Bassis GodBless Yuke Sumeru

Titik Balik Kehidupan Itu Berputar dari Depan Kakbah

Da’i yang hafal al-Quran 30 Juz ini sebelumnya identik dengan dunia malam dan hiburan. Maklum sejak dinobatkan sebagai pembetot bass terbaik di Indonesia pada tahun 1983-85, ia langsung digandeng grup rock cadas paling top di tanah air, yaitu God Bless yang dikomandani Ahmad Albar (vocal) dan Ian Antono (gitar).

 

Sejak itu Yuke Sumeru hidup dari panggung ke panggung hiburan, dari diskotik ke diskotik, dari dunia malam ke malam berikutnya. Yuke pun mulai berkawan dekat dengan  minuman keras, rokok sampai narkoba. Tidak disangkal ia kemudian menjadi tenar dan digandrungi anak muda tahun jadoel 1980-an.

 

Ketenaran yang melambung tiba-tiba dan kekayaan yang berlimpah ternyata membuatnya gelisah. Secara kebetulan saat gundah demikian ia melihat dari dekat sejumlah musafir dari India dan Pakistan sedang membuat program taklim dan tilawah selama tiga hari di masjid dekat rumahnya. Ia heran, ada sekelompok orang dari negeri jauh ke Indonesia hanya untuk menyampaikan perbaikan iman dan amal shaleh dengan dimulai dari shalat berjamaah di masjid. Katanya, dengan cara itulah mereka sekaligus mendidik diri sendiri.

 

Ia tertarik dan saat itu juga coba-coba ikut kegiatan di masjid tersebut tetapi seperti ikan dikeluarkan dari air, ia justru makin gelisah. Dua hari pertama rasanya seperti terpapar panas di dalam masjid, namun pada hari ketiga ia mulai seperti tertimpa tetesan air sejuk hingga tidak terasa meneteskan air mata ketika mendengarkan keterangan dari para musafir tersebut. Ia tidak paham yang disampaikan, tetapi kesungguhan dan keikhlasan mereka mengajak saudara-saudara seiman di seluruh dunia yang menggetarkan hati Yuke.

Setelah beberapa bulan kemudian Yuke menunaikan ibadah haji ke Baitullah di Makkah pada tahun 2000. Dalam gelisah yang memuncak antara dunia lama dan dunia yang baru dikenal, Yuke berdoa penuh khusyuk di depan Ka’bah. “Ya Allah, ambillah segala sesuatu yang tidak Engkau sukai dari diriku. Lalu kumpulkan aku bersama orang-orang yang engkau ridlai, Ya Allah,” panjat Yuke dalam doa.

Usai memanjatkan doa itu, Yuke kembali ke hotel tempat menginap, dan seperti biasa, ia langsung membuka kotak rokok. Tak seberapa lama tiba-tiba merasa mual tiap kali menghisap rokok kesukaannya. Rokok terasa basi dan bau sekali. “Saya juga merasa tidak nyaman tiap kali bersentuhan dengan alat musik,” akunya. Sejak itu miras dan narkoba pun tidak pernah tersentuh dan Yuke kemudian makin dekat dengan jemaah yang kerap iktikaf di masjid-masjid selama tiga hari. Ia bahkan belajar menjadi agama dengan turun gunung ke tengah masyarakat hingga ke India, Pakistan dan Bangladesh selama empat bulan.

 

Sepuang dari belajar itu, pria yang lahir di Bandung, 18 Oktober 1958 ini langsung tancap gas. Dalam usianya tidak lagi muda ia mendaftar kuliah di Perguruan Tinggi Ilmu al-Qurandan pada tahun 2004, Yuke berhasil menyandang gelar Sarjana al-Qur’an (SQ) kemudian menjalani program pascasarjana di kampus yang sama, hingga menjadi magister ilmu al-Quran dan hafal 30 juz al-Quran.

Banyak Ujian

Bagi Yuke, perjalanan ibadah hajinya merupakan titik balik kehidupan yang sangat menentukan. Sejak itu semua arah hidup diputar ke kiblat. Tentu saja menjalani proses hijrah itu bukan tanpa cobaan, salah satunya masalah finansial. Dari bermusik ia bisa mengantongi jutaan rupiah setiap bulan. Tapi semua itu terhenti setelah ia memilih jalan dakwah. Banyak pihak yang mengkritik atas pilihan hidupnya itu. Tapi Yuke tak putus asa. “Urusan hijrah saya ini adalah urusan saya dengan Allah, bukan dengan manusia,” Yuke berupaya tegar.

 

Syukurnya, sejak muda ia sudah mulai membuka usaha bengkel modifikasi mobil, sehingga urusan finansial sedikit bisa teratasi. Ia lebih bersyukur lagi karena istrinya selalu mendukung keputusannya. Dengan penuh kasih sayang, Yuke kerap menjelaskan, “Yakinlah bahwa Allah tidak mungkin meninggalkan orang yang berjuang di jalan-Nya.”

