Risau Ditodong Maut Jadi Jalan Hidayah Sakti Sheila On Seven

Pecinta musik di tanah air  yang masih ingat kehebohan grup band Sheila on 7 (So7) pada tahun 2000-an, tentu tidak melupakan salah satu personel grup itu, Sakti Ari Seno, sang pembetot bass yang tampak paling kalem dari awal kemunculan. Saat ini Sakti menjadi seorang da’i, mendedikasikan sebagian besar waktu, tenaga, fikiran dan hartanya untuk berkhidmat ‘fi sabilillah’. Mendakwahkan perlunya perbaikan iman dan peningkatan amal shaleh, dari masjid ke masjid di tengah masyarakat.

Melihat Sakti hari ini, mengingatkan masa ketika So7 merajai panggung musik tanah air. Sakti bersama empat orang karibnya, Erros, Duta, Adam dan anton, adalah ikon penting musik bagi remaja tahun 2000-an. Dia bergabung dengan So7 pada tahun 1996, menggapai sukses di perjalanan karirnya sebagai musisi, dan akhirnya memutuskan keluar pada tahun 2006 disaat puncak karir dengan alasan yang sungguh luar biasa, yaitu ingin lebih dekat dengan Allah, dan menyebarkan rahmat Allah ke seluruh alam.

Padahal saat itu, di setiap sudut negeri, lagu-lagu Sheila seperti Sephia, Jadikanlah Aku Pacarmu, Dan, Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki, dan masih banyak yang lainnya dinyanyikan di radio-radio, di televisi dan dari panggung-panggung band indie yang ketika itu marak berdiri di kampus-kampus dan sekolahan. Ia tinggalkan semua itu demi ingin utuh dan total dalam membekali diri untuk hari akhir.

Sakti Ari Seno hari ini melahirkan pemandangan kontras karena sebagian besar orang mengenalnya sebagai seorang pemetik gitar. Gayanya di panggung menjadi warna sendiri mendampingi gitar Erros yang atraktif di setiap show SoS. “Saat ini saya tetaplah seniman, dan sesekali masih memegang gitar,” ujar Sakti yang jari-jarinya refleks memperagakan chord-chord gitar di dekat perut seperti memainkan gitar betulan. Setiap profesi adalah sah asal hukumnya halal. ” Artinya berprofesi sebagai seniman, dosen, dokter atau apa saja, selama kita mengetahui betapa pentinya Allah bagi kita, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia di dunia dan akherat. Seperti almarhum Gito Rollies , beliau seniman tapi juga berusaha mengerti  bahwa Allah adalah segalanya dalam dirinya, ” ujar Sakti lagi.

Setelah menyandang nama besar dan dielu-elukan di seluruh penjuru nusantara bahkan manca negara, Sakti memutuskan ikut  kerja usaha Nabi dan mengganti namanya menjadi Salman Sakti al-Jugjawi. Ia menemukan hakikat sesungguhnya muara hidup itu harus dicari dan kepada Allah-lah semua harus diarahkan. Bagaimana ia sampai pada titik mendekati sempurna itu?

 Ditodong Maut

Perasan maut selalu mengintai itu muncul ketika sering terjadi kecelakaan pesawat terbang, bahkan di dekat kediamannya di Yogyakarta. Sakti mulai merenungkan ‘maut’ yang menodong siapa saja, kapan saja, di mana saja. Risau itu terbawa dalam mimpi yang membuatnya mulai sensi akhirat. Suatu hari di Bandara Adisucipto, Yogyakarta (2005), ketika menunggu pesawat yang akan membawanya ke Malaysia untuk menerima penghargaan musik di negeri sebelah itu. Tiba-tiba saja ia ingin masuk ke sebuah toko buku dan penglihatannya mengarah pada sebuah judul, “Menjemput Sakaratul Maut Bersama Rasulullah”.


“Saat itu sedang musim kecelakaan pesawat. Hati jadi tidak menentu, kepikiran bagaimana kalau pesawat yang saya tumpangi jatuh dan saya mati, bagaimana nanti jadinya,” ujarnya mengenang.


Setelah tamat membaca buku itu di perjalanan, sekembalinya ke rumah, ia dihantam perasaan makin trenyuh menyaksikan ibunya sedang sakit lantaran sebelah paru-parunya mengecil. Pikirannya makin lekat pada kematian setelah seorang bibinya yang datang menjenguk membawakan sebuah majalah keagamaan yang juga bicara kematian. Seperti sudah terencana semua, hal yang dirisaukan terus menerus mengikuti, makin banyak dan makin meyakinkan. Rentetan peristiwa itu membuat Sakti merasa diingatkan Allah tentang kematian, hal yang dulu sama sekali tak pernah ia pikirkan.


