melaksanakan thawaf. Semua rombongan pun turut mengikuti arahan dan bimbingannya. Namun, ketika itu Elisa terpana saat matanya tertuju pada sebuah batu hitam di sisi Kakbah: Hajar Aswad.

Elisa pun berdoa dalam hatinya. “Ya Allah, hamba ingin sekali benda yang turun dari syurgaMu. Izinkan hamba untuk mencium Hajar Aswad itu sebagaimana terkasih kami Nabi Muhammad SAW mencontohkannnya”. Tidak lama setelah Elisa berdoa, tiba-tiba seorang laki-laki berbadan kecil melihatnya seraya bertanya, “Mau cium Hajar Aswad? Ayo ke sini saya bantu”.

Dijawabnya tawaran itu dengan anggukan kepalanya. Elisa pun mengajak kakak iparnya untuk ikut bersamanya. “Ayo kak, itu sudah ada yang mau bantu kita buat cium Hajar Aswad”. Elisa dan kakak iparnya pun mulai melangkah lebih dekat dengan Kakbah.

Laki-laki itu dengan sergap tangannya menghadang kerumunan orang di sekitarnya. Badannya yang kecil ternyata kuat menahan orang-orang tinggi berkulit hitam layaknya raksasa. Dia mencoba membuka jalan lewat sisi Kakbah untuk Elisa supaya dapat mencium Hajar Aswad. Elisa dan kakaknya dengan sigap langsung bergerak menuju benda suci itu. Lalu, saat wajahnya persis dihadapan Hajar Aswad, tetes air matanya tak mampu lagi ditahan. Elisa menangis seraya memanjatkan rangkaian doa dengan sepenuh hati.

Setelah selesai berdoa di depan Hajar Aswad, Elisa tersadar ternyata dirinya dan kaka iparnya terpisah dari rombongan yang dipimpin Ustadz Endang. Elisa bingung. Di tempat jutaan orang berkumpul, bagaimana dia mencari rombongannya?. Kalaupun pulang ke hotel terlebih dahulu, mereka bedua tidak bisa karena sudah satu paket dengan kelompoknya. Awalnya Elisa panik. Tapi Elisa dan kaka iparnya itu terus berdoa kepada Allah supaya dimudahkan bertemu lagi dengan rombongannya.

“Ya Allah. Hamba di rumahmu. Engkau Maha Tahu atas segala sesuatu. Termasuk sebuah jarum yang tertimbun ditengah padang pasir. Mudahkan hamba untuk menemukan rombongan”. Sambil terus berdzikir disertai dengan hati yang ikhlas dan penuh harap, Elisa pun terus berjalan bersama kakak iparnya.

Tibalah Elisa di Mina. Mulut dan hatinya tiada henti berdoa. Ketika matanya ditutup, tiba-tiba Elisa dengan jelas mendengar suara Ustadz Endang. Dan ternyata, Masya Allah, Ustadz Endang beserta rombongan Elisa persis 3 sampi 4 meter ada didepan dari posisinya saat itu. “Alhamdulillah. Maha Suci engkau menjawab semua doa saya,” ucap Elisa.

Tidak hanya itu. Seperti biasanya, Elisa beserta rombongan selama ibadah umrah selalu menyempatkan untuk ikut shalat berjamaah. Usai shalat, Elisa melihat beberapa petugas kebersihan yang sedang menyapu, mengepel dan membersihkan Masjidil Haram. Terketuklah hatinya. Elisa pun tanpa segan memberikan beberapa real kepada orang-orang kecil itu.

Dalam hatinya, Elisa hanya mencoba untuk ikhlas dan benar-benar pasrah. “Aku harus membantu orang-orang itu. Aku harus bersedekah”. Elisa juga meyakini amalan sekecil apa pun, jangan pernah mengharapkan apa-apa kecuali hanya dari Allah SWT.

Benar saja, keyakinan Elisa membuahkan hasilnya. Tak lama setelah kembali pulang ke Tanah Air, bisnisnya semakin maju. Elisa mendapatkan sebuah penawaran dari seseorang yang nilainya ratusan kali lipat daripada uang yang dishadaqahkannya. “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Sepenggal seruan itulah yang selalu menjadi pegangan Elisa untuk terus memberi. Karena semakin banyak memberi, berarti akan semakin banyak menerima. Wallahua’lam bi shawab. (njs/dbs)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top