Dakwah di Kalangan  Artis dan Duafa

Usai menyandang gelar master ilmu al-Quran, mantan rocker ini berkomitmen menjadi pegawai atau ‘karyawan usaha Nabi’ alias karkun di jalan Allah. Dalam kartu namanya pun, bukan status usaha otomotif yang ia cantumkan, melainkan tertulis “Pegawai Allah.” Tak lama setelah bertekad dengan hal itu, datang tawaran berceramah di sebuah mushalla kecil yang berada di daerah Tambun, Bekasi, Jawa Barat. Sebagai konsekuensi dari statusnya itu, Yuke berangkat memenuhi undangan.

Undangan pengajian pertamanya tidak dibayar dengan uang, tetapi doa dan terima kasih tulus dari jemaah. Meski tak dapat uang, tapi Yuke menikmati aktivitas ini. Ia mengaku sering menolak undangan dari perusahaan besar demi berceramah di mushalla-mushalla kecil. Menurut alumnus SMA 4 Surabaya, Jawa Timur ini, banyak ustadz yang tidak mau datang ke mushalla kecil karena hanya menyediakan uang transportasi yang kecil bahkan ada yang gratis. “Padahal, di sekitar tempat-tempat seperti itu justru rentan pemurtadan,” katanya.

Yuke semakin terpanggil untuk berdakwah di daerah miskin. Bahkan, keuntungan yang ia dapatkan dari usaha bengkel mobilnya sebagian disisihkan untuk dakwah. Ia tidak mencari donatur, tapi Yukelah yang menjadi donaturnya. Yuke berdakwah menyusuri daerah sekitar Bintaro, Serpong, hingga Lebak Bulus.

 

Ia menetapkan tiga kampung pemulung sebagai garapan dakwahnya. Sebelum berdakwah, Yuke mengumpulkan informasi berkaitan pendapatan yang diterima para pemulung. Setiap hari pendapatan mereka antara Rp 20.000 hingga Rp 50.000. Alhasil tiap kali berdakwah di sana, Yuke membawa sekantong amplop yang isinya uang sesuai pendapatan para pemulung. “Sebelum pengajian itu dimulai, para pemulung itu saya kasih amplop agar mereka fokus mengaji dan tidak risau dengan pendapatan hari itu,” jelasnya. Hal yang sama dilakukan para Maulana di India dan Pakistan, seperti Maulana Ilyas dan Maulana Saad al-Kandahlawi yang tersambung sebagai guru spiritual Yuke.

 

Akhirnya, keluarganya mulai terbiasa dengan gaya hidup baru. Kata Yuke, inilah kekayaan penting yang selama ini dicarinya, kekayaan yang terjaga oleh keridhaan Allah. Kini, Yuke mengasuh 50 orang anak yang ia tempatkan di rumahnya di Kota Bogor, Jawa Barat. Di tempat itu, mereka disekolahkan dan dibina keislamannya. “Semoga kelak mereka tumbuh menjadi Muslim yang kuat akidah dan keilmuannya,” harap Yuke yang selalu mengulang-ulang hafalan al-Qur’annya.

 

Saat ini, ia juga telah membangun sebuah masjid di lokasi pemulung di Bintaro. Rencananya ia juga ingin membangun masjid di semua titik pemulung yang dijadikan ladang dakwahnya. Ia begitu prihatin dengan kondisi mereka yang tidak memiliki fasilitas ibadah.

 

Selain itu, sejumlah teman lama Yuke di kalangan artis juga banyak yang memerlukan pendampingan, sehingga Yuke setiap pekan juga mengadakan pengajian di kawasan Jalan Panglima Polim Jakarta Selatan. Beberapa artis kini rutin mengikuti pengajian Yuke, misalnya kelompok pengajianya Devi Permatasari dan Renny Jayusman. Beberapa yang sering mengaji di antaranya Dewi Sandra, yang kemudian memutuskan berhijab, juga Ivan Slank. Atas kiprahnya di dunia dakwah, sudah ada beberapa mahasiswa UIN Jakarta meneliti motode dakwah Yuke. Metode yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Dalam mencari data-data yang dibutuhkan, penelitian melakukan wawancara mendalam kepada Yuke Sumeru yang enggan disapa ‘ustadz’ ini.

 

Yuke Sumeru menggunakan metode dakwah dalam Al-Qur’an yaitu; bil hikmah, bil mauidah hasanah dan mujadallah billati hiya ahsan, yaitu dengan diskusi berupa tukar pikiran antara sesama jamaah dan da’i. Kemudian materi yang disampaikan dalam setiap ceramahnya yaitu materi tentang aqidah, syari’at dan akhlak. Selain itu materi yang mempunyai silabus, yang terdiri dari tiga bagian, elemetery, intermediate dan advance. Kemudian dari tiga bagian tersebut, setiap bagiannya terdiri dari 12 pertemuan, jadi jumlah seluruhnya menjadi 36 dari satu silabus tersebut.(ma/bbs)


Back to Top