Setelah merisaukan maut, mengikuti pengajian dan membaca buku,  Sakti seperti baru tersadar bahwa amal di dunia sangat menentukan kebahagiaan hidup setelah mati. Ia memperoleh pengetahuan betapa dahsyatnya kepedihan akherat, dan sebaliknya betapa indahnya kebahagiaan di surga. Semua kabar akhirat itu ada dalam kitab suci al-Quran yang tidak ada keraguan di dalamnya.

“ Bila semua kesengsaraan di dunia ini dikumpulkan apa itu sakit parah, kecelakaan, tangan putus, tsunami dan sebagainya tidak ada artinya jika dibandingkan kesengsaraan di akherat yang paling ringan sekalipun, bagai setitik air di lautan. Begitupun sebaliknya, jika semua kebahagiaan di dunia di kumpulkan tak ada artinya jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang ada di surga Allah,” ujarnya serius.

Sakti kemudian menetapkan diri ikut belajar memperbaiki iman dan amal secara langsung, semacam kuliah kerja nyata (KKN) ke India, Pakistan dan Bangladesh bersama jemaah tabligh. Dengan segala kekuatan hati itu, dapat dipahami mengapa Sakti sampai mau melepaskan posisinya sebagai anggota Sheila on 7, posisi yang diimpikan jutaan anak muda Indonesia. Dapat dimengerti pula mengapa Sakti sampai mau berkeliling dari masjid ke masjid untuk berdakwah. Ia ingin utuh dalam beramal agama.

Selama di Pakistan, ia sempat ditanya seorang sahabat dalam perjalanan, Bagaimana perasaannya jika melihat orang dekat, keluarga, dan lainnya jauh dari agama Allah? Bagimana rasa kasih sayang itu harus diwujudkan dalam konteks ini? Bagimana rahmat bagi seluruh alam yang menjadi merk agama ini dapat kamu perankan. Bagaimana perasaan cinta Nabi kepada Allah yang ditransfer kepada umatnya dapat pula ditransfer kepada orang di sekeliling kita? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi kesan tersendiri di hatinya untuk semakin kukuh di jalan ibadah dan dakwah dan tidak absen mengajak siapa saja.

Seakan tidak ingin berangkat sendiri, ia juga ingin teman-temannya juga mengambil usaha yang sama. “Saat  berdoa, saya selalu menyebut teman-teman agar mereka bisa di dekatkan dengan Allah.  Dulu saya tak tahu dimana harus bersandar bila ada masalah, saya juga tak tahu apa sebenarnya tujuan hidup ini. Tapi setelah diberi kesempatan semakin mengenal Allah, kita sadar bahwa Dia Maha pengasih, Maha Penyayang semua makhluk, Maha penjawab setiap doa, kita jadi tahu bahwa Dialah tempat bersandar yang paling tepat, semua harus diarahkan kepada Allah,” ujarnya pasti.

Ibarat antena televisi, bila benar mengarah ke satelit, maka siaran akan jernih dan sebaliknya. Jika arahnya tak benar maka gambar akan buram. Seperti itu juga kita, apapun kegiatan kita, jika itu sepenuhnya mengarah kepada Allah maka hati kita akan jernih, dan jika sudah berpaling maka hati akan menjadi kotor,” ujarnya lagi. Inilah jalan yang ia tempuh, ibarat naik mobil harus seluruh badan, hati dan fikiran, tidak bisa meninggalkan kaki sebelah, demikian juga dalam beramal agama, harus seutuhnya. Banyak cara Allah turunkan hidayah ke benak hambanya, jika Sakti dengan merisaukan kematian, mungkin yang  berbeda, yang jelas saat merisaukan kehidupan akhirat Sakti diberi hidayah, maka siapa pun dapat mengusahakan hidayah Allah.

Sebagai pemimpin keluarga, Sakti membuka sebuah minimarket dan jasa Laundry. Baginya itu sudah cukup karena dunia bukan tujuan, tetapi sekedar keperluan. Tak ada harapan di hatinya selain berdoa bisa terus lebih dekat dengan-Nya dan jika hati sudah berketetapan, maka Allah akan membantu mewujudkan kebahagian dunia akhirat yang kita cari. Insya Allah. (mm)


Back to Top