Berawal dari Doa Semua Sukses Diraih

Jakarta, (gomuslim). Ia seorang Muallaf. Keinginan pergi ke tanah suci Mekkah seketika menjadi azamnya setelah jadi muslim. Baginya, pergi haji atau umrah ibarat berada di jalan bebas hambatan untuk memanjatkan doa. Bukankah sudah diyakini semua orang, doa yang dipanjatkan di tanah suci terutama di tempat-tempat mustajab akan cepat maqbul(dijawab)? Berkat keyakinan itu pula, di haji pertamanya tahun 2005, ia berdoa, semoga kedua orangtua dibukakan pintu hidayah untuk memeluk Islam. Dan Alhamdulilah, hampir seluruh permintaannya mustajabah (dijawab dan dikabulkan), kecuali ibundanya yang masih non muslim. Sebenarnya semua doa bisa bergitu bernilai di hadapan Allah. Dengan berdoa, seorang anak manusia telah mengakui hakikat kehambaannya di hadapanNya. Yang demikian itu berharga bagi Allah. Sehingga Allah SWT berfirman dalam Al Quran; “Apabila hambaku bertanya kepadamu (Muhammad), maka (jawablah) sesunggunya Aku (Allah) itu dekat.” Tak lain maksud ayat ini ialah agar seorang hamba itu berdoa dan jangan ragu tidak akan terkabul. Apalagi doa yang dipanjatkan itu demi kebaikan orang lain, dan diucapkan di tanah suci. Bukan main maqbulnya, seperti kisah doa seorang Muallaf pakar IT ini.

Pengalaman berdoa di tanah suci entah saat berumrah atau haji mungkin hampir sama dengan pengalaman orang kebanyakan yang pernah ke sana. Tetapi secara pribadi, baginya berdoa di tanah suci memberikan pelajaran dan hikmah yang luar biasa. Jangan pernah ragu, dan jangan pernah merasa bisa melakukan apa yang menjadi isi doa. Begini kisah lebih lanjutnya. Perubahan demi perubahan sejak itu mulai dia alami terutama masalah pekerjaan. Dulunya dia bekerja sebagai kepala IT di salah satu bank di Jakarta. Tetapi karena terlalu banyak godaan di zona kerja yang ia tekuni itu, lalu ia minta kepada Allah untuk dipindah-kerjakan. Dan benar saja Allah langsung mengamini doanya. Di kesempatan berikutnya, masih di tanah suci, saat pergi haji kedua kalinya, ia dapat titipan doa dari ketua RW tempat tinggalnya agar warganya bisa menyusul berangkat ke tanah suci. Barangkali itu sekedar basa-basi seorang tokoh masyarakat. Tetapi ia menanggapinya dengan sungguh-sungguh.

Ia pun mengajukan permohonan agar Allah mengamini permintaan ketua RW itu yang telah jadi isi doanya di tanah suci. Namun, terbersit pertanyaan “memang bisa orang pergi haji tanpa uang?” Jadi, doanya ia tambahi. “Ya Allah.., semoga Engkau memberikan saya kemampuan supaya bisa memberangkatkan mereka pergi haji.” Timbul pertanyaan satu lagi, “memangnya kamu bisa apa?” Dari situ ia tidak bisa menjawab lagi, ia malah menangis sejadi-jadinya. Yang ia mampu hanya bisa berkata dalam hati, “Ya Allah saya bukan siapa-siapa, saya tidak bisa apa-apa, hanya Engkau yang bisa menjadikan semua ini.” Namun apa yang terjadi? Rupanya sejak ia keluar kerja dan membuka usaha baru, sedikit demi sedikit perusahaan yang ia dirikan berkembang pesat. Kini sudah skala nasional. Ia bisa membantu memberangkatkan beberapa warga di sekitar tempat tinggal dan para karyawannya ke tanah suci. ‘Allah itu dekat’ itu pasti! Allah itu Mendengar, jawabannya adalah iya. Seorang muslim jangan ragu dengan kehebatan berdoa. “Addu’a Shilahul Mu’min,”(doa adalah senjata seorang mukmin) kata sebuah hadis. Dari kisah doa, Ateng Kusnadi, pemilik Ahad Net Internasional ini, kita bisa mengambil banyak i’tibar (pelajaran & hikmah) yang luar biasa. (boz)


Back to Top