Serial Kisah #HumorAlaSufi (10)

Jangan Hanya Berjanji, Wahai Pemimpin !

gomuslim.co.id- Alkisah, Abu Nawas menerima undangan untuk sebuah jamuan makan malam. Dalam undangan tersebut, dia juga dimintai tolong untuk mengisi acara jamuan dengan tausiyahnya, ceramah agama.

Dari itu, Abu Nawas pun datang menghadiri undangan itu untuk menghormati dan menyenangkan tuan rumah. Namun, karena datangnya lebih awal, Abu Nawas pun dipersilakan duduk di kursi bagian depan. Di kursi itu, Abu Nawas seakan-akan menjadi tamu yang terhormat.

Beberapa saat kemudian, para undangan yang lain pun hadir dan langsung menempati kursi-kursi yang disediakan. Kemudian, menyusul para pejabat kerajaan yang datang dan langsung menuju kursi yang paling depan. Akan tetapi, pejabat itu sangat terkejut karena kursi paling depan sudah diisi oleh Abu Nawas.

Mendapati kenyataan itu, pejabat tersebut langsung memprotes kepada panitia penyelenggara makan malam dengan keras.

“Kenapa saya yang lebih terhormat berada di belakang dan justru Abu Nawas itu berada di depan?” protes pejabat.

“Pertanyaan Bapak seharusnya ditanyakan langsung kepada Abu Nawas sendiri,” kata Abu Nawas.

Karena merasa posisinya disamakan dengan masyarakat lain, pejabat itu pun tidak terima. Ia berjalan ke depan menuju Abu Nawas dan berbisik bahwa yang pantas duduk di kursi itu adalah dirinya yang merupakan pejabat kerajaan terhormat.

“Wahai Abu Nawas, kamu tidak pantas duduk di sini, karena kursi depan seharusnya diisi oleh pejabat seperti saya,” tegas pejabat itu dengan congkaknya.

Mendapat teguran sombong dan merendahkan itu, Abu Nawas mulai angkat bicara. Maka terjadilah perdebatan sengit diantara mereka. Cukup menghebohkan untuk semua yang hadir di acara tersebut.

“Saudara pejabat yang terhormat, pada ketanyaannya Anda itu tidak lebih dari seorang pesulap,” kata Abu Nawas dengan suara cukup lantang.

“Wah, tidak bisa begitu, saya adalah pejabat kerajaan, bukan pesulap,” cetus pejabat.

Semua tamu undangan yang hadir menjadi tegang.

Sebagian dari mereka ada yang berdiri untuk menyaksikan perdebatan itu dan berharap Abu Nawas mampu melumpuhkan sang pejabat yang terkenal sombong itu.

“Sekalipun saya adalah pesulap, tapi ketika naik panggung, saya bisa bertindak sesuai janji. Saat saya berjanji mengubah sapu tangan menjadi kelinci, maka bim salabim, sapu tangan itu benar-benar berubah menjadi kelinci,” terang Abu Nawas.

“Maksudmu bagaimana? Apa hubungannya?, ” tanya pejabat.

“Anda saya katakana sebagai pesulap yang gagal karena Anda tidak bisa mengubah semua itu. Lihatlah, ketika naik panggung, Anda berjanji akan merubah nasib rakyat kecil menjadi lebih baik. Tapi, setelah terpilih menjadi pejabat, keadaan rakyat kecil sama saja seperti sebelum Anda menduduki jabatan itu,” jelas Abu Nawas.

Mendapat perkataan demikian, pejabat itu hanya bisa diam seribu bahasa dengan perasaan sangat malu. Kepalanya pun hanya bisa tertunduk seakan tidak tahan dengan perkataan Abu Nawas yang telah memalukan dirinya di hadapan orang banyak.

“Nah, kalu begitu, mana yang lebih baik dan lebih pantas duduk di kursi paling depan?” Tanya Abu Nawas dengan penuh percaya diri.

Tanpa membalas sepatah kata pun pejabat itu langsung kembali mundur, menempat kursi belakang di mana tempat dirinya duduk semula.

 Sumber :

Ketawa Sehat Bareng Para Ahli Fikih Karya Khaeron Sirin, Pustaka Iman, 2016, Depok.

  

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top