Kisah Hikmah #RamadhanSeries (15)

Inilah Ayam Panggang Paling Nikmat

“Ayah, aku mau makan ayam panggang…!” pekik putri Ahmad yang berusia 8 tahun.

“Ya Nak, in sya Allah kita akan makan ayam panggang,” Ahmad membalas dengan senyum.

Sang putri pun lari kegirangan berhambur ke arah bundanya. “Asyik, kita makan ayam panggang!” serunya.

Sang bunda menampakkan wajah kecut. Sambil ngedumel ia berkata nyinyir kepada Ahmad, “Udah tau gak punya duit jangan suka janji macem-macem ama anak… situ bisanya janji doang, entar kalo ayam panggang gak ada, nih anak merengek mulu ke saya!”

Duggg…. Ahmad kaget mendengar ujar istrinya. Ia tak mampu membantah. Memang sudah beberapa hari ia tidak bisa memberi nafkah kepada keluarga.

Ahmad dulunya adalah seorang karyawan. Kesibukan pekerjaan telah membuatnya lalai. Hidup terasa hampa dan jauh dari ibadah. Pukul 7 ia sudah berada di tempat kerja. Pulang ke rumah sering di atas jam 10 malam. Jarang shalat dan jauh dari hidup berkah. Pekerjaan yang bertahun-tahun ia geluti rupanya kandas. Kantornya bubar karena bangkrut. Dan kini ia belum dapat kerja.

Tapi ia tak menyerah. Sambil melamar kerja sana-sini, ia memperbaiki hubungan kepada Allah Ta’ala. Ia mulai rajin shalat. Datang ke musholla untuk berjamaah. Ia rajin mengaji dan memperbaiki bacaan Alquran. Bahkan ia pun gemar menghafal surat demi surat Alquran.

Satu kebiasaan hidupnya kini yang amat berkah adalah ia biasa hadir di musholla 15 menit sebelum adzan.

Sore itu, saat istrinya mengomel urusan ‘ayam panggang’, Ahmad pun meninggalkan debat, ia memilih pergi ke musholla untuk menyongsong waktu maghrib tiba.

“Assalamualaikum warahmatullah… Assalamualaikum warahmatullah.…”

Setiap jemaah mengucapkan kalimat itu sambil menoleh ke kanan dan kiri tanda usai shalat Maghrib.

Ahmad yang hadir dalam shalat berjamaah saat itu mendengar seorang dari warga berdiri dan mengundang semua yang hadir di musholla untuk menghadiri acara syukuran di rumahnya. Sehabis maghrib, seluruh Jamaah musholla termasuk Ahmad datang ke rumah warga yang syukuran.

Alhamdulillah usai syukuran, Ahmad dan jemaah lainnya mendapat ‘nasi berkat’. Masing-masing mendapat satu nasi berkat yang terbungkus dalam kotak styrofoam dan dibalut kantong kresek.

Ahmad pun tersenyum membawa nasi berkat karunia Allah ini. Sepanjang jalan ia berpikir untuk menyerahkan ke anaknya yang tadi sore merengek minta ayam panggang. Biarlah si anak menyantap nasi berkat, sebagai ganti ayam panggang yang ia inginkan.

Sesampai di rumah, Ahmad pun teriak dari luar rumah. “Nak, lihat ayah bawa apa nih untukmu…?”

Sang putri pun berhambur menyambut ayahnya tiba dengan wajah senyum. Matanya berbinar melihat apa yang dibawa ayahnya. “Apa ini ayah…?” tanya sang putri.

Ahmad menjawab dengan senyum, “Nasi berkat, Nak….”

Spontan sang putri bersungut. Ia tahu bahwa nasi berkat itu isinya hanyalah nasi, telur dadar suwir dan bawang goreng saja. Ia pun menangis dan teriak dihadapan Ahmad, “Aku mau AYAM PANGGANG!” lalu ia pun berhambur masuk dan menangis di pelukan sang bunda.

Tak kuasa Ahmad menghentikan langkah putrinya. Jalannya gontai memasuki rumah sambil membawa kantong kresek di tangan. Berkali-kali ia bujuk anaknya sambil berkata, “Nak, ini rezeki Allah harus disyukuri jangan ditolak. Nanti Allah murka kepada kita.…”

“Tidak… aku pokoknya mau AYAM PANGGANG…!” suaranya terdengar memekik dari dalam kamar.

Sang istri pun menambahkan omelan dan dumelan yang semakin membuat Ahmad merasa bertambah salah.

“Udah dibilangin, jangan janji macem-macem ke anak kalo gak punya duit… tuh, kalo nangis begini siapa yang pusing…?”

Ahmad terduduk lemas di depan meja. Nasi berkat itu kini ada di hadapannya. Ia malu kepada Allah yang telah memberinya rezeki berupa nasi berkat, namun tidak bisa mensyukurinya.

Tak terasa air matanya berlinang. Dengan terbata ia berulangkali berujar, “Maafkan hamba ya Allah, yang tidak pandai bersyukur. Maafkan keluarga hamba jika Engkau tak berkenan….”

Ahmad pun membatin jika anaknya tak mau menyantap nasi berkat ini, biarkan ia saja yang menyantapnya agar Allah tak murka sebab karunianya disia-siakan.

Kini Ahmad pun membuka kantong kresek yang membalut styrofoam. Saat kotak styrofoam dikeluarkan, maka tangan Ahmad pun membukanya. Lalu tiba-tiba terdengarlah suara Ahmad memekik, “ALLAHU AKBAR…!” Dan Ahmad pun kembali menangis terisak.

“YA ALLAH... TERIMA KASIH... ALHAMDULILLAH…” Ahmad semakin terisak. Matanya terbelalak begitu ia melihat apa yang ada dalam kotak styrofoam di hadapannya. Di sana tak terlihat sebulir nasi pun, apalagi telur dadar suwir. Masya Allah Tabaarakallah, terlihat di dalamnya satu ekor ayam utuh dibelah empat, dan... DIPANGGANG!

“Nak, kemari Nak... Ibu, ayo ke sini… Allahu Akbar… ALLAH kirim ayam panggang buat kita!” seru Ahmad.

Maka serta merta anak dan istri Ahmad pun berhambur tak percaya. Mereka pun mengucap hamdalah tak henti-hentinya. Malam itu, ALLAH antarkan karunia terindah buat mereka seperti yang mereka inginkan. Dan ayam panggang yang mereka santap malam itu adalah yang paling nikmat yang pernah mereka rasakan.

Lalu nikmat Allah manalagi yang hendak kalian dustakan?

Wassalam,

Ustadz Bobby Herwibowo, Lc.

Founder Metode Kauny Quantum - Menghafal Alquran Semudah Tersenyum

Pendiri Yayasan Askar Kauny

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top