Niat Kerjai Syekh Arab Baca Kitab Saat Haji, Kiyai Ini Justru Linglung di Tanah Suci

gomuslim.co.id – Syekh dalam bahasa Arab secara literal diartikan dengan orang yang sudah melampaui usia 50 tahun lebih. Artinya, syekh berarti orang yang sudah berusia lanjut. Namun demikian, syekh juga sering digunakan untuk arti orang yang keilmuan agamanya sudah mumpuni, walaupun usianya masih muda.

Suatu ketika, pada sekitar tahun 2006, salah seorang Kiyai yang mengasuh salah satu pesantren di Cirebon ini menceritakan kisah perjalanan hajinya di sela-sela mengajarkan kitab kepada para santrinya. Kiyai itu bernama Asymawi. Di sekitar pesantren, Kiyiai yang selalu berpakaian sederhana ini dikenal sebagai ahli di bidang gramatika Arab. Para santri biasa menyebutnya dengan ‘ilmu alat’. Hal ini karena menguasai gramatika Arab dengan baik merupakan alat untuk menggali ilmu-ilmu keislaman, seperti tafsir, ilmu hadis, fikih, dan lain sebagainya.

Di sela-sela ibadah haji, Kiyai yang juga biasa bertani ini, ingin mengetes syekh di Arab Saudi mengenai gramatika Arab. Kiyai ini pura-pura menjadi orang awam yang tidak mengerti bahasa Arab. Setelah syekh Arab itu selesai membacakan teks Arab dan sedikit menjelaskannya, Kiyai yang berperawakan kecil ini menyanggah dan mengkritik beberapa bacaan syekh itu yang keliru secara gramatikal.

“Saya memang sudah niat dari rumah untuk mengerjai orang Arab di sana,” jelasnya sambil tertawa.

Karena kagum atas kepandaian Kyiai ini, syekh Arab itu pun memberikan beberapa hadiah buku untuknya. Tidak disebutkan judul-judul buku yang diberikan. Kiai ini pun merasa senang mendapatkan hadiah buku-buku tersebut. Tidak menunggu lama, Kiyai ini pun mencoba membaca halaman perhalaman buku hadiah tersebut. Namun anehnya, tidak ada satu pun halaman yang ia pahami.

“Boro-boro satu halaman, satu kalimat pun tidak saya pahami,”  tuturnya sambil tersenyum.

Setelah membaca berjam-jam tidak kunjung paham, seakan-akan seperti orang linglung, kiai yang juga terkenal sebagai ahli usul fikih ini baru menyadari bahwa buku yang dibacanya ternyata bukan berbahasa Arab, akan tetapi berbahasa Urdu. Alfabet bahasa Urdu memang menyerap dari bahasa Arab. Cara menulisnya pun dari kanan kemudian ke kiri, sama persis seperti bahasa Arab. Maklum kesan awal kiai ini bahwa dirinya sedang membaca teks Arab, tapi ternyata bukan.

Walaupun Kiyai ini bercerita sambil bergurau, namun beliau menyampaikan bahwa manusia itu tidak berhak merasa ujub dan sombong sedikit pun. Sifat-sifat ini yang terkadang tidak sadar dan terasa dilakukan manusia, namun dampaknya akan membuat hati manusia kotor. Bila hati sudah kotor, biasanya sulit untuk menerima kebaikan yang datang dari orang lain. Orang itu biasanya cenderung selalu merasa benar sendiri.

Syekh Abu Wahab al-Marwazi pernah bertanya kepada Imam Ibnu al-Mubarak mengenai sifat sombong dan ujub. Imam Ibnu al-Mubarak menjawab, “Sombong itu jika Anda selalu merendahkan orang lain. Sementara itu ujub adalah Anda menganggap bahwa orang lain tidak mempunyai sesuatu yang Anda miliki.” “Saya tidak melihat sesuatu hal yang lebih buruk daripada ujub yang sering dilakukan orang yang rajin salat,” lanjut imam Ibnu al-Mubarak.  (ihs)

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top