Serial Kisah #HumorAlaSufi (4)

Begini Kisah Hakim Cerdas yang Anti Suap

gomuslim.co.id- Konon, sebelum munculnya budaya suap, hiduplah tiga orang hakim yang diangkat oleh masyarakat untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di tengah mereka. Ketiganya adalah hakim-hakim yang pandai dan tegas.

Ketika mereka menghadapi perselisihan, mereka mengajukan perkara itu ke hakim pertama. Jika mereka tidak puas dengan putusan hakim pertama, maka mereka akan mengajukannya ke hakim kedua. Dan ketika mereka tidak puas juga dengan putusan hakim kedua, mereka pun bisa mengajukannya ke hakim ketiga. Begitulah prosedur yang mereka sepakati bersama dalam menyelesaikan kasus.

Suatu kali, turunlah malaikat yang ingin menguji ketangguhan hakim dalam memberikan keadilan di kalangan mereka. Malaikat pun turun ke bumi dengan menyamar sebagai seorang saudagar kaya raya dengan membawa para pengawal. Saudagar itu memerintahkan pada pengawalnya untuk menambatkan seekor sapi di tepi sumur untuk minum.

Tak berapa lama, datanglah seorang penggembala dengan membawa seekor induk kuda dan anaknya untuk minum.

Seketika itu juga, sang malaikat yang menyamar tadi menyihir anak kuda itu agar tunduk dan ikut dengan sapi yang dibawanya. Tiba-tiba anak kuda itu meninggalkan induknya dan mengekor pada sapi itu, layaknya seekor anak sapi.

Sang penggembala pun tak tinggal diam melihat anak kuda yang dibawanya itu tiba-tiba menginduk ke sapi milik malaikat yang menyama tadi. Ia langsung memaksa anak kuda itu agar kembali ke induknya (kuda). Namun, anak kuda itu tetap diam dan tak mau pergi dari sisi sapi. Karena kesal, si penggembala pun menyeret dan memukul anak kuda agar mau ikut dengannya.

“Hai penggembala, biarkan anak kuda itu ikut dengan sapiku, karena kuda kecil itu adalah anak sapiku. Kau tidak berhak memaksanya. Ia adalah milikku,” kata saudagar itu tiba-tiba.

“Bagaimana mungkin ? Anak kuda ini jelas-jelas anak kuda milikku,” jawab sang penggembala seolah tak percaya dengan tuduhan itu.

“Lihat saja! Anak kuda itu selalu dekat dan tidak mau dipisahkan dari milikku,” jawab saudagar itu.

Tanpa banyak komentar, saudagar beserta pengawalnya kemudian pergi dengan membawa sapi dan seekor anak kuda yang mengikuti di belakangnya. Tidak terima dengan kejadian tersebut, si penggembala itu kemudian menghadap ke hakim pertama untuk meminta keadilan. Setelah melakukan pemeriksaan, sang hakim berkesimpulan bahwa anak kuda itu adalah jelas anak dari kuda milik si penggembala tadi. Sang hakim pun berencana akan memberikan keputusan esok hari.

Sehari sebelum memberikan keputusan, saudagar itu menemui hakim pertama dan berkata, “Hai hakim, jika Engkau berani memberikan putusan yang memenangkan aku, maka aku akan memberimu harta yang banyak,”

Sang hakim pun tergoda dan menuruti bujuk rayu saudagar itu. Esoknya, hakim itu akhirnya memutuskan bahwa anak kuda itu adalah anak sapi yang dibaa oleh laki-laki itu (malaikat).

Si penggembala itu merasa tidak puas mendengar putusan hakim yang memenangkan malaikat yang sedang menyamar itu. Ia mengajukan kasus itu ke hakim kedua. Hakim kedua pun berkesimpulan sama seperti hakim pertama dan anak memutuskannya esok hari.

Demi memenagkan kasusnya, sang saudagar mendatangi hakim kedua dan mengiming-imingi harta bila memenangkan perkaranya. Akhirnya hakim kedua pun tergoda dan memenangkan saudagar itu.

Tanpa putus asa, si penggembala kembali menghadap hakim ketiga untuk meminta keadilan. Malamnya, saudagar itu kembali menemui hakim ketiga dan berkata, “Hai kahim ketiga, jika Engkau berani memenangkan perkara untukku dengan memutuskan bahwa sapiku ini adalah induk dari anak kuda itu, maka Engkau akan kuberi harta yang banyak,”

“Apa yang Kau inginkan dari perkara itu?” Tanya sang hakim.

“Aku ingin esok hari Engkau memutuskan bahwa anak kuda itu adalah anak dari sapi milikku,” jawab sang malaikat.

Sang hakim pun berkata, “Maaf, besok saya tidak bisa memutuskan perkara karena malam ini saya sedang haid,”

Malaikat pun berkata, “Saya heran bagaimana mungkin Anda bisa haid, padahal Anda seorang laki-laki. Bukankah hanya wanita yang mengalami haid?”

Hakim ketiga pun menjawab,”Saya juga heran bagaimana mungkin seekor sapi bisa melahirkan anak kuda??” (njs)

Sumber :

Sirin, Khaeron. 2016. Ketawa Sehat Bareng Para Ahli Fikih. Depok: Pustaka IIMaN

